Bisnis
·
16 November 2020 10:29

Curiga Kepada yang Kaya

Konten ini diproduksi oleh Yusuf Arifin
Curiga Kepada yang Kaya (84716)
Ilustrator: Indra Fauzi/kumparan
Entah kapan dan siapa yang mengeluarkan kalimat-kalimat: "Uang bukan segalanya", "uang tidak bisa membeli kebahagiaan", "uang bukan ukuran kesuksesan hidup", "uang tidak dibawa mati", atau yang bermakna serupa. Mendudukkan kepemilikan uang di sebuah ambiguitas moral, antara dikejar tetapi juga dinomor-sekiankan.
ADVERTISEMENT
Bisa jadi merupakan perasan pengalaman hidup manusia semenjak konsep uang untuk salah satunya mengkuantifikasi kepemilikan/kekayaan dipakai.
Terlihat bijak, manis, dan masuk akal. Toh banyak cerita, dongeng, juga pengalaman kehidupan (mungkin di sekitar kita) yang mengkonfirmasinya.
Kaya raya tetapi hidup dirundung gelisah; kaya raya tetapi keluarga berantakan; kaya raya tetapi dibenci sekitarnya; kaya raya tetapi tidak mengenal kata cukup; kaya raya tetapi tidak mempunyai pegangan hidup; kaya raya tetapi hidupnya sakit-sakitan; dan lain-lain yang semacam.
Namun kita tahu itu hanya separuh cerita. Dalam realita konfirmasi cerita itu mudah dibantah. Tak kurang mereka yang kaya raya hidupnya bahagia, dicintai sesama, sehat wal afiat, keluarga harmonis, dan tak pernah kehilangan pemahaman akan yang penting dalam kehidupan.
ADVERTISEMENT
Realita juga mengajari menjadi kaya memungkinkan kita untuk menciptakan sekat-aman dari persoalan sehari-hari seperti memperbaiki rumah, makan, biaya sekolah anak hingga ke persoalan serius seperti terkena sakit kanker misalnya.
Saya mengerti permisalan terkena kanker—maupun hal-hal yang ekstrem sifatnya—akan dibantah dengan pernyataan bahwa yang miskin dan kaya ketika terkena kanker akan sama saja. Terminal sifatnya.
Tetapi dengan cukup uang—walau kita tidak bisa keluar dari situasi yang terminal—jelas kita bisa "membeli" penanganan dan perawatan yang berbeda.
Permisalan terkena kanker ini terasa kebenarannya di saat seperti sekarang ketika kita menghadapi pandemi Corona.
Kalau anda kaya, kemungkinan besar anda akan bisa menciptakan sekat-aman untuk menghadapinya. Menormalkan jalannya hidup nyaris tanpa risiko.
Anda bisa melakukan cek swab kapan mau—kalau perlu mengundang petugas kesehatan ke rumah—dan menjalani segala protokol kesehatan tanpa berpikir tentang biaya. Anda tidak perlu repot berpikir tentang harus bekerja untuk membiayai hidup.
ADVERTISEMENT
Anda bisa mengasingkan diri di rumah—atau kalau anda super kaya mengasingkan diri sejauh mungkin dari manusia lain—dengan segala kebutuhan hidup tetap tersedia.
Kalaupun anda sial terkena, kemungkinan akan bisa ditangani dengan cepat dan fasilitas utama, dengan probabilitas kesembuhan yang tinggi.
Bilapun nanti obat dan vaksin diketemukan, kemungkinan anda-anda pulalah yang akan pertama mempunyai akses karena uang anda.
Seberapa banyak uang yang kita punya akan ikut menentukan tingkat keselamatan menghadapi pandemi ini. Susunannya mempiramid dengan semakin ke bawah semakin miskin orangnya, semakin banyak jumlahnya, dan semakin rentan sekat-amannya.
Kalau di puncak piramid orang bisa menormalkan jalannya hidup nyaris tanpa risiko, di paling bawah tak ada kenormalan dan semua praktis penuh risiko.
ADVERTISEMENT
Bagaimana mau menciptakan sekat-aman dari pandemi ketika memenuhi sekat-aman untuk kehidupan sehari-hari saja mereka kesulitan.
Di masa depan saya yakin akan ada pandemi lain, juga persoalan-persoalan ekologi seperti pemanasan global, atau krisis-krisis besar lain. Saya kira pola masih tak akan berubah, siapapun yang berada di puncak piramid mempunyai probabilitas untuk selamat yang tinggi. Semakin ke bawah semakin kecil probabilitasnya.
Karena hal-hal semacam ini sangat sulit bagi saya untuk menghilangkan sikap sinis atas kalimat-kalimat yang mendudukkan kepemilikan uang di sebuah ambiguitas moral. Sebijak dan semanis apapun sepertinya.
Saya selalu menyimpan kecurigaan kalimat-kalimat itu dikeluarkan oleh mereka yang sesungguhnya berdompet (super) tebal.
Tidak mungkin bukan kalau itu dikeluarkan oleh mereka yang tidak pernah punya uang banyak. Bagaimana mereka tahu bahwa uang bukan segalanya kalau mereka sendiri tidak pernah memilikinya.
ADVERTISEMENT
Saya berprasangka buruk itu semua hanyalah sebuah tipuan (rahasia) oleh mereka-mereka yang super kaya untuk sebuah alasan yang orang-orang miskin tidak tahu.
Saya termasuk orang yang tidak tahu itu.
Curiga Kepada yang Kaya (84717)
Ilustrator: Indra Fauzi/kumparan