Opini & Cerita16 Desember 2019 10:59

Greta Thunberg

Konten kiriman user
Greta Thunberg (917566)
Ilustrasi Greta Thunberg oleh Indra Fauzi/kumparan
Di sebuah kelas sekolah dasar di Stockholm, Swedia, sang guru memutar sebuah video tentang dampak dari pemanasan global: cuaca yang tak menentu, banjir, kekeringan, mencairnya salju kutub utara dan selatan, dan bencana di mana-mana.
ADVERTISEMENT
Anak-anak yang rata-rata berusia delapan tahun di kelas itu tercekat. Kaget. Takut. Imajinasi mereka akan masa depan sesaat menjadi kelam. Bumi layu ditelan pemanasan global.
Tetapi pelan-pelan kekagetan, ketakutan, dan imajinasi akan masa depan bumi yang kelam itu luntur dalam hitungan hari. Mereka kembali menjadi anak-anak. Kecuali Greta Thunberg.
Greta tak mengerti, kalau ancaman begitu nyata dan manusia tahu penyebabnya, mengapa dunia bergerak seolah tidak ada apa-apa.
"Kita tidak bisa menjalani kehidupan seolah hari esok tidak ada, karena hari esok itu nyata adanya."
Memikirkan itu ia menjadi depresi, merasa terasing sendirian, dan bingung. Jiwanya matang terlalu cepat untuk seorang anak-anak. Atau jiwa kita yang dewasa yang kekanak-kanakan dan tak pernah bisa berpikir akan hari esok kecuali bermain-main. Ini membuat Greta tidak tahu kepada siapa hendak mengadu.
ADVERTISEMENT
Hampir tujuh tahun Greta limbung. Ia menuliskan kekhawatirannya, ketakutannya, dan depresinya di Tembok Ratapan media sosial, media, esai tugas sekolahnya, atau kepada siapa saja yang mau mendengarnya.
Pada tanggal 20 Agustus 2018, tanpa ditemani siapa pun dan tanpa meminta bantuan siapa pun, ia memutuskan untuk protes sendirian di depan Gedung Parlemen Swedia. Memprotes kebijakan politik pemerintah yang dianggapnya tak mengindahkan masa depan bumi. Tiap hari ia kesana.
Ia bolos sekolah. Mogok sekolah. Skolstrejk för klimatet, tulisnya di board yang ia bawa dalam protes tunggalnya. Menomorduakan segalanya termasuk masa depannya demi memprotes pemanasan global.
"Karena kalian orang dewasa tak mempedulikan masa depan saya, saya juga tak akan peduli," protesnya seperti tertulis di pamflet-pamflet yang ia bagikan. Masa depan yang pertama adalah masa depan bumi, sementara masa depan yang kedua adalah masa depan pribadi Greta dengan ia memutuskan untuk bolos sekolah.
ADVERTISEMENT
Kalau konsep masa depan adalah satu-satunya yang bisa dimiliki seorang bocah, maka ia korbankan itu untuk masa depan bumi. Kesadaran Greta untuk mengorbankan masa depan pribadi demi masa depan bumi adalah pengorbanan puncak dari seorang bocah (remaja).
Greta tak punya apa-apa lagi. Dan, "When you got nothing, you got nothing to lose—Ketika anda tidak punya apa-apa, anda tak akan bisa kehilangan apapun juga," kata Bob Dylan.
Pada posisi got nothing to lose si individu akan ringan hati melakukan apapun juga dan rupanya manusia lain menjadi lebih mudah menerima perjuangan karena tidak melihat ada sesuatu untuk dibarter-kepentingankan oleh yang bersangkutan. Protes tunggal Thunberg menjadi berkah terselubung: Meneguhkan kepapaan Thunberg dan menunjukkan kemurnian protes Thunberg.
ADVERTISEMENT
Protes tunggal itu perlahan mendapat dukungan belasan, puluhan, ribuan, dan kemudian jutaan manusia. Awalnya berjejaring hanya di Swedia menjadi internasional. Memberi inspirasi anak-anak hingga mereka yang tua renta. Membangkitkan protes di mana-mana. Memaksa para pemimpin dunia untuk berpikir (sebentar).
Tanpa kegenitan, tanpa sindrom primadona, tanpa berpretensi sebagai aktivis, Greta telah menjadi ikon sebuah gerakan.
Mungkin pada akhirnya pengorbanan yang ia berikan nantinya tak akan cukup untuk menyelamatkan bumi ini. Tapi pada satu titik, ia sempat mengobarkan sebuah harapan. Dan itu berlipat-lipat lebih baik dari kita penduduk bumi kebanyakan yang tak berbuat apa-apa.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tim Editor
drop-down
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white