kumparan
News18 Mei 2020 20:46

Indonesia Terserah Inc.

Konten kiriman user
Untitled Image
Ilustrator: Indra Fauzi/kumparan
Mengikuti apa maunya pemerintah Indonesia saat mengatasi pandemi corona itu kadang-kadang melelahkan, bikin frustrasi, menjengkelkan, tetapi sering lucu dan menghibur.
ADVERTISEMENT
Kita semua pasti ingat sewaktu di awal sekali, ketika para ilmuwan kesehatan dunia masih mencoba meraba-raba "binatang" apa sebenarnya corona ini, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dengan yakin sekali dan dengan nada mengentengkan menyamakan corona dengan flu biasa saja.
Tak kalah yakinnya, juga tanpa ada bukti ilmiah, ia membuat pernyataan virus corona tak akan mampu bertahan di iklim tropis.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian tentu saja tak ada wewenang untuk berbicara tentang persoalan kesehatan. Tetapi tak menghentikannya untuk membuat pernyataan jenius agar rakyat banyak mengkonsumsi taoge dan brokoli. Entah apa hubungannya taoge dan brokoli dengan corona.
Atau pernyataan sedikit di bawah jenius, minum jamu. Tak kurang, Presiden Joko Widodo yang mengeluarkan pernyataan itu.
ADVERTISEMENT
Kita tahu, mengikuti apa yang dikatakan oleh para pejabat negara itu sia-sia belaka. Seperti tamu tak diundang, corona tetap menyelinap masuk semau mereka.
Mau menganggap corona seperti flu biasa yang tak mampu bertahan di iklim tropis, mau mengkonsumsi taoge dan brokoli hingga keduanya menjadi makanan pokok, mau minum jamu sampai kembung, corona santai saja menyebar.
Awalnya satu orang tertular. Lalu dua. Lalu tiga. Lalu seperti beranak-pinak. Lalu seperti sekarang dan kita belum bisa melihat ujungnya.
Celaka kita. Walau setidaknya bisa sambil tertawa setiap kali mengingat-ingat pernyataan-pernyataan ajaib dari petinggi negara.
Dan kita terus tertawa seiring semakin dalam kita terperosok dalam realita pandemi corona. Kita seperti menonton comedy of ineptitude (komedi ketidak-becusan) tetapi kitanya yang menjadi korban.
ADVERTISEMENT
Kita ingat, dibutuhkan waktu yang lama sekali—untuk ukuran keadaan darurat—bagi pemerintah untuk mengambil langkah penanggulangan. Ketika akhirnya diputuskan, bukannya memberi jalan keluar yang cepat tetapi malah seperti sebaliknya.
Untuk alasan yang hanya pemerintah yang tahu—enggan menyebut kebijakannya lockdown, enggan pula menyebut kebijakannya karantina—mereka mengambil istilah kompromi yang perdefinisi sulit dimengerti sebetulnya: Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Tahu sendiri akibatnya, karena perdefinisi sulit dimengerti, terjadi kebingungan dalam penerapannya. Bukannya memudahkan pemerintah pusat dan daerah untuk bisa saling berkoordinasi dalam penerapannya, malah keduanya kemudian saling bersitegang. Dan sementara mengurai sitegang dilakukan—dan sampai sekarang sitegang itu tak jelas sudah mengendor atau belum—virus corona melenggang menyebar tak menunggu.
Pemerintah mengeluarkan larangan mudik lebaran sebagai konsekuensi PSBB. Sampai-sampai dilakukan pemeriksaan kendaraan antardaerah untuk mencegah orang semaunya bepergian. Tapi belakangan ada kebijakan untuk memperbolehkan orang bepergian selama memegang surat sehat untuk baik yang keluar dari satu daerah ataupun hendak masuk ke daerah lain. Ditambah moda transportasi antar kota dilonggarkan kembali untuk mengakomodasinya. Lah kok tidak konsisten seperti ini?
ADVERTISEMENT
Pemerintah berjanji untuk mempercepat dan memperbanyak pengetesan virus corona. Ini untuk menjawab kritik yang menganggap pemerintah lamban dan tidak transparannya dalam melakukan tindak pengetesan. Tetapi belum lama ini beredar surat yang menyebutkan adanya libur menyambut Idul Fitri di laboratorium yang meneliti sampel pengetesan virus corona. Lagi-lagi, lha kok tidak konsisten ini?
Mungkin bosan tertawa belakangan muncul gerakan sebagian rakyat Indonesia dengan tagar (#) Indonesiaterserah. Mereka sudah tidak peduli dengan apa yang dilakukan pemerintah Indonesia. Toh setiap kali pemerintah mengambil kebijakan, mereka sendiri pula yang kemudian melanggarnya atau menggerogoti kewibawaannya. Sekali dua itu lucu. Lama-lama tak lagi.
Atau mungkin mereka sebenarnya kalangan yang putus asa.
Putus asa tidaklah datang seketika. Ia buah bukan benih. Ia pelan-pelan hadir menggantikan harapan demi harapan yang terus menerus terhempas. Ia kulminasi dari kekecewaan demi kekecewaan yang (terkadang sangat) panjang. Ia sebuah situasi ketika kemungkinan-kemungkinan lain seperti sudah tertutup.
ADVERTISEMENT
Kata terserah adalah ekspresi mulanya. Kalau gerakan itu membesar dan mempunyai tenaga, ah terserahlah……..
opini_masdalipin_terserah_16x9.jpg
Ilustrator: Indra Fauzi/kumparan
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan