Opini & Cerita
·
2 Maret 2020 9:45

Pemimpin

Konten ini diproduksi oleh Yusuf Arifin
Pemimpin (9956)
Ilustrasi oleh Indra Fauzi/kumparan.
Dua minggu setelah virus corona diyakini menyebar keluar Cina dan sampai ke Singapura, Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, berpidato.
Menjelaskan apa itu virus corona dan situasi yang dihadapi Singapura, kesiapan pemerintah Singapura untuk menanggulanginya, dan langkah-langkah yang sudah-sedang-akan dilakukan oleh pemerintah Singapura.
Ada kejelasan (clarity) dalam pidato itu. Bahasanya mudah dimengerti. Kurang dari sembilan menit sehingga tak perlu lama untuk mencernanya.
Tegas dan menyakinkan (decisiveness). Ada train of thought—urut-urutan berpikir—yang beralasan dan masuk akal. Sehingga langkah-langkah darurat seberat apa pun yang diambil kemudian, kalau pun itu membatasi kebebasan dan kenyamanan warganya, tidak bisa dibantah.
Ada keberanian (courage) untuk mengakui bahwa situasinya sulit dan kemungkinan bahwa virus corona telah menyebar. Pidato disampaikan agar semua orang mengerti situasi yang dihadapi bersama. Bukan untuk memberi ketentraman semu dan bukan pula untuk menimbulkan kepanikan yang tak perlu.
Pidato itu memancarkan kesungguhan hati (passion) dan bukan pencitraan. Segala sesuatu yang disampaikan pertimbangan utamanya untuk kemaslahatan umum.
Ada kerendahan hati (humility) untuk mengakui berhasil tidaknya yang dilakukan oleh pemerintah Singapura, sehebat apa pun, tergantung dengan kerja sama warganya. Hanya Singapura yang bersatu—siapa pun dan apa pun pekerjaannya—akan bisa mengatasi persoalan seperti virus corona ini, simpulan penutup pidato Lee Hsien Loong.
Lee memang menujukkan pidatonya untuk rakyat Singapura. Tetapi the unintended consequences—konsekuensi yang tak terduga-tak disengaja—atau mungkin sebenarnya diam-diam dirancang secara sengaja oleh pemerintah Singapura adalah pesan yang disampaikan memberi keyakinan kepada warganya sendiri dan negara lain bahwa pemerintah Singapura memegang kendali situasi yang terjadi (in control of the situation).
Pemerintah negara lain bisa tahu persis posisi dan kondisi Singapura terkait virus corona. Memudahkan negara lain bersikap dan bertindak terhadap Singapura semasa krisis virus corona berlangsung. Mengurangi komplikasi ketika misalnya harus berbicara soal keberlangsungan kerja sama perdagangan dan pergerakan manusia antarnegara.
Saya yakin seyakin-yakinnya Indonesia juga melakukan upaya yang terorkestrasi untuk menanggulangi kemungkinan epidemi virus corona ini. Setahu saya berulangkali istana melakukan rapat terbatas membahas virus corona ini.
Tetapi sepertinya rakyat tidak ada yang pernah tahu orkestrasi penanggulangan yang dilakukan itu seperti apa. Tidak ada dari mereka yang dianggap sebagai yang berwenang atau pemimpin duduk menjelaskan kepada rakyat langkah-langkah logis yang sudah-sedang-akan dilakukan pemerintah seperti apa.
Masing-masing mereka yang terlibat dalam pengambilan kebijakan saling mengeluarkan pernyataan yang bukan hanya tidak mencerminkan kesatuan tetapi beberapa malah berlawanan. Bahkan ada yang tidak logis, salah prioritas, dan terkesan mengentengkan.
Kesannya pemerintah seperti tidak paham akan urgensi persoalan dan karenanya tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Tidak bisa disalahkan kalau rakyat seperti menjalani keseharian dalam paradoks, menyimpan ketakutan akan virus corona tetapi menjalani hidup seolah tak ada apa-apa. Dihantui kekhawatiran epidemi meledak, bertanya-tanya bisakah Indonesia mengatasinya, tetapi melenggang seolah segala sesuatunya pasti baik-baik saja.
Tidak bisa disalahkan, kalau ada pemerintah negara lain—uninteded consequences dari kesan ketidakjelasan langkah pemerintah Indonesia—yang mempertanyakan kondisi sesungguhnya di Indonesia. Ada yang kemudian mengambil langkah sepihak seperti pelarangan perjalanan ibadah umrah yang dilakukan pemerintah Arab Saudi.
Lain lubuk lain ikan, lain padang lain ilalang, lain ladang lain belalang; kalau kata peribahasa. Indonesia berbeda dengan Singapura, berbeda pula dengan negara-negara lain. Semua punya cara sendiri-sendiri dan berbeda-beda dalam menyikapi persoalan.
Hanya saja saya tidak tahu apakah peribahasa itu dikenakan untuk persoalan kepemimpinan.
Karena selamanya pemimpin di seluruh dunia itu didefinisikan citranya secara universal hanya oleh dua hal: Kemampuan untuk membawa yang mereka pimpin keluar atau tenggelam dari tantangan (krisis) yang ada. Dan citra itu akan menempel selamanya.
Abraham Lincoln akan selalu diasosiasikan dengan penghapusan perbudakan, mencegah perpecahan Amerika, dan merumuskan nasionalisme Amerika.
Franklin Delano Roosevelt sebagai sosok yang menyelamatkan Amerika dari depresi ekonomi dahsyat yang meluluhlantakkan negeri itu di tahun 1930-an.
Winston Churchill akan diingat sebagai pemimpin yang menyelamatkan Inggris dari ketamakan kekuasaan Adolf Hitler.
Beberapa contoh yang terlintas begitu saja di kepala. Banyak lagi contoh lainnya.
Kita semua tahu, krisis itu bisa menjadi bencana. Tetapi krisis juga sebuah kesempatan bagi seorang pemimpin untuk membuktikan kualitas dirinya.
Pemimpin (9957)
Ilustrasi: Indra Fauzi/kumparan