Kumparan Logo
Pendidikan (artikel Dalipin)
Pendidikan.

Pendidikan

Yusuf Arifin

Yusuf Arifinverified-green

tidak tertarik dengan banyak hal. insecure one trick pony.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi oleh Indra kumparan.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi oleh Indra kumparan.

Pada awalnya sungguh sederhana. Kalau anda ingin menjadi pemburu, maka anda magang pada pemburu. Kalau anda ingin menjadi petani, maka anda magang pada petani. Kalau anda ingin menjadi pande besi, maka anda magang pada pande besi. Kalau anda ingin menjadi filosof, maka bergurulah pada filosof.

Modelnya one on one atau setidaknya pemagang/murid tidak dalam jumlah banyak. Hubungan antara si sumber ilmu dan pencari ilmu juga lebih berdasar pada kekeluargaan/persahabatan/kepercayaan. Bukan profesional guru-murid.

Demikianlah awal mula pendidikan. Sebuah upaya untuk mempersiapkan satu individu agar bisa menengarai kehidupan dan bertahan hidup.

Prinsip itu dalam batas tertentu hingga kini masih menempel dalam pengadaan pendidikan. Manusia belajar ilmu tertentu agar ia bisa berfungsi sesuai bidang keilmuannya agar kehidupan kolektif (masyarakat) tetap bisa berjalan. Pendeknya menjadi sekrup dari sebuah mesin besar.

Manusia mencoba menformalkan pendidikan—seperti yang kita lihat kelanjutannya hingga saat ini—lewat lembaga sekolah, penjenjangan, dan sertifikasi. Agar pendidikan bisa dilakukan secara massal. Agar adil bisa diakses semua orang. Agar mudah memantau output-nya. Agar mudah menyalurkan mereka ke kehidupan nyata. Agar mudah memilah mana yang berpotensi menjadi pimpinan dan prajurit belaka.

Tetapi dengan jumlah manusia yang makin banyak, kehidupan yang makin rumit, modal sosial yang tak selalu setara, rentang kait kehidupan ekonomi yang tidak lagi endemik, ragam profesi yang kemunculan maupun kematiannya bisa terjadi dalam sekerjapan mata, ketersediaan tempat kerja yang terbatas, akan selalu ada output pendidikan yang terseok atau lebih celaka lagi tersingkir.

Kenyataan ini menimbulkan kekhawatiran para orang tua. Bagaimana memastikan anak mereka tidak termasuk yang terseok atau tersingkir bahkan setelah menempuh pendidikan formal?

Salah satu jalan pintasnya adalah memastikan anak mendapatkan pendidikan formal terbaik yang tersedia. Memasukkan anak ke sekolah yang dianggap terbaik. Apa pun atau berapa pun upaya yang diminta.

Jangan bertanya soal salah-benar atau tepat-tidak tepat. Ini persoalan keyakinan orang tua untuk membantu meretas masa depan sang anak. Ini persoalan memberi bekal terbaik menghadapi masa depan untuk anak mereka.

Saya sendiri, dan juga adik-adik saya, tidak pernah bersekolah di tempat yang dianggap terbaik, kecuali mungkin di jenjang universitas. Orang tua saya selalu mengatakan, "Sekolah di mana saja kalau kamu pinter ya tetap saja kamu pinter."

Dan terbukti sejauh ini hidup saya dan adik-adik saya baik-baik saja. Baik-baik dalam pengertian bisa survive sewajarnya. Tempat bersekolah yang tidak istimewa itu ternyata tidak terlalu berpengaruh.

Tetapi kami sangat beruntung. Di rumah kami menerima pendidikan yang sangat ketat. Baik untuk persoalan kehidupan, budi pekerti, agama, bahkan sedikit-sedikit pelajaran formal seperti di sekolahan. Bekal hidup yang tidak kunjung habis saya panen hingga kini.

Saya baru bisa mengerti, bersyukur, dan mengapresiasi apa yang dilakukan kedua orang tua saya ketika kemudian beranak-pinak sendiri. Mengambil keputusan apa pun terkait pendidikan anak ternyata membutuhkan komitmen dan konsekuensi yang berbeda-beda. Dan selalu meninggalkan sejumput kekhawatiran apakah kita mengambil keputusan yang tepat.

Ketika kami—saya dan ibunya anak—harus menentukan tempat anak bersekolah, kami mengambil langkah yang berbeda sama sekali dengan yang ditempuh orang tua saya. Kami tak cukup berani. Kami hanya orang tua pada umumnya. Kami mengirim anak semata wayang ke sekolah terfavorit yang bisa ia masuki sejak pendidikan dasar hingga universitas.

Sudah selesai ia sekarang. Di usia yang sangat muda ia bekerja di bidang yang sangat disukainya—walau tidak tepat-tepat amat dengan ilmunya—, mapan, dan sepertinya masa depan sudah terbentang untuk diarungi. Melegakan. Tetapi tetap saja kekhawatiran itu ternyata tak sepenuhnya hilang.

Ini membuat saya bertanya-tanya. Jangan-jangan kekhawatiran para orang tua—termasuk saya—atas kualitas pendidikan formal yang diterima anak itu berlebihan. Atau kekhawatiran itu tidak tepat sasaran. Atau sebenarnya pendidikan formal itu overrated.

embed from external kumparan