Dalipin - Peta dan Perempuan

Perempuan dan Persoalan Membaca Peta

tidak tertarik dengan banyak hal. insecure one trick pony.
27 Mei 2022 11:47
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Saya tak habis pikir dengan pernyataan yang diterima dengan senang hati oleh semua orang, bahkan nyaris menjadi semacam aksioma: laki-laki lebih bisa membaca peta ketimbang perempuan (atau yang ekstrem, laki-laki bisa membaca peta dan perempuan tidak). Pernyataan itu sesungguhnya sebuah takhayul—semacam pernyataan membaca dengan tiduran akan membuat mata menjadi rabun dekat, karena di samping tidak benar, tidak ada penjelasan ilmiah yang bisa diterima akal. Sudah begitu, dari sisi semantik sangat sinis dan sadis.
Anda tahu, pernyataan itu merendahkan dan melecehkan perempuan dalam hal pemahaman spasial, kemampuan berabstraksi, dan kecerdasan mengaitkan antara yang abstrak dan yang wadak (obyek dan ruang) untuk menjadi sesuatu yang sistemik dan konseptual. Karena (membaca) peta adalah persoalan itu.
Ketiganya, setidaknya menurut Ernst Cassirer, adalah ciri manusia modern yang membedakan mereka dengan binatang maupun manusia-manusia sebelumnya. Menyebut perempuan tidak bisa membaca peta sama saja mengatakan sesungguhnya perempuan belumlah jadi manusia (modern) seutuhnya.
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparanplus
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparanplus
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
Kendala berlangganan hubungi [email protected] atau whatsapp +6281295655814
Konten Premium kumparanplus
Sejarah, dan Borobudur adalah monumen kesejarahan, di antara lainnya, memberi rasa nyaman akan ketersinambungan eksistensi kita dengan masa lalu. Kolom Yusuf "Dalipin" Arifin, terbit tiap Jumat.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten