Kumplus- Cover story opini Yusuf Arifin
21 Juni 2021 7:26
·
waktu baca 4 menit

Rumah

“Betapa mengerikan kalau sampai tak memiliki rumah sendiri: nantinya mati sebagai bagian dari keluarga Tulsi, berkubang dalam kemelaratan keluarga besar yang abai dan tak akur; membiarkan Shama dan anak-anak hidup di antara mereka, berimpitan dalam satu kamar; dan yang lebih buruk lagi: menjalani hidup tanpa sekali pun berusaha memiliki sepetak saja dari bumi ini yang bisa kausebut milikmu; hidup dan kemudian mati seperti saat dilahirkan, tak berguna dan tak perlu ruang.”
Biswas, tokoh utama dalam novel A House for Mr. Biswas karangan V.S Naipul, geram dengan apa yang ia nilai sebagai kesialan. Terjerembab dalam perkawinan yang tak bahagia; terjebak untuk terpaksa hidup sebagai sub-ordinat di rumah mertua—keluarga Tulsi yang dominan.
Ia juga miskin, tidak terpelajar, dan—berdasar kepercayaan—dikutuk bernasib buruk sepanjang hidupnya karena lahir sungsang dan salah satu tangannya berjari enam.
Keuntungan berlangganan kumparan+
  • Ratusan konten premium dari pakar dan kreator terbaik Indonesia
  • Bahasan mendalam dengan kemasan memikat
  • Pengetahuan, hiburan, dan panduan yang solutif untuk hidupmu
Sapiens, juga buku-buku generalis lain yang coba jadi Theory of Everything, punya beberapa kecenderungan menonjol. Salah satunya adalah mengeliminasi fakta pengetahuan yang dianggap tak sejalan. Opini Yusuf Arifin di #kumparanplus. Terbit tiap Senin.