Berserah Diri dan Pasrah, Apa Bedanya?

Pendiri Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran

Sabar dan tawakal alias berserah diri kepada Allah, bukan lantas semata-mata hanya diam menerima segala ketentuan Allah.
“Innallaha laa yughayyiru maa biqaumin hatta yughayyiruu maa bi anfusihim.” Q.S. Ar-Ra’du ayat 11.
Artinya, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada mereka sendiri.
Jadi, sebetulnya apa makna berserah diri kepada Allah?
Berserah diri, pasrah, atas apa yang telah menjadi ketentuan Allah, namun disertai dengan segala daya dan upaya. Daya dan upaya ini maksudnya adalah ikhtiar. Jadi, yang namanya tawakal itu bukan semata-mata diam. Pasrah atas apa yang Allah berikan dan tidak melakukan apa pun. Sebab saat kita diberi ujian, Allah mau lihat seberapa besar ikhtiar kita dalam menghadapi ujian itu.
Sama halnya dengan guru yang memberikan soal ujian untuk anak muridnya, tidak lain tujuannya adalah ingin melihat seberapa besar pemahaman murid atas pelajaran tersebut.
Orang yang tawakal, sudah pasti akan bersyukur jika mendapati keberhasilan atas usahanya. Sebab, dia menyadari bahwa segala keberhasilan yang diterimanya adalah kehendak Allah.
Sementara, bagaimana jika dia mengalami kegagalan?
Orang yang tawakal, akan menerima dengan ikhlas kegagalan tersebut. Tanpa setitik pun rasa putus asa, kecewa, dan larut dalam kesedihan. Sebab, dia menyadari bahwa segala keputusan Allah adalah yang terbaik untuknya.
Lalu, apa bedanya berserah diri dengan pasrah?
Orang yang pasrah hanya akan diam, menunggu ketentuan Allah tanpa melakukan apa pun. Tanpa berdoa, tanpa berusaha.

