kumparan
31 Oktober 2019 10:50

Jangan Lengah, Jaga Anak Keturunan Kita

Cover-Yusuf Mansur
Yusuf Mansur. Foto: kumparan
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ketika kita punya keturunan, kita mesti tahu anak kita ini dari mana, dari siapa. Keturunan kita adalah amanah dari Allah SWT, seperti seseorang yang dibiayai kuliah, yang diberikan pekerjaan.
ADVERTISEMENT
Ketika kemudian yang diberikan kuliah, yang diberikan pekerjaan, atau yang diberikan modal usaha, diberikan jalan rezeki oleh seseorang fulan, fulan, fulan, si A, si B, si C.
Kemudian orang ini berumah tangga, punya keturunan, maka dia ingin memperkenalkan keturunannya kepada orang yang sudah berjasa kepada Bapak-nya itu, kepada dia sebagai Bapak-nya itu, kira-kira seperti itu kan.
Maka dikatakan lah pada anaknya, "Nak, kita main, yuk!-misalkan-ke Pak Muklis, beliau dulu tuh yang merawat Ayah, Nak, beliau itu yang mengkuliahkan Ayah, Nak, beliau yang kemudian menikahkan Ayah, Nak."
Atau Ibunya barang kali berkata kepada putrinya, kepada putranya, “Kita main Yuk, ke Mbah Karsa, si Mbah itu lah yang takdirnya, yang menjadi kamu ada, Nak. Kita berkenalan kepada Mbah Karsa mumpung masih hidup, kita ke rumahnya."
ADVERTISEMENT
Kita ajak kemudian anak, istri kita ajak makan malam di rumah bos, supaya istri kita mengenal bos, dan bos mengenal istri kita. Supaya anak keturunan kita mengenal pimpinan kita, supaya pimpinan kita mengenal anak kita dan keluarga kita. Kita bawa mereka kepada orang yang berjasa kepada kita, agar saling mengenal.
Ilustrasi lansia, kakek dan cucu.
Ilustrasi lansia, kakek dan cucu. Foto: Shutterstock
Nah, diurusan anak keturunan di episode kali ini, berbicara tentang masjid. Kita mesti tau kita berkeluarga sebab siapa? Sebab Allah SWT.
Pertanyaannya, kenapa kita tidak membawa keluarga kita ke masjid? Seperti, kita membawa keluarga kita kepada orang yang kita anggap berjasa diurusan uang, pekerjaan, pendidikan, kuliah, pernikahan.
Kita bawa keluarga kita ke masjid, di bulan suci Ramadhan kita keliling masjid kanan, kiri, depan, belakang, tetangga kanan, tetangga kampung kiri, ke kota kanan, ke kota kiri, ke masjid yang berganti-ganti.
ADVERTISEMENT
Di luar bulan suci Ramadhan kita pun juga kemudian membawa keluarga kita ke masjid sana, masjid sini, masjid A, masjid B, masjid C, masjid D. Seperti kita mengenalkan kita punya keluarga kepada orang-orang yang sudah berjasa kepada kita, seperti itu kita membawa keluarga kita kepada Allah SWT, kita bawa ke masjidnya, agar keluarga kita mengenal masjid, dan masjid mengenal keluarga kita, keluarga kita mengenal Allah, Allah kemudian mengenali juga keluarga kita.
Maaf ya, laaisya kamisyi syai’un tentu Allah tidak seperti bayangan kita, tebakan kita, dugaan kita. Allah pasti mengenal keluarga kita, tapi kalau kemudian kita jarang membawa keluarga kita kepada Allah dalam tanda petik, 'Allah tidak mengenali'. Jangan sampai di dunia gak dikenali, apalagi nanti di akhirat sampai gak dikenali sama Allah SWT. Woah, repot.
Masjid Kowloon dan Islamic Center di Hong Kong Tsim Sha Tsui, China
Suasana di luar Masjid Kowloon dan Islamic Center di Hong Kong Tsim Sha Tsui, China, Senin (21/10/2019). Foto: REUTERS/Ammar Awad
Pembaca yang dirahmati Allah, kita punya anak keturunan pun kita menyadari, bahwa anak keturunan kita dari Allah SWT, tidak semua keluarga dikasih anak keturunan, dikasih amanah, dipercaya oleh Allah diberikan rahmat karunia pada yang belum anak keturunan.
ADVERTISEMENT
Saya berdoa kepada Allah SWT agar Allah mengganti dengan yang lebih baik, Allah kemudian berikan kesempatan punya anak keturunan, Amiin ya Rabbal alamin. Jangan putus asa, insya Allah, terus berdoa kepada Allah, terus bersedekah yang terbaik agar Allah berikan anak keturunan kepada Ibu dan Bapak semua.
Tapi, buat yang sudah memiliki anak keturunan, kelewatan dia kalau tidak membawa anak-anaknya ke masjid, "Nak, ini masjid di sini ada Allah SWT, Allah lah yang menikahkan Bapak dan Ibu-mu, Nak, Allah yang menikahkan Papa dan Mama-mu, Allah yang sudah memberikan Bapak, Ibu, kita semua sekeluarga kehidupan. Kita mari menyembah Allah berterima kasih kepada Allah, anak-anak ini bertanya kepada kita, 'Ngapain, Pak ke masjid?', kita salat."
ADVERTISEMENT
Anak ikutin gerakan orang-orang ruku dia ruku, sujud dia sujud, berzikir dia berzikir. Anak-anak itu luar biasa, lho dia akan tiru betul, zikir ya zikir gitu kan, gak tau dia bacanya apa. Aisyah, Qumi, Kun, Wirda ketika kecil juga begitu.
Kita antar mereka ke sana ke Allah SWT, agar anak kita mengenal Allah dan Allah mengenal anak kita, tapi untuk bisa mengenalkan keluarga kita, untuk bisa mengenalkan anak keturunan kita pada masjid, pada Allah. Kita dulu yang mengenal kan diri kita pada Masjid, kepada Allah kita dulu, biasakan diri kita, nanti itu pengaruh ke anak-anak keturunan kita pada keluarga kita, pada sekeliling kita.
Ilustrasi anak berdoa
Ilustrasi anak berdoa Foto: Shutterstock
Ajak bawahan-bawahan saudara, bila saudara punya bawahan, ajak staf-staf saudara bila anda adalah pimpinan, ajak murid-murid anda bila anda adalah Guru atau Kepala Sekolah, ajak siapapun yang ada di pundak anda semua untuk menemui Allah, sebisa mungkin ke masjid-nya Allah.
ADVERTISEMENT
Kita kan bangga dan bersenang hati didatangi oleh pemilik modal dan kita perkenalkan kepada seluruh karyawan-karyawan kita, staf-staf kita, lingkungan kita, murid kita mungkin, "Anak-anak ku, para siswa-siswi yang ada di sebelah kiri bapak adalah Pak Aziz Sulaiman beliau lah yang sudah membangunkan asrama buat anda semua."
Lho, kenapa sama Allah tidak diperkenalkan? Padahal Allah lebih kuat, lebih kaya, lebih kuasa, lebih besar, lebih lagi memberinya. Dan berapa banyak di antara kita yang tidak mengenal Allah, tidak membawa diri kita berkenalan dengan Allah, sehingga Allah mengenal diri kita. Berapa banyak di antara diri kita tidak membawa keluarganya kepada Allah SWT, sehingga keluarganya mengenal Allah dan Allah mengenal dia.
Akhirnya, karena tidak pernah membawa keluarganya kepada Allah, Allah tidak mengenali dia dan dia tidak mengenali Allah SWT. Berapa banyak di antara kita punya anak keturunan yang kita tidak bawa kepada Allah dan Allah tidak dibawa kepada anak keturunan kita, sehingga anak keturunan kita tidak mengenal Allah dan Allah pun tidak mengenali anak keturunan kita.
ADVERTISEMENT
Dan seperti itu pula lah anak-anak kita ini. Kita tidak memperkenalkan staf-staf kita, karyawan-karyawan kita, murid-murid kita kepada Allah, bahkan kita menghalangi mereka untuk menuju ke Allah SWT.
Ilustrasi Masjid
Ilustrasi Masjid. Foto: AFP
Baik pemirsa, kita buka Surah At-Tahrim Ayat ke 6, masih seputar tentang anak kita dan keluarga kita
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Yā ayyuhallażīna āmanụ qū,” Wahai orang-orang yang beriman yang percaya, percaya apa? Percaya bahwa kalo kita macem-macem, kita melenceng, meleset jauh, lalai, apalagi kalo sampai ngelawan Allah SWT, merugikan-kanan-kiri, tidak bermanfaat, hidupnya sia-sia. Orang yang sia-sia juga termasuk orang yang tidak bersyukur, maka kita akan masuk neraka. Jangan macem-macem.
ADVERTISEMENT
Lah, makanya kan perlu kepercayaan betul terhadap Firman Allah ini, percaya gak kita, bahwa kita nanti gak beriman bakal ke neraka, kalau kita tidak menjaga anak keturunan kita bakal ke Neraka. Karena itu Allah panggil, “Yā ayyuhallażīna āmanụ qū,” wahai orang-orang yang beriman jagalah, jagalah siapa? Yang pertama, “Anfusakum,” diri kalian sendiri terus, “Wa ahlīkum,” dan keluarga kalian, “Nāraw,” dari api Neraka, Allahu Akbar.
Kita diamanahi anak keturunan dan keluarga, bahkan kita diamanahi diri kita jangan sampe diri kita kemudian jatuh ke neraka, jangan sampai kita punya sifat-sifat orang yang ditarik ke neraka, jangan sampai kita punya kelakuan orang-orang yang dijeburin ke neraka, kita jaga betul.
Saya berlindung kepada Allah SWT mudah-mudahan Allah menjadikan saya orang-orang yang bertaubat, Allahuma ja’alni mina kaibin jadikan saya dari orang-orang yang bertaubat. Ketika saya ingin melakukan dosa, Kun’angfusahum jaga diri saya, saya harus menjaga diri saya, jangan sampai berbuat dosa, kenapa? Karena saya nanti masuk neraka.
ADVERTISEMENT
Apalagi anak keturunan kita, keluarga kita jangan sampai sebab kita kemudian mereka masuk neraka, jangan sampai. Kita kasih ilmu untuk anak keturunan kita, ilmu tentang surga, tentang neraka, tentang Alquran, tentang kitabullah, tentang sunnah Rasullulah, tentang hadits.
Seiring sejalan dengan ilmu-ilmu keduniaan mereka, mereka bisa berdagang, bekerja, bercocok tanam, berkebun, berkantor, berusaha, berniaga, berbisnis, punya pengetahuan yang cukup untuk masuk ke dunia pekerjaan, dunia usaha, dunia rumah tangga. Berbarengan itu kita perkenalkan keluarga kita dengan Allah SWT.
ilustrasi keluarga penuh cinta
ilustrasi keluarga penuh cinta Foto: Shutterstock
Mulai lah dari rumah ke masjid, mulai lah dari kita ke masjid, kita bawa keluarga kita anak keturunan kita ke masjid. Itu dulu kita mulai dengan bangga kita membawa keluarga kita ke Allah, "Ya Allah, ini lah istri ku," para istri memperkenalkan suaminya ke masjid, "Mas, udah azan, udah waktunya zuhur. Ini hari Sabtu, udah hari kerja, mungkin Mas sibuk. Hari Sabtu silakan ke masjid."
ADVERTISEMENT
Istri membawa suaminya ke masjid, ayah membawa istrinya ke masjid, ibu membawa suaminya ke masjid, apalagi dia bisa bawa anak keturunannya ke masjid dengan bangga dia mengatakan kepada Allah, "Ya, Allah ini lah anakku, ku bawa kepada-Mu.”
Anak menuntun ayah, ibunya berangkat ke masjid kepada Allah SWT, paksakan. Mudah-mudahan Allah memaksa diri saya ke masjid, jangan sampai kita ke masjid dalam keadaan digotong udah ditutup kain kafan, udah di dalam kotak, di dalam peti mati, di dalam kurung batang, jangan sampai.
Liat Allah memaksa semua orang masuk masjid, sebelum masuk umur, disalatin Lu! Jangan sampai kudu disalatin dulu, baru masuk masjid. Kenalin kepada Allah bawa anak keturunan kita kepada Allah, tapi bawa juga diri kita terutama kepada Allah pada Masjid, kita duduk saf satu, gak dapet saf satu, saf dua, gak dapet saf dua, saf tiga, gak dapet saf tiga, saf empat.
ADVERTISEMENT
Kita bentengin keluarga kita dengan masjid, kita biasakan diri kita ke masjid. Insya Allah, Allah akan berikan cahaya pada anak keturunan kita, cahaya pada rumah tangga kita, cahaya buat rezeki kita insya Allah, Allahuma amiin.
Ilustrasi mengajak anak ke masjid
Ilustrasi mengajak anak ke masjid Foto: Shutterstock
Di segmen terakhir, kita akan berdoa bersama. Semoga Allah SWT meridai kita dan mengabulkan doa-doa kita aamiin, menjadi hamba Allah yang dekat kepada-Nya dan Allah dekat dengan kita.
Saya mengetahui begitu banyak kesusahan yang kita alami, banyak sekali hajat yang kita hajatkan kepada Allah, kita punya banyak permintaan kepada Allah. Tidak salah dan ini adalah ibadah terbaik dimana hamba perlu kepada Allah SWT, Allahulgoniyu wa angtamul fu’koro, Allah itu Maha Kaya dan kita butuh kepada Allah.
ADVERTISEMENT
Di antara pembaca ada yang butuh pekerjaan, ada yang pengin naik kariernya, ada yang butuh usaha, ada yang pengin mengembangkan usahanya, ada yang butuh modal, tapi ada juga kemudian kena utang, pengin lunas utangnya, ada yang pengin dapet jodoh, pengin punya jodoh yang baik yang soleh-soleha, yang bisa menjadi imam atau bisa menjadi makmum, yang bisa berumah tangga dengan rezeki Allah yang baik, bisa punya anak keturunan yang soleh-soleha, ada yang pengin punya rumah sendiri, ada yang pengin sembuh dari sakitnya, ada keluarganya yang pengin sembuh dari penyakitnya, kita semua pengin panjang umur, banyak rezeki, sehat wal afiat, kita pengin punya rezeki yang halal.
Siapa yang di antara pembaca belum pergi haji? Yang belum umrah sama sekali, ada? Belum pernah liat Kakbah, belum keliling tawaf ke Baitullah, belum tau kaya apa sih Safa, Marwah, belum tau gimana Gunung Uhud, belum tau kayak apa itu Baqi, Mala, kayak apa itu wukuf di Padang Arafa, kayak apa tuh Masjid Nabawi Cuma bisa liat di TV, di gambar, di koran, di majalah, di poster, di sajadah.
ADVERTISEMENT
Macam apa itu Raudoh, kok cerita orang enak banget, bisa ngeteh waktu subuh. Kan, begitu kita keluar dari Masjidil Haram kaya burung tuh terbang, kemudian mampir beli teh susu, Allahu Akbar ngeliat burung pada terbang. Ada yang belum umrah? Ada yang belum haji? Bismillah, sebentar lagi kita berdoa. Ada yang mungkin lagi ada proyek pengin goal, pengin tembus, pengin selesai, ada yang mungkin tagihan yang belum ke tagih, pengin ketagih.
Banyak lah ya permintaan kita, ada anak-anak belajar yang pengin ujiannya lulus, pengin sekolahnya mulus, pengin kuliah di tempat-tempat terbaik, ada mahasiswa pengin ujian semesterannya baik, pengin skripsinya lancar, pengin sidang tesisnya disetrasinya lancar, bisa kuliah S2, S3 di luar negeri Insya Allah.
ilustrasi berdoa
ilustrasi berdoa Foto: Shutterstock
Ada yang males banget sama orang tuanya, ada yang bete banget sama pimpinannya, ada yang lagi sebel banget sama dirinya sendiri, jerawatan melulu gak ilang-ilang jerawatnya.
ADVERTISEMENT
Bismillah apa pun, mari kita berdoa, kita baca selawat dulu tiga kali, kita ber-istigfar tiga kali, kita hamdalah tiga kali, kita ucapin laaillahaillah tiga kali, kita baca la haula wala quwata illa billahil aliyil adzim tiga kali.
Pembaca yang dirahmati Allah silakan berdoa masing-masing, saya amin-kan dari sini, silakan. Jangan lupa doain orang lain, doain sekeliling kita, doain Indonesia, doain alam, doain semesta, doain segenap Muslimin Muslimat, Mukmin Mukminat di seluruh Dunia baik yang masih hidup, maupun yang sudah meninggal yang akan datang hingga akhir zaman nanti, silakan berdoa.
Bila ada yang sakit, pegang dibagian sakit dan berdoa lah, bila ada kawannya, anaknya, istrinya, orang tuanya pegang bagian sakit dari mereka, usap sambil berdoa. Saya amin-kan dari sini, mudah-mudahan jadi kesembuhan buat kita semua, aamiin.
ADVERTISEMENT
Buat yang pengin anak-anaknya jadi soleh-soleha, pangku, dekap, pegang, peluk, usap sambil berdoa, insya Allah saya amin-kan dari sini. Tentu tidak ada yang menjamin siapa yang punya amin itu dikabulkan, tapi insya Allah dikabulkan, saya yakin Allah akan mengabulkan kita punya doa aamiin.
Yang lagi sakit hatinya yang perih, karena kelalaian orang lain, pegang hatinya minta sama Allah ketenangan, lagi pusing kepalanya, baik pusing karena sakit kepala, maupun pusing karena kehidupan, pegang kepalanya. Berdoa kepada Allah, Allah angkat segala kepusingannya, aamiin, aamiin ya Allah. Alfatihah.
Selamat membawa diri anda ke masjid, selamat membawa keluarga saudara ke masjid, selamat membawa anak keturunan saudara ke Masjid, selamat membawa staf anda, karyawan anda, murid-murid anda, jika anda punya bawahan, punya staf, punya murid ke Masjid insya Allah mudah-mudahan bisa menjadi tausiyah buat diri saya, mudah-mudahan saya bisa membawa keluarga saya, diri saya, anak keturunan saya, murid-murid saya, santri-santri saya ke Masjid insya Allah sejak dari saolat subuhnya insya Allah hingga isyanya.
ADVERTISEMENT
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan