kumparan
search-gray
News3 Oktober 2019 10:49

Ketangguhan dan Kesejahteraan Umat

Konten kiriman user
Ketangguhan dan Kesejahteraan Umat (32038)
Yusuf Mansur. Foto: kumparan
Saya membagi dua khotbah ini, dengan izin Allah yang pertama tentang ketangguhan umat, kedua kesejahteraan umat. Belajar tentang ketangguhan umat, kita bisa melihat dari cara Allah mendidik para nabi, keluarga, dan para sahabatnya.
ADVERTISEMENT
Dalam surat Hud ayat 120, Allah menceritakan bagaimana kisah-kisah para nabi dan rasul-Nya, bisa kemudian membesarkan hati kita, membesarkan perasaan kita, menguatkan perasaan kita, menggembirakan pikiran, hati, dan perasaan kita. Hampir tidak ada nabi-Nya yang dibiarkan hidup manja, tidak keras, tidak ada perjuangan, tidak ada. Latihan mental yang sangat luar biasa diberikan kepada seluruh nabi-Nya, tidak terkecuali Nabi Muhammad.
Para nabi, keluarga, dan para sahabatnya diuji dengan beragam kesulitan dan kesukaran, dididik dengan tempaan fisik dan nonfisik, dan dihadapkan dengan musuh yang jauh lebih besar darinya.
Tidak ada nabi-Nya yang kelewat gampang untuk ditaklukkan, Musa misalnya lawan Firaun, Ibrahim lawannya Raja Namrud, Nabi Dawud lawannya adalah Jalut sang raksasa yang dengan semua pasukannya juga raksasa, Nabi Ibrahim yang dengan keadaan relatif aman dan nyaman di Palestina yang subur. Malah disuruh ke Kota Makkah yang tidak ada apa-apanya, tapi kelak Kota Makkah menjadi kota baru sampai sekarang, kota yang tidak ada matinya 24 jam.
ADVERTISEMENT
Sebentar lagi dengan digitalisasi haji dan umrah di seluruh dunia, rasanya Saudi bakal punya perusahaan fintech, market place, e-commerce terbesar sejagat, kapitalisasi ekonomi bisnis ikutan haji dan umrah. Seluruh dunia, bahkan Indonesia, bisa mungkin mengalahkan Apple, Samsung, Facebook, Google, Amazaon, dan rasanya tidak akan lama lagi.
Saudara yang dirahmati Allah, jangan sampai hidup kita malah terlalu nyaman, masuk dan kelamaan di zona nyaman, bisa bahaya. Malah kalau perlu ciptakan kondisi, hadirkan kesusahan dan kesulitan, hadirkan tantangan dengan memperbesar rencana, impian dan aktivitas.
Kita lihat cara Allah mendidik dari dua putra keturunan Nabi Ibrahim, misalnya Ismail. Sejak kecil, Ismail dihadapkan dengan kelas yang bukan kelasnya anak kecil. Dihadapkan dengan perintah penyembelihan, buat Ibrahim ini juga menjadi perintah yang tidak kalah beratnya. Ini urusan anak, anak yang sudah dirindukannya berpuluh puluh tahun, tapi ketika sudah hadir dan diajak bercanda, sudah bisa diajak main dan usaha, tapi kemudian Allah memerintahnya untuk menyembelih anaknya.
ADVERTISEMENT
Dalam surat Shaffat, malah kemudian Allah memberikannya ucapan selamat, pujian, bahkan bonus dengan hadirnya Ishak. Kini kita lihat sejenak, putra dari keturunan Nabi Ibrahim, yaitu Yusuf bin Yakub, bin Ishak, bin Ibrahim.
Nabi Yusuf setelah diberikan kabar gembira karena disujudi 11 bintang, matahari, dan bulan, apa yang terjadi? Nabi Yusuf malah masuk sumur. Lihat orang-orang sekarang, lebih menyukai kemudahan, bukan kesukaran, lebih menyukai fasilitas daripada perjuangan, lebih menyukai keadaan-keadaan yang enak, nyaman, happy. Tapi tidak melewati proses tidak enaknya, mau hasilnya tidak mau prosesnya.
Yusuf kecil, dibiarkannya sendirian oleh Allah, dipisahkan dari ayah dan keluarganya, Yusuf kemudian menunjukkan kelasnya, dari sumur kemudian ia menjadi raja yang agung.
Supaya bangsa ini menjadi tangguh, keluarga kita menjadi tangguh, maka sukai, cintai tantangan, berproseslah dengan adanya fasilitas atau tanpa adanya fasilitas, berdamailah dengan kesukaran, fight, bangun, bangkit, jangan baperan, lalu kemudian dekatkan diri kita dengan Allah.
Ketangguhan dan Kesejahteraan Umat (32039)
Ilustrasi sapi kurban. Foto: Muhammad Iqbal/kumparan
Pada khotbah yang kedua ini, izinkan saya berbicara tentang kesejahteraan umat, ekonomi umat, ketangguhan ekonomi. Dari perintah Allah dan rasul-Nya semakin ke sini semakin kita tahu bahwa perintah Allah dan rasul-Nya pun menciptakan dan membawa ekosistem yang luar biasa menghadirkan potensi ekonomi yang luar biasa. Sampai hari ini terhadap semua potensi ekonomi ini umat relatif sudah mengekplorasi dan memobilisasi, yakni dengan menjalankannya, tapi yang belum adalah menyatukannya.
ADVERTISEMENT
Menyatukan dalam level nasional dan menyatukan dalam level global, menyatukan kegiatan ekonomi yang menjadi buah dari perintah Allah dan rasul-Nya. Penyatuan eksplorasi dan penyatuan mobilisasi ini kiranya yang perlu menjadi perhatian umat, sebelum disatukan oleh yang lain. Mari kita orkestrai bersama, sebut saja misalnya kurban, perintah kurban secara potensi ekonomi masyaAllah, dahsyat betul, secara resmi dan pelaporan resmi bisa jadi tembus angka Rp10 triliun, dengan umat melaksanakan kurban itu sudah merupakan eksplorasi dan mobilisasi berkurban di mana-mana.
Anak-anak muda dari kalangan umat hari ini pinter-pinter, soal kemampuan tidak diragukan lagi, tinggal kemudian kemauan, adakah kemauan untuk bersatu dan menyatukan semua potensi ini, sehingga kue kurban saja yang Rp10 triliun itu dari hulu ke hilir bisa dinikmati oleh umat. Apalagi hari-hari ini adalah hari-harinya fintech, e-commerce, marketplace, digital, jika ada digitalisasi kurban, jadi mereka yang akan berkurban digitalisasi, maka kue kurban ini akan dinikmati oleh yang menyatukan.
ADVERTISEMENT
Belum lagi urusan haji dan umrah, fasilitas pendidikan umat, busana, dan lain sebagainya. Nanti, kalau ada yang berdiri di atas umat, maka berkumpulnya umat ini akan dikumpulkan dalam persatuan umat besar di atasnya dan itu tidak boleh terjadi.
Jangan lupa, masih banyak irisan ekonomi dari perintah Allah dan rasul-Nya. Harusnya umat Islam tidak boleh miskin karena semua umat adalah pemilik dari seluruh potensi yang ada di tanah ini. Tidak ada yang terlambat, ini mudah dan gampang sekali. Asal kita betul-betul mau bersatu. Terakhir jangan lupa, kita ajak umat-umat yang lain, umat Kristiani, umat Budha, Hindu, Konghucu, atas nama Indonesia, kita buat semoga potensi ekonomi ini menjadi milik kita bersama.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white