kumparan
24 Oktober 2019 10:01

Kuatkan Fondasi untuk Anak dan Keluarga Kita

Cover-Yusuf Mansur
Yusuf Mansur. Foto: kumparan
Bismmillahirahmannirahim. Asslamu’alaikum Wr.Wb.
Hari ini kita akan belajar tentang fondasi. Fondasi untuk anak keturunan kita, fondasi untuk keluarga kita. Apa sih sebaik-baiknya fondasi? Kalau kita mau membangun rumah pasti pancang fondasi toh?
ADVERTISEMENT
Tanam fondasi, buat keluarga kita juga begitu, bagaiman kemudian Nabi Allah Nabi Ibrahim AS, dikasih fondasi sama Allah SWT. Ketika Allah berfirman kepada Nabi Ibrahim, “Aslim, ‘Islamlah kamu’ Islam kamu engkau wahai Ibrahim,” lalu Ibrahim berkata, “Asalmtu li rabilalamin.Sami’na wa ato’na beliau menjadi muslim yang baik.
Fondasi Islam, fondasi Iman ini dia fondasinya, bukan harta. Jadi, kalo ada omongan, “Keluarga lo, bisa seneng nanti dengan cara apa? Kalo gua punya kerjaan Insya Allah, gua bisa ngebahagiain keluarga gua,” gak begitu.
Bukan pekerjaan, banyak juga orang-orang yang punya pekerjaan tapi, pusing juga, “Ane bisa nyenengin anak ane, keluarga ane, istri ane kalo ane punya usaha,” gak begitu, “Kalo ane punya duit banyak,” gak begitu.
ADVERTISEMENT
Kalo islamnya bagus, imannya bagus, ada Allah dan Rasul-nya, ada kitabullah dan sunnah-sunnah Rasul-nya di dalam rumah itu, itu yang bikin bagus.
Jadi, bicara tentang fondasi, saya menyepakati bahwa fondasi itu sebaik-baiknya adalah Islam, iman, takwa, dan saleh itu lah sebaik-baik fondasi. Jangan ngajarin fondasi yang sifatnya diri kita atau duit, kepada anak-anak keturunan kita, ini dia jangan sampai.
Ilustrasi anak salat dan berdoa.
Ilustrasi anak salat dan berdoa. Foto: Shutterstock
Contohnya, “Mak, jajan,” kasih duit, itu namanya ngasih fondasi yang salah, “Mak, jajan,” kasih duit, salah, “Pak, bayaran sekolah,” kasih duit, salah.
Apalagi suruh anak ngambil sendiri, “Mak, minta duit! Sono di lemari, di laci ketiga di bawah koran,” anak jalan ke situ. Anak diperkenalkan sama lemari sama duit, nanti besok minta lagi, “Mak, ini..., sono di lemari laci ketiga, di bawah koran,” besok anak kita itu dia. Malah mungkin juga tidak ke kita tapi, langsung ke lemari, kan bahaya.
ADVERTISEMENT
Lebih baik kita kenalin sama Allah, anak kita bangunin salat malam dari kecil, “Bangun yu Nak, salat malam.” Anak kucek-kucek salat malam di belakang kita, di samping kita terus kita ajak salat subuh, itu sebaik-baiknya fondasi, kita ajak salat duha itu sebaik-baiknya fondasi.
Anak salat.
Anak salat. Foto: Shutterstock
Kasih tau sama anak kita, “Nak, kalo kamu punya hajat apapun, kamu punya kebutuhan apapun, kamu salat, kamu minta sama Allah, kamu jalan ke Masjid ke rumah Allah, minta sama Allah. Apa yang kamu butuhkan, apa yang kamu kehendaki. Bapak mu ini bisa mati, pasti bisa mati ibu juga begitu, bapak mu ini bisa punya duit bisa enggak tapi, Allah enggak bakalan gak punya duit, bapak mu ini bisa sehat bisa sakit, bapak mu ini bisa kemudian jatuh bisa jadi jaya. Allah tidak pernah sakit dan Allah tidak pernah jatuh, Allah tidak pernah jatuh miskin, Allah ini Maha Kuasa, Maha Segala-galanya.” Kenalin sama Allah ini sebaik-baik fondasi, berangkat ke Masjid lagi asar, magrib, isya. Anak minta sepatu.
ADVERTISEMENT
“Pak, minta sepatu.”
“Ya sudah, kamu udah salat asar?”
“Sudah pak.”
“Di mana?”
“Di masjid.”
“Minta gak tadi sama Allah, supaya kamu punya sepatu?”
“Enggak, Pak.”
“Ya, sudah Bapak temenin ya, nanti magrib kita ke masjid kita minta sama Allah.”
Itu dia. Nah, kalau anak minta kita anterin, kalo minta kita anterin. Lama-lama kan anak-anak, akan apa coba? Akan kenal sama Allah gitu. Nah, seperti anak-anak langsung ngedepas ke lemari, maka anak-anak pun juga ngedepas juga ke Allah, tanpa lewat kita lagi.
Itu sebaik-baiknya, maka ketika kemudian estafet iman, Islam, takwa, amal soleh, ibadah Nabi Ibrahim udah kuat kemudian nanti netes kepada Ismail, Ishak netes lagi kepada Yaqub, netes lagi kepada anak-anaknya.
ADVERTISEMENT
Nabi Ibrahim berwasiat kepada anak-anaknya dan demikian juga Yaqub, “Wahai anak-anak, Allah telah memberi kamu semua agama Islam maka, kamu jangan sekali-kali kamu meninggal kecuali, kamu ini dalam keadaan Islam, Muslim. Apakah kalian menyaksikan ketika Yaqub sudah sakaratul maut, akan datang kematian kepadanya. Ketika dia berkata, bertanya kepada anak-anaknya ‘Apa sih yang kalian sembah setelah aku gak ada nanti, setelah sepeninggal ku nanti?’ anak-anak Yaqub menjawab ‘Kami menyembah Tuhan mu! Wahai Yaqub ayahku, juga akan menyembah Tuhannya Ibrahim, Tuhannya Ismail. Tuhan yang satu dan kami ini menjadi orang-orang yang berserah diri menjadi Muslim.”
anak salat
anak salat Foto: shutterstock
Ini lah sebaik-baiknya fondasi dan karena kita sudah salah fondasi dan salah juga ngajarin fondasi ke anak keturunan kita. Turun menurun salah, maka salah banyak ke depanya, contoh ada orang-orang yang pengin jadi pengusaha tapi, dia fondasinya gak bener gitu loh. Apa kata dia,
ADVERTISEMENT
“Saya ini pengin keluar dari pekerjaan saya, kenapa? Karena saya pengin jadi pengusaha.”
“Oh, iya? Memang punya apa, kok berani keluar dari pekerjaan?”
Wah, saya ini sudah punya proyek!” nah, kan salah tuh fondasinya!
“Udah punya proyek, saya mengerjakan proyek saya itu. Saya perlu konsentrasi.”
Dia gak tau bisa ada, bisa enggak. Begitu udah turun surat izin berhenti, kemudian selesai mundur dari pekerjaan. Eh, proyeknya batal! Punya dia, goyang! Fondasinya salah, “Kenapa kamu berani berhenti kerja?”
“Saya udah punya tabungan, Insya Allah cukup lah udah ada Rp 200 juta ini, buat hidup saya selama 3 tahun pun gak ngapa-ngapain pun Insya Allah memenuhi.” Gak bener, jangan. Belum tentu duit itu gak bisa, bisa dipake belum tentu bisa jadi gak bisa dipake, iya kan?
ADVERTISEMENT
Sebaik-baik fondasi buat anak keturunan kita, buat keluarga kita bahkan buat diri kita adalah Allah SWT, Islam, Iman, takwa, ibadah, amal sholeh ini semua yang harus kita ajarkan kepada diri kita dan pada anak keturunan kita.
Bagaiman kita meluangkan waktu dan kisi-kisi kecilnya? Insya Allah kita akan bahas pada pertemuan berikutnya. Saya Yusuf Mansur.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan