kumparan
6 November 2019 10:45

Mau Sesuatu? Selawatin Saja

Cover-Yusuf Mansur
Yusuf Mansur. Foto: kumparan
Sampaikan kepada siapa yang bisa disampaikan, utamanya mereka yang butuh kemudahan dan keringanan dan pertolongan dari Allah SWT. Bahwa sesungguhnya selawat itu paspor, selawat itu tiket. Bahkan lebih dari pada paspor lebih dari pada tiket, selawat itu juga lebih dari pada uang. Selawat itu kayak Alquran enggak ada duanya.
ADVERTISEMENT
Buat teman-teman pasti ada kebutuhan, pasti ada yang dikepenginin. Mulai dari hal yang remeh temeh hingga sesuatu yang besar. Pengin handphone, pengin rumah, pengin mobil, pengin jodoh. Mungkin banyak orang yang dengan urusan mobil, motor, handphone dan rumah sudah khatam sudah enggak ada kepenginnya lagi karena udah punya dan biasa.
Lalu bagaimana dengan mereka yang belum punya dan belum biasa? Bagaimana cara mereka membeli? Dengan apa cara mereka menjangkau dan memiliki itu? Sementara cara-cara yang umum adalah cara-cara yang pakai duit, nabung, kredit lewat leasing kemudian pinjam sana pinjam sini, sebagian lagi dengan cara yang salah nyolong, mencuri, mengambil hak orang lain, nginjek orang, mukul orang, fitnah.
Sering saya bilang, Allah itu senang diminta dari mulai yang kecil hingga yang berasa besar bagi manusia. Jangankan minta lapangan bola yang luas, kita merengek minta sepatu bola saja Allah senang banget. Ini bukan soal kita meremehkan suatu amalan, bukan.
ADVERTISEMENT
Saya menawarkan beli bubur pakai selawat, pakai Duha, pakai ngaji ini, ngaji itu, pakai istifar dan segala jalan yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah SWT, termasuk dengan sedekah. Kita kan enggak cuma pengin beli bubur sehari dua hari tapi maunya sepanjang tahun. Jangan bilang selawat-selawat saja, sedekah-sedekah saja, lalu dilarang minta? Enggak begitu, hubungan kita dan Allah itu hubungan permintaan hamba dan khalik-nya dan itu dibolehkan.
Sekarang saya tanya, “Boleh, enggak beli bubur pakai duit?”
“Yah emang begitu ustaz”
Enggak, enggak selamanya itu bubur bisa dibeli dengan hanya uang. Tapi ada orang yang karena kemuliaannya apa saja bisa didapat. Nah, amalan-amalan sunnah seperti salat duha, salat malam, bersedekah dan berselawat itu bisa menambah kedekatan kita kepada Allah SWT dan akan menambah kemuliaan kita di pandangan manusia lainnya.
ADVERTISEMENT
Boleh enggak mereka yang enggak pernah ibadah baik yang wajib dan sunnah meminta pada Allah? Boleh dong. Mereka boleh tuh berdoa pada Allah, “Ya, Allah saya mau rumah” itu boleh aja. Karena emang ke mana mereka meminta?
Lalu bagaimana mereka yang kerap mengerjakan yang wajib dan mendawamkan yang sunnah. Mereka yang enggak 'kosongan'. Yang sebelum meminta mereka mengerjakan duha dulu, beristifar dulu, berselawat dulu, lalu setelahnya mereka berdoa yang menjadi keinginannya. Habis selawat berdoa pada Allah, masa yang kosongan saja boleh lalu yang mengiringi permintaannya dengan salat duha dan selawat enggak boleh?
Lalu ada yang bilang, “Wah itu ngecilin makna selawat. Ngerendahin amalan-amalan buat kebutuhan dunia”.
Yah, Allah aja ngajarin dalam doa, Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah wa qinaadzabannar, Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksa neraka.” (QS. al-Baqarah : 201).
ADVERTISEMENT
Dunia boleh kok diminta sama kita. Kita sering marah kenapa orang sana dulu yang dapat dunia. Padahal Allah yang punya dunia dan segala isinya, lalu kenapa kita tidak meminta, dan Allah telah bilang, Wa iżā sa`alaka 'ibādī 'annī fa innī qarīb, ujību da'watad-dā'i iżā da'āni falyastajībụ walyu`minụ la'allahum yarsyudụn, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS 2: 186)
Kita saja suka ngomong sama orang, “Kalo dia baik gue bagi semua” itu antar manusia. Gimana Allah yang Maha Rahman, Maha Pemurah?
ADVERTISEMENT
Ada orang minta jodoh, “Ya, Allah saya udah umur 30-an, mau minta suami,” apakah boleh? Yah kita enggak bilang enggak bisa karena itu urusan dunia, minta urusan surga aja. Emang kita hidup di mana? Yah kita hidup di dunia dan enggak salah minta dunia sambil tidak lupa meminta kehidupan akhirat.
Nah, ketika orang minta jodoh sedangkan dia enggak ada amalannya, enggak ada duha-nya, enggak ada sedekahnya, enggak ada birul walidain-nya, enggak ada selawatnya, enggak baik sama tetangganya lalu dia boleh meminta ama Allah. Lalu bagaimana yang mencopot cincinnya lalu berdoa, “Ya, Allah saya punya cincin lalu saya jual dan akan saya bagikan kepada anak-anak yatim, saya akan senangin emak saya, saya belikan pulsa bagi para ustaz di kampung” lalu habis itu dia minta ama Allah, “Ya, Allah, jika sedekahku diterima maka jadikan aku berjodoh”
ADVERTISEMENT
Lalu apakah ini akan mengecilkan makna sedekah dan selawat? Yah, enggak dong. Inikan doa yang diawali dengan sebuah amalan dan yang tetap penting niatnya tetap pada Allah SWT.
Makanya saya suka bilang “selawatin aja” maksudnya apa? Bawa ke selawat, bawa ke doa. “Sudah bawa ke duha” maksudnya apa? Yah udah salat duha, lalu kelarnya doa deh segala hajat dan keinginan.
Sekarang saya tanya, sedekah enggak berdoa boleh? Boleh. Selawat enggak berdoa, boleh? Boleh. Kita baik sama tetangga lalu enggak berdoa, boleh? Boleh banget. Kita salat malam lalu enggak berdoa sama Allah, boleh? Yah boleh banget. Tapi rugikan. Jika yang enggak ada amalan aja boleh berdoa lalu kita yang mengawali dengan amal salih kenapa enggak boleh berdoa? Gimana cara mikirnya tuh.
ADVERTISEMENT
Lagian orang yang duha dapat pahala lalu dia berdoa juga dapat pahala. Kalo dia duha doang tapi enggak doa, dapat enggak pahala doa? Gak dapat. Lalu kalo dia berdoa doang tapi gak duha, dapat gak pahala duha? Yah enggak dapat. Kita orang disuruh nyari pahala segambreng, seabrek-abrek.
Murnikan niat hanya untuk Allah” lah emang yang berdoa bukan karena Allah? Kan emang disuruh berdoa. “Ikhlaskan diri hanya pada Allah” lah, kita ikhlas menghadap hanya pada Allah, bukan kepada yang lain. Masa menghadap dan berharap hanya pada Allah dibilang enggak ikhlas?
Jadi, ayo kita iringi segala dan keinginan kita dengan amal saleh.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan