Untitled Image
11 Februari 2021 9:48

Mengarungi Bahtera Kehidupan

Mengarungi Bahtera Kehidupan (71478)
Yusuf Mansur. Foto: kumparan.
Pada ayat 37 Q.S. Hud, siapa pun yang ingin sampai apa aja, di mana saja, yang ingin membangun apa aja, yang ingin menduduki apa aja, yang ingin megang apa aja, disimbolkan sebagai kapal oleh Allah SWT lewat Nabi Nuh As.
ADVERTISEMENT

“Wasna’il fulka”.

“Wahai Nuh, mari kamu bikin itu kapal!”

Persamaan katanya Nabiallah Nuh As, ketika kita yang menjadi lawan bicara, menjadi,

“Ayo dong, bikin rumah tangga, bisa kedudukan, tahta, dan lainnya.”

Kata Allah SWT, “Gampang kok caranya. Ada tiga.”

Apa aja?

“Bi’ayunina.”

“Enggak usah macem-macem. Pokoknya kamu sadar, kamu akan aku perhatikan. Enggak usah macem-macem, kamu tau kamu aku awasi, kamu tau kamu dalam pengawasanku, kamu berada dalam pengawasanku. Jangan macem-macem, lakukan yang aku perintahkan, jauhkan yang aku larang.”

Lalu, standarnya apa?
“Wawahyina,” wahyunya Allah SWT.
Makanya, kalo ada orang yang lempeng aja jalannya gitu, yah, otomatis Al-Fulkanya—kapalnya—bukan cuma terbangun, dinaiki, berlayar dan berlabuh, seru kan? Ditambah lagi nanti dengan “Bismillah”.
ADVERTISEMENT
40 tahun. Bayangkan, berlayar terombang ambing di lautan tidak ada gangguan. Kalo kita pikirin? “Iye bener juga ya, freezernya di mana, logistiknya di mana, udah gitu binatang buas, binatang ternak makananya dari mana? Lah, emang mereka enggak tidur? Emang enggak terjaga juga? Emang enggak lapar?"
Nabiallah Nuh As bersama Allah SWT, sehingga Allah SWT atur semuanya.
“Bismillah,” yang kemudian dibaca oleh ibunya Nabiallah Musa As, ketika menghanyutkan Musa kecil ke Sungai Nil.
Allahummasholi wasalim wabaarik alih waalih.
Oke kita poin-kan,
  1. Ketika kita mau bangun atau bikin apa aja, termasuk ketika kita mau bangun legacy untuk keluarga, bangsa dan negara, mencapai apa yang mau dicapai, mewujudkan apa yang mau dicita-citakan dengan “Bi’ayunina”, karena kita ini sejatinya dalam pengawasan Allah SWT.
  2. Kemudian standarnya apa? “Wawahyina,” wahyuku.
  3. “Walatukhotibni fil ladzina dzolamu.” Ya, kita bisa kemudian berwawasan luas, jangan kecil hati, jangan larut kemudian dengan perlawanan, pergesekan, tindakan mereka yang kemudian termasuk orang-orang yang dzolim terhadap Allah SWT dan dzolim terhadap kita. “Innahum Mughroqun,” mereka urusan ku, pokoknya akan ku bantai, tenggelamkan, hancurkan mereka. Insya Allah.
ADVERTISEMENT
Allahummasholi wasalim wabaarik alih waalih.
Mengarungi Bahtera Kehidupan (71479)
Ilustrasi kapal. Foto: Alwi Alaydrus/Unsplash