Kumparan Logo
photo_2022-04-03 03.49.59.jpeg

Mengenal Kitab Sulamun Nairain Karya Guru Mansur

Yusuf Mansur

Yusuf Mansurverified-green

Pendiri Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran

ยทwaktu baca 10 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
istimewa
zoom-in-whitePerbesar
istimewa

Kitab Karangan Guru Mansur dengan izin Allah:

01. SulamunNairain.

02. Khulasah al Jadaawil.

03. Kaifiyatu al Amal Ijtima.

04. Mizanul I'tidal.

05. Washialatu at Thullaab.

06. Jadwal Dawairul Falakiyah.

07. Majmu' Arba' Rasail fi Mas'alatil Hilal.

08. Rub'ul Mujayyab.

09. Mukhtasar Ijtima'unNairain.

10. Tadzkiratun Nafi'ah fi Sihati 'Amali as Shaum wa al Fithr.

11. Taudihul Adillah fi Sihati as Shaum wal Fithr.

12. Jadwal Faraid.

13. Al lu'lul Mankhum fi Khulasah Mabahist Sittah 'Ulum.

14. I'rabul Jurumiyah an Nafi' lil Mubtadi.

15. Silsilati as Sanad fiddin wattisaluha Sayyidul Mursalin.

16. Tashriful Abwab Limatan Bina.

17. Jidwal Kiblat.

18. Jidwal Auqaatushshalaah.

19. Tathbiq Amalul Ijtima'.

***

Di luar perbedaan prinsip, cara menghitung, cara interpretasi hadits, dan perbedaan metodologi, dalam menetapkan awal bulan setiap bulan, khususnya Ramadhan dan 1 Syawal, juga DzulHijjah... Ada metodologi Guru Mansur, yang beliau tulis dalam Kitab SulamunNairainnya, selama beliau hidup.

Murid-muridnya, santri-santrinya, terbilang banyak. Dan jadi Ulama Kaliber di berbagai daerah dengan izin Allah.

Bila hari ini, Islam dan Pendidikan Islam berkembang di Tanah Air, tidak berlebihan rasanya, Guru Mansur, bersama barisan Ulama-Ulama Nusantara, merupakan mata rantai sejarah yang harus terus didoakan sebagai bentuk terima kasih kita kepada perjuangannya, dan rasa syukur ke Allah.

Salah satu santri Guru Mansur yang kami banggakan, Abah KH. Choer Affandi, Pendiri dan Pimpinan Pesantren Miftahul Huda, Manonjaya, Tasikmalaya. Beliau leluhurnya Pak UU, Wakil Gubernur Jabar.

Pesantren ini masih merupakan salah satu pesantren terbesar di Tasikmalaya, Jabar, dan juga Indonesia.

Santri sekarang saja, ada 6000rb-an santri. Sedangkan cabangnya pesantren ini banyak betul, di seluruh Tanah Air.

Pesantren ini berdiri tahun 1967. 5 tahun sejak wafatnya Guru Tercintanya Abah Choer Affandi.

Logika aja, dengan jumlah lulusan yang ribuan, super ribuan, dari tahun ke tahun, dari satu pesantren ini saja, maka ini sudah akan memenuhi hampir semua ruang kehidupan di tanah air bahkan di dunia. Dan bukan saja dunia Islam, tapi benar-benar dunia kehidupan pada umumnya. Dan ini baru dari satu pesantren.

Secara logika pula, kita sudah hampir pasti, ga akan bisa ngaji, ga akan bisa syahadat, menjadi muslim muslimah, andai tidak ada mata rantai ulama dari zaman ke zaman, sebagai penerus Risalah Kenabian Nabi Muhammad shallaa 'alaih.

Salah satu turunan Abah KH. Choer Affandi, yang suka dipanggil Ua Anom, menjadi salah satu pimpinan Majelis Masyayikh periode 2021-2026/2022 - 2027, yang membawahi 30rb-an pesantren di Tanah Air. Alhamdulillaah.

***

Zaman dulu, masyarakat Jabodetabek Bandung, dan berbagai daerah di Nusantara, termasuk menunggu "Keputusan" Guru Mansur. Guru Mansur berkalam, diikuti kalamnya oleh banyak orang. DKM-DKM masjid, pimpinan-pimpinan majelis ta'lim, betul-betul banyak yang ngikutin gimana kata Guru Mansur, untuk soal 1 Ramadhan dan 1 Syawal. Alhamdulillah. Belum zaman socmed.

Sampai dengan tahun 1989, seinget saya, kami-kami cucu-cucu, buyut-buyut, Guru Mansur, duduk di depan TV... TVRI saat itu... Saat Pemerintah mengumumkan awal Ramadhan, awal Ied, seperti sekarang, setiap tahun... Selalu disebut tuh. Saya masih inget banget... Urutan ke-6... Cara nyebutnya dari tahun ke tahun, sama... Berdasarkan Kalender NU, Muhammadiyah, dan beberapa lembaga lain... Eh terus disebut: "Kalender, Almanak, Al Mansuriyah... Berdasarkan Kitab Guru Mansur, Kitab SulamunNairain..."

Wuih, kami di keluarga, sontak, biasanya, tepok tangan, hehehe. Rame, kayak nonton bola. Seru. Demen. Girang. Leluhur, dan Kitabnya, disebut. Disaksikan jutaan pemirsa TVRI saat itu.

Entah kemudian kenapa kalender Al Mansuriyah ga disebut lagi. Konon kata tetua-tetua, sebab alasan politik, hehehe. Wallaahu a'lam.

Jujur, suka ada perasaan bangga, sebagai turunannya. Leluhur jadi salah satu kiblat ditanya orang.

Asli ini.

Waktu kecil, masih menyaksikan sisa-sisa pertemuan fisik, dari murid-murid Guru Mansur berbagai daerah. Yang datang ke rumah, untuk silaturahim, tidak telpon ke telpon rumah/ telkom. Bener-bener belum zaman socmed seperti sekarang.

Biasanya beliau-beliau itu sekalian ziarah ke Makam Guru Mansur. Beliau-beliau datang, atau ngutus muridnya lagi, untuk menanyakan kapan hitungan Kalender Al Mansuriah, untuk awal puasa dan Iedul Fitri. Sungguhpun kami tahu, di antara mereka, ya karena murid-muridnya Guru Mansur, ya bisa menghitung sendiri. Tapi datang, untuk menyambung keberkahan dan sebagai adab kepada Guru. Dan atau mengambil kalender yang dicetak, yang berisi panduan jadwal shalat, yang dihitung sendiri oleh Lembaga Hisab dan Falakiyah al Mansuriyah.

Turunan Guru Mansur dan keluarga Guru Mansur yang menguasai Ilmu Falak dan Hisab, Kyai Ahmadi Muhammad, Kyai Akib Mahbub, Kyai Naqsabandi, Kyai Fatahillah, Kyai Safriudin Santika... Saya ga termasuk, hehehe. Doain. Yang masih hidup sampe tulisan ini dibuat, di 2 April 2022, Kyai Naqsabandi, dan Kyai Safrudin Santika.

Semasa saya, Yusuf Mansur kecil, setiap kali dicetak itu kalender, dan saya memegangnya, maka bener-bener kayak nyetrum itu kalender. Mengalir ke seluruh darah saya, dengan izin Allah, perasaan bangga. Saya ga sezaman dengan Guru Mansur. Ibu saya saja saat Guru Mansur wafat, masih kecil.

Saya, saat itu, periode 1980-an awal sd 1992, setiap megang gulungan kalender yang diiket karet gelang, udah kayak nunggangin motor bagus lagi anak muda. Kalender itu biasanya dicetak di akhir tahun masehi, Desember, dan dibagiin ke jamaah Masjid al Mansuriyah, di Jembatan Lima.

Kalender yang ditunggu-tunggu, sebab juga selain ada jadwal shalat dan "kepastian" jadwal awal tarawih, awal puasa, awal ied, sebab pake ilmu hisab... Juga kalender itu ada foto Guru. Berkah majang foto Guru, hehehe.

Jejak-jejak Guru Mansur dan leluhurnya masih bisa diliat sampe sekarang... Ada Masjid tua al Mansuriyah, masjid yang dibangun oleh leluhurnya lagi Guru Mansur, sejak tahun 1717 masehi. Masjid ini kemudian dipugar, direvitalisasi, oleh Pak Anies, Gubernur Jakarta dan Pemprop Jakarta, dengan anggaran lebih dari 25 milyar rupiah. MaasyaaAllah. Banyak ulama dan Tuan-Tuan Guru lain, selain Guru Mansur yang berperan di Masjid Perjuangan dan Saksi Kemerdekaan ini, di antaranya Tuan Guru Mujtaba, atau yang disebut Guru Baba.

Ada juga Madrasah Al Mansuriyah. Masih berdiri sampe sekarang. Pun, alumninya, super ribuan. Sekarang aja, masih ada 1500-an pelajar yang belajar setiap harinya. Alhamdulillaah.

Madrasah inilah yang oleh Guru Mansur, disebut-sebut sebagai Madrasah Nahdhoh. Mengambil berkah, tabarrukan, Mbah Hasyim, Pendiri NU.

Ya, Madrasah Al Mansuriyah adalah Madrasah Pertama NU di Jakarta. Saya waktu kecil, masih melihat Papan Nama Lamanya Madrasah Al Mansuriyah. Logonya ya Logo NU. Kalo kata Guru Iyo, Putri Bungsu Guru Mansur, ibunya ibu saya, Umi Uum... Pulang dari Muktamar, Guru Mansur langsung buka madrasah. Disebutnya bukan Madrasah Guru Mansur. Tapi Madrasah Nahdhoh. Merujuk pada panggilan, sebutan singkat, NU. Wallaahu 'alam.

***

Nah, untuk menambah sedikit ilmu... Selain yang sudah seliweran di WA-WA Group, tentang kebaikan perbedaan penetapan Awal Ramadhan, dan kelak, akhir ramadhan dan 1 Syawal... Saya sampaikan beberapa hal kecil, dengan izin Allah...

Sistem hisab, perhitungan penanggalan, terdiri dari 3 TIKOR. Titik Koordinat:

1. Tikor Ekliptika

2. Tikor Equator

3. Tikor Horizon

Kalau Rukyatul Hilal, yaitu pelaksanan melihat hilal, mestilah didasarkan pedoman ketiga tikor tersebut. Dan Sistemasi Hisab SulamunNayyirain, bisa untuk menghitung 3 Titik Koordinat tersebut.

Akan tetapi Guru Mansur hanya mengambil TIKOR EKLIPTIKA, sebagai pedoman penetapan Awal Bulan.

Artinya hanya menentukan Ijtima saja.

Kalau sistem yg lain, ada yg berpedoman kepada TATA TIKOR EQUATOR dan TATA TIKOR HORIZON.

TIKOR EKLIPTIKA itu dinamakan IJTIMA. Ijtima di sini, KONJUNGSI. Titik Temu.

Ijtima dalam bahasa awam, di dalam bahasa ilmu hisab dan falakiyah, adalah pertemuan antara pusat bumi, pusat bulan dan pusat matahari, di mana ketiganya terletak pada satu garis bidang.

Dan Ketiga Tikor itu dinamakan HISAB (Berdasarkan perhitungan garis edar bulan, bumi dan matahari). Jadi, hasil perhitungannya dinamakan: PROYEKSI.

Akan tetapi, jika perhitungannya tidak berdasarkan kepada garis edar bulan, bumi dan matahari, maka perhitungan itu tidak bisa dijadikan pedoman penetapan awal bulan didasarkan hukum syariat sama sekali. Alias ngawur.

Kalo ilmu hisab ini, ga ngawur. InsyaaAllah.

Ini, sekali lagi, di luar perbedaan cara pengambilan hukum, interpretasi hadits, dan perbedaan metode perhitungan.

Ilmu Guru Mansur, Prinsip-Prinsip dan Rumus-Rumus Kitab SulamunNairain, harusnya, dengan izin Allah, alhamdulillaah... Itungannya, harusnya luar biasa. Wong berisi rumus2 doangan. Tapi koq kayak membuka tabir semesta raya, tata surya, perbintangan, astronomi.

Bahkan membuka tabir seluruh keilmuan, jika dipelajari secara konsisten, menurut Kyai Safriudin Santika, yang pernah mengarungi samudra keilmuan Guru Mansur.

Kitabnya juga tipiiiiiiiiiiiiiiiiiiissss... Ga berjilid-jilid, ga segede gaban. MaasyaaAllah dah.

Dan belum tentu yang bisa Bahasa Arab gundul, bisa baca kitab ini.

Dan presisinya juga maasyaaAllah. Subhaanallaah.

Dan saya suka mikir, dari kecil... Koq ya bisa? Ulama zaman dulu itungannya... Tanpa teknologi, itungan "doangan", misalnya... Terhadap Gerhana Bulan, Gerhana Matahari, sampe sekarang, sampe saya, Yusuf Mansur "nyadar", ya presisi 1000% dari waktu ke waktu.

Liat di mana? Neropong gimana? Dan udah diketahui, jauh berbilang tahun, saat Guru Mansur masih hidup.

Saya pernah lompat jingkrak-jingkrak di rumah. Saat saya bilang ke istri... Nih, ada gerhana... Cocokin yuk, sama berita dan data teknologi, dan berita-berita TV dan media... Dan bener aja... Demi Allah, presisi 1000%. Termasuk gerhana terakhir kemarenan di 2021.

Penetapan awal dan akhir Ramadhan, 1 Syawal, emang beda. Dan ya ga apa-apa. Perbedaan juga terletak pada interpretasi Hadits. Dan kita lagi ga membahas itu di tulisan ini. Tulisan ini buat girang-girangin ati, buat sejarah anak cucu saya sendiri, dan kami-kami turunan-turunan Guru Mansur. Agar jangan sampe juga ga mengenal barisan Ulama Nusantara, sebagai kekayaan tanah air yang harus disyukuri.

Jika hari ini ada suami-suami yang baik, istri-istri yang baik, orang-orang tua yang baik, anak-anak yang baik... Orang-orang yang kemudian bisa bertaubat, apalagi manfaat... Dan seterusnya, di berbagai posisi dan bidangnya, dan bisa ngaji, bisa baca alif ba ta, dan bisa shalat... Kenal puasa, zakat, haji... Maka janganlah sombong, merasa ga perlu kenal dan ga nyebut-nyebut jasa ulama berbagai ulama, dengan juga seluruh Ibu-Ibu Nyainya... Bisa apa kita? Mata rantai jasa beliau-beliaulah, dengan izin Allah, kita masih beriman dan berislam. Alhamdulillaah.

***

Kitab kecil, nan tipis, yang diwajibkan di Madrasah Al Mansuriyah untuk dipelajari... Di level SMP/MTS... Merupakan singkapan gambaran tata surya. Allahu Akbar. Level SMP/MTS di Al Mansuriyah, bisa ngitung jadwal shalat sendiri. Di mana aja, di belahan bumi Allah manapun. Setidaknya di zaman saya SMP/MTS. Kalo sekarang emang tinggal buka aplikasi. Izin Allah. Kemudahan luar biasa buat Ummat Nabi untuk beragama, beribadah dan beramal saleh hari ini. Makin ke sini, kalo makinan ga taat, ga lucu rasanya.

Nah, dengan disingkapkannya alam semesta oleh Allah, lihat Kitab kecil nan tipis ini, SulamunNairainnya Guru Mansur, sampe sekarang, masih merupakan kekaguman yang wajar, sebagai turunannya.

Sekali lagi, saya juga diajarin ga boleh ngebanggain leluhur, turunan2 ke atas. Kalo tujuannya buat sombong.

Tapi kami-kami diajarkan untuk tidak lupa. Minimal mendoakan setiap abis shalat 5 waktu. Dan di Masjid al Mansuriyah, setiap Jum'atan, minimal, selalu menghadiahkan doa-doa, oleh jamaah jum'atan. Dipimpin petugas yang bertugas di Hari Jum'at.

Dan pegimana ga mau ga ngebanggain, coba? Sekali lagi juga... Dengan "menghitung" saja, itungan shalat, jadi ga perlu liat2 posisi langit, matahari, dll., hehehe. Dan masih muter-muter di kepala, sampe umur saya ulang tahun lagi kemaren 19 Desember 2021... Pegimana itu ceritanya, disingkapkannya alam semesta? Oleh Allah? Bagi Guru Mansur? Gimana ceritanya? Mukasyafah, penglihatan batin, seperti apa? Muncul rumus2 begitu? Khususnya bagi yang pernah liat Kitab SulamunNairain. Apa ada perjalanan ruhani seorang Guru Mansur? Ke sistem Tata Surya? Perlu orang Hollywood, atau Netflix nih, hehehe, memvisualkan ini.

Jadi, ya saya sebagai turunannya, bangga lah. Dan mendoakannya senantiasa, nempel di doa-doa kami. Sebagaimana kami yakin, beliau dan turunan-turunan lelulur ke atas, mestilah juga nempelnya doa untuk kami turunan-turunan ke bawah hingga akhir zaman.

Kemuliaan, kehormatan, kita semua tentu kembalikan kepada Allah, Pemilik Segala Ilmu.

***

Terkait, metode hisab Guru Mansur, kaitannya dengan Awal Ramadhan 2022, Ijtima terjadi: QOBLAL GHURUB. Artinya Ijtima terjadi sebelum matahari terbenam.

Kata Guru Mansur, Prinsip SulamunNairain... Dengan Izin Allah, bilamana Ijtima terjadi sebelum matahari terbenam, maka saat terbenam matahari sudah masuk awal bulan baru.