kumparan
search-gray
Entertainment1 Agustus 2020 9:11

Renungan Idul Adha: Ketaatan Ibrahim dan Kesabaran Ismail

Konten kiriman user
Renungan Idul Adha: Ketaatan Ibrahim dan Kesabaran Ismail  (145030)
Yusuf Mansur. Foto: kumparan.
Ada 2 hal yang bisa kita pelajari dari peristiwa Nabiyullah Ibrahim dan Ismail. Peristiwa yang kemudian kita rayakan sebagai hari Raya Idul Adha. Yakni tentang seni Ketaatan dan Kesabaran.
ADVERTISEMENT
Dikisahkan oleh Allah SWT dalam Surat As-Saffat Ayat 102:

Fa lammaa balagho ma’ahussa’ya qoola yaa bunayya innii aroo fil-manaami annii adzbaḥuka fanẓhur maadzaa taroo, qoola yaa abatif’al maa tu`maru satajidunii in syaa`alloohu minaṣhshoobiriin

“Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

Kurang taat apalagi Nabi Ibrahim ini. Anak yang lama dinantinya lalu diminta ama Allah swt untuk disembelih. Bayangkan kalo itu terjadi pada kita, sejuta tanya akan keluar, “Lah, kok saya?” Begitu juga Nabi Ismail. Yang sejak lahir sudah harus ditaruh di padang pasir yang tandus, lalu saat bertemu dengan ayahnya ia akan disembelih. Jika itu terjadi pada kita saat ini, pastinya akan melawan, dan bisa jadi kabur dari rumah.
ADVERTISEMENT
Begitu luar biasanya mereka menunjukkan ketaatan dan kesabaran. Di mana dengan menunjukkan keduanya itulah merupakan seni bisa memperoleh kehidupan yang bagus banget. Bisa mencapai impian kita. Bisa selesai masalah kita. Tunjukkan saja ketaatan kita pada Allah. Waktu Dhuha, kita Salat Dhuha, waktu Dzuhur, kita Salat Dzuhur.
Kenapa kita pengin dilihat oleh Allah SWT sebagai orang-orang yang taat? Di mana seninya? Di dalam penggalan Surah An-Nur ayat 54 Allah SWT berfirman:

Wa in thu thi’u tahtadu

Apa yang kamu butuhkan, kata Allah, sini, aku beresin. Yang penting kamu taat.

Saya punya murid di Korea Selatan. Dia masuk salah satu universitas di sana. Bukan anak pesantren, tapi anak SMA umum. Apa yang dia lakukan? Saat Dhuha dia Dhuha. Gak pernah putus dhuhanya. Apalagi saat waktu subuh, dzuhur, ashar, maghrib dan isya. Bahkan uang jajannya tiap hari sering dia sedekahin. Semata-mata ingin menunjukkan ketaatan pada Allah SWT.
ADVERTISEMENT
Lalu apa yang terjadi? Setelah si anak ini taat maka baginya berlaku frasa yang ke dua: tahtadu. Kata Allah, “aku akan beresin semua apa yang menjadi keinginannya” Apa keinginannya? Pengin kuliah di Korea. Asli, diberesin sama Allah.
Ketika itu dia nganterin berkas kakak kelasnya buat pertukaran pelajar ke Korea. Terus pimpinannya nanya, “kok berkasnya cuma 1?”. Dijawab, “iya saya masih semester 1”. Lalu dipanggil sekretarisnya, “beresin berkas anak ini, 2 hari udah ada di meja saya”. Maka berangkatlah dia ke Korea.
Yang ke dua, tunjukkan kesabaran. Makanya saya senang aja tuh kalo ada yang bully, nyaci. Saya berusaha sabar aja, kenapa? Karena kapan lagi menunjukkan kesabaran pada Allah Jalla Jalaluh?
ADVERTISEMENT
Ketika kita capek, letih, lelah tapi belum baca Al-Mulk, di situ kesempatan kita untuk bersabar menghalau capek, letih dan lelah itu.
Kemudian kita belajar bagaimana Thalut menghadapi tentara Jalut. Apa yang dia minta? Dia tidak minta tentara yang banyak, senjata yang canggih, tapi dia minta “Robbana ashrifalaina shabra”, “Ya Allah berikanlah kepada kami kesabaran”. Kenapa? Begitu kita minta kesabaran dan sabar itu diterima Allah SWT, maka kata Allah apa? “Sesungguhnya aku bersama orang-orang yang sabar”. Kalo Allah sudah bersama kita, maka dahsyat banget dah.
Saya punya murid. Ikut tes ke Madinah, 1600 orang ikut tes. Tapi apa kata ibunya, “kamu selesaiin dulu 30 juz sambil ngajar di kampung”.
ADVERTISEMENT
Setelah 40 hari dia ngajar ada yang nyetor sampai anak itu selesai setoran 30 juz. Terus orangtuanya terimakasih, dihadiahkanlah dia umrah. Saat umrah orang tua anak yang setoran tadi bilang, “Saya punya anak angkat di Madinah, lagi kuliah, mau ketemu dia ga?”, tanpa pikir panjang dia iyain.
Singkat cerita ketemulah dia dengan anak angkat orang tua tadi. Ketemunya pas lagi buru-buru karena dia sedang ada kelas. Terus ditariklah dia. Diajak ke kelasnya, dia tanya “tapi kan saya bukan mahasiwa”, dijawab, “udah ikut aja”. Sampai di kelas syeikh yang ngajar nanya, “siapa dia?”, yang kuliah di Madinah tadi jawab, “itu temen saya”. Nanya lagi syeikhnya “Kok saya baru liat? Apa dia mahasiswa?” dijawab, “bukan”.
ADVERTISEMENT
Seketika syeikhnya bilang, “udah siapin aja berkasnya nanti saya yang urus”. Allahu Akbar, segitu doang urusannya. Dan bener-bener tahun itu dia berangkat. Soalnya kalau kita ikut tes kan ga tahun itu juga berangkatnya. Bisa setahun atau dua tahun lagi.
Maka begitu luar biasanya kisah Nabiyullah Ibrahim dengan kesabarannya dan Nabiyullah Ismai’il dengan ketaatannya. Dari 2 cerita yang saya paparkan, masing-masing aja udah berbuah luar biasa. Ini dalam satu keluarga keduanya terjadi. Allahu Akbar.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white