Syukur, Sabar, dan Ikhlas di Segala Kondisi

Pendiri Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran

Dalam sebuah hadis qudhsi Allah berfirman wa man lam yasykur ‘ala na’mai wa lam yashbir ‘ala balai wa lam yardho bi qodhoi fal yakhruj min tahti samai wal yaghtub robban siwai: Siapa yang tidak bersyukur atas nikmat-Ku, tidak bersabar atas bala yang menimpanya, tidak rida atas keputusanku, maka keluar dari langitku dan cari Tuhan yang lain.
Jangankan di saat kita senang, di saat susah saja kita susah belajar sabar, ikhlas, syukur. Banyak orang yang bilang begini “Kalau lagi banyak duit, memang sabar perlu?” Kalau ente megang duit enggak sabar, sehari abis, bos. Hawanya pengin beli apa saja yang pengin dibeli. Selesai sudah. Makan kalau lagi sehat bisa jadi sakit. Apalagi di saat kita lagi sakit, kita lagi susah. Dan memang jawaban dari kesusahan itu 3 itu tadi.
Nabi Musa ketika dia lari dari kejaran Fir’aun akhirnya mentok juga. Kalau kita jadi Nabi Musa dan pengikutnya apa yang keluar dari kita punya omongan? “Sudah capek-capek lari ternyata mentok juga,” betul enggak? Nah, karena beliau seorang nabi akhirnya doa Nabi Musa diabadikan oleh Rasulullah SAW. Menjadi doa terhebat yang saya amalkan ketika susah. Ini doa Subhanallah. Dia puji dulu Tuhannya. Enggak semua orang bisa begini. Allahumma Lakal Hamdu. Bahkan tidak ada kalimat permintaan di situ. Saat itulah Allah memerintahkan kepada Musa untuk mengetukkan tongkatnya lalu terbelahlah lautan. Abis bersyukur, lu boleh minta.
Kata Allah, kalian mau dunia? Cari, dah. Tapi cari dengan caraku, dong. Kalau kalian cari bukan dengan caraku juga, enggak usah khawatir. Aku akan bukakan tuh pintu-pintu yang akan membuat kamu semakin senang, semakin jaya, semakin sukses. Tapi ingat, kalau kalian sudah mencapai posisi tertentu sekali tarik selesai.
Tidak ada lagi yang bisa mengajarkan ilmu sabar, ikhlas, syukur kecuali memang Allah lewat proses kehidupan. Di tengah orang pusing dengan kenaikan bbm kita biasa aja tuh. Karena kita memang bisa menyiasati keadaan. Taro aja kendaraan di rumah susah amat, sih. “Tapi kan jadi mahal,” iya emang mahal tapi kan ada puasa Daud. Anggaran tadinya buat 30 hari kan jadi 10 hari. Lagian buat orang beriman mah enggak apa-apa kita punya masalah 10 yang penting Allah ngasih jawaban 20.
“Ya Allah, makasih. Mobil saya hilang. Biar bagaimana, Engkau telah memberikan aku hak pakai selama tiga tahun. Dan tidak pernah selama itu macet. Selalu bayar tepat waktu. Engkau mengambil lagi apa yang telah Engkau berikan kepadaku. Maka hari ini aku meminta lagi kendaraan yang lebih baik daripada yang Engkau ambil, ya Rabb”, gitu, cakep. Jarang ada orang begitu kena bala langsung pindah mindset. Dari kavling orang-orang yang bakal berisiko tidak syukur menjadi orang yang bersyukur. Asik, kan.
Benarkah kita sudah bersyukur? Kata Allah, liat salatnya. Kalau salat kita semua saat ini Dzuhurnya selalu lewat azan kayaknya belom, dah. Kemudian sedekah juga begitu. Sebelum kerja, anak yatim satu, masa, setelah kerja, anak yatim juga satu?
Kita ini semuanya enggak pantas untuk enggak bersyukur. Kemampuan kita bersabar juga akan memengaruhi kita bersyukur. Banyak orang kehilangan rasa syukur karena dia kehilangan rasa sabar.

