Buzz
·
7 Juni 2021 14:07
·
waktu baca 2 menit

Mau Apa Usai Pandemi? Melanjutkan Rutinitas yang Tak Kunjung Usai: Mencintaimu

Konten ini diproduksi oleh Zahid Arofat
Mau Apa Usai Pandemi? Melanjutkan Rutinitas yang Tak Kunjung Usai: Mencintaimu (6792)
Ilustrasi matahari terbenam. Foto: Unsplash/ Csongor Tarnai
Mau apa usai pandemi? Pertanyaan sedemikian kerap dilontarkan teman kepadaku. Cukup menggelitik karena aku merasa pertanyaan itu ditujukan kepada orang yang menurutku kurang tepat.
ADVERTISEMENT
"Lha kok tanya kepadaku? Mbok ya tanya gitu harusnya ke orang-orang yang merasa diuntungkan dengan adanya pandemi," jawabku.
Seorang temanku terdiam sejenak. Tanpa perlu pertanyaan lanjutan, aku lebih dulu menjelaskan.
Tak bisa dimungkiri banyak orang atau pihak yang merasa diuntungkan dengan adanya pandemi COVID-19. Tentu, bagi mereka yang bisa melihat peluang. Misalnya dengan jualan masker atau pembuat APD.
Tak hanya itu, selama pandemi ini menjadi hal lumrah ke mana-mana harus melakukan tes usap dan segala macamnya. Ini juga menjadi peluang yang dilirik oleh banyak oknum. Banyak dijumpai oknum menjual tes usap palsu dengan keuntungan yang luar biasa.
Mau Apa Usai Pandemi? Melanjutkan Rutinitas yang Tak Kunjung Usai: Mencintaimu (6793)
Ilustrasi melakukan Swab Test Antigen. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Ada juga yang ingin mendapatkan keuntungan besar secara instan. Pemerintah yang besar-besaran gelontorkan dana untuk penangan COVID-19 juga untuk pemulihan permasalahan ekonomi bagi masyarakat yang terdampak pandemi juga dilirik adanya celah untuk mendapatkan keuntungan bagi para oknum tak bertanggung jawab. Dana bantuan sosial (bansos) dikorupsi.
ADVERTISEMENT
Ironisnya, KPK sebagai lembaga antirasuah itu justru dikikis pelan-pelan dalam berbagai kesempatan. Tentu masih ingat di benak kita terkait wacana Densus Tipikor Polri ((2007), upaya hak angket ke KPK (2007), hingga Revisi UU KPK (2019).
Terbaru, barangkali soal polemik tes ASN dan penonaktifan 75 pegawai KPK yang tak lolos tes wawasan kebangsaan (TWK) yang di antaranya muncul nama Novel Baswedan yang dikenal publik dalam kasus penyiraman air keras oleh dua oknum polisi pada 2017 silam.
Hal ini membuat salah seorang teman saya membuat tulisan berjudul Hal yang Ingin Saya Lakukan Usai Pandemi: Foto di Gedung KPK Sebelum Tamat. Bukan tanpa alasan, ia yakin betul bahwa ada penyerangan terhadap upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.
Mau Apa Usai Pandemi? Melanjutkan Rutinitas yang Tak Kunjung Usai: Mencintaimu (6794)
Tulisan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tertutup kain hitam di Gedung Merah Putih KPK. Foto: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Menurutnya, ini bukan soal Novel Baswedan atau siapa pun dari ke-75 nama tersebut yang kemudian mengundang ribut kalau timbangannya jelas untuk mengukur kapasitas mereka. Apalagi jika yang dijadikan patokan adalah sejumlah pertanyaan absurd dalam tes, misalnya "Kok belum nikah?", "Subuhnya pakai qunut?", hingga pertanyaan "Pilih pancasila atau Al-Qur'an?", yang dirasa tidak patut.
ADVERTISEMENT
Oleh karenanya, teman saya itu merasa bahwa ini adalah babak akhir KPK. Lantas, dia sangat ingin berfoto di gedung KPK ketika nanti usai pandemi sebelum gedung yang kelak jadi tempat bersejarah itu roboh.
Jika teman saya ingin berfoto di gedung KPK usai pandemi, lantas apa yang ingin saya lakukan?
Tidak neko-neko, saya hanya ingin melanjutkan rutinitasku yang tak kunjung selesai. Rutinitas yang bahkan jauh sebelum adanya pandemi: mencintaimu (kekasihku). Sesederhana itu, sampai entah.