kumparan
16 Sep 2019 16:07 WIB

Mengenal Penyebab Karhutla dan Bencana Kabut Asap di Indonesia

Kabut asap akibat kebakaran hutan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Foto: Reuters/Willy Kurniawan
Jakarta, 16 September 2019 - Akhir-akhir ini, bencana kabut asap yang melanda daerah Sumatera dan Kalimantan semakin menjadi-jadi. Bencana kabut asap ini mengakibatkan jadwal penerbangan menuju dan dari daerah terdampak kabut asap pun ikut terganggu. Tidak hanya itu, berbagai jenis gangguan kesehatan akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga mengancam warga terdampak bencana, seperti iritasi mata dan gangguan pernapasan.
ADVERTISEMENT
Bencana kabut asap yang terjadi berhari-hari ini tentu saja menjadi pertanyaan di benak kita: Mengapa bencana kabut asap ini seakan tidak habis-habis? Dalam artikel ini, Zenius akan mengupas masalah karhutla serta kabut asap.
Pertama, di artikel ini Zenius akan mencegah pemahaman yang salah tentang masalah kebakaran hutan. Sebenarnya kebakaran hutan itu adalah proses yang secara alami terjadi di alam, yang normal terjadi pada saat musim kering. Kebakaran ini memiliki fungsi sangat penting bagi ekosistem hutan, yaitu untuk menjaga keanekaragaman jenis (spesies) tumbuhan dan hewan yang ada di hutan dengan cara mencegah adanya spesies yang mendominasi di hutan.
Yang perlu digarisbawahi adalah, kebakaran yang murni karena siklus alam biasanya tidak menyebar terlalu luas, karena tumbuhan hidup mengandung air yang banyak sehingga sangat sulit untuk terbakar. Maka dari itu, kebakaran alami biasanya hanya menghasilkan kebakaran yang relatif ringan.
ADVERTISEMENT
Meskipun kebakaran hutan dapat terjadi secara alami, di Indonesia kebakaran hutan sering disebabkan atau diperparah oleh ulah manusia, baik langsung mau pun tidak langsung. Secara langsung, manusia bisa membuat hutan kebakaran melalui tindakan-tindakan tertentu seperti pembukaan lahan dengan cara dibakar dan pemakaian api yang tidak benar saat berada di dalam hutan. Secara tidak langsung, manusia juga dapat mempermudah terjadinya kebakaran hutan dengan mengubah fungsi lahan yang ada, seperti pengeringan rawa-rawa gambut.
Lantas, apa hubungan lahan gambut dengan kebakaran hutan?
Tanah gambut sejatinya merupakan lapisan organik hasil dekomposisi (penguraian) yang tidak sempurna dari tumbuhan. Pada proses pembentukan tanah gambut, sisa-sisa tumbuhan yang telah mati (terutama kayunya) terendam oleh air, biasanya dari air hujan yang terkumpul di cekungan di dataran. Kalau kasusnya sisa tumbuhan mati itu terendam air, berarti proses dekomposisinya akan menggunakan molekul-molekul oksigen yang ada di dalam air.
ADVERTISEMENT
Tapi, kadar oksigen di dalam genangan air relatif terbatas dan sampai suatu saat, oksigen di air tersebut habis (kondisi anaerob) dan proses dekomposisi sisa-sisa tumbuhan jadi lambat. Akumulasi dekomposisi yang sangat lambat inilah yang akan membentuk lapisan gambut.
Singkatnya, lapisan gambut bisa dibilang seperti tumpukan kayu hasil dari lambatnya proses dekomposisi karena sisa-sisa tumbuhan terendam oleh air. Ekosistem yang membentuk lapisan gambut biasa disebut ekosistem rawa gambut, disebut rawa karena memiliki banyak air.
Seperti yang sudah disebutkan di atas, rawa gambut bisa dikeringkan dan inilah yang menyebabkan lahan gambut mudah terbakar. Banyak orang yang menganggap lahan gambut merupakan lahan yang tidak produktif. Untuk membuat lahan gambut produktif (dijadikan lahan pertanian dan lahan perkebunan), lahan gambut perlu dikeringkan terlebih dahulu.
ADVERTISEMENT
Mengeringkan lahan gambut bisa dilakukan dengan cara dibuat kanal-kanal sehingga air rawa gambut yang awalnya stagnan dapat mengalir ke sungai. Alhasil, ekosistem rawa gambut berubah menjadi tanah dengan lapisan gambut.
Pada saat ini, di Indonesia, banyak ekosistem gambut yang dikeringkan untuk dijadikan lahan-lahan yang “lebih produktif”. Konsekuensinya, luas lahan di Indonesia yang memiliki lapisan gambut kering sangat besar. Lahan gambut yang kering itu dapat menimbulkan berbagai risiko masalah serius.
Saat terjadi kekeringan panjang, lahan gambut menjadi tumpukan kayu kering yang siap terbakar, sehingga tanpa ada yang membakar pun, lahan gambut itu bisa terbakar dengan sendirinya. Kalau ditambah dengan adanya pihak yang sengaja membakar hutan gambut yang sedang kering, kebakaran ini dipastikan akan semakin dahsyat.
ADVERTISEMENT
Di sisi lain, risiko masalah juga timbul saat musim hujan. Sesuai namanya, rawa gambut memiliki fungsi utama untuk menampung air. Dengan dikeringkannya rawa gambut, tidak ada lagi yang menahan air hujan. Dampak langsung dari pengeringan rawa gambut adalah munculnya masalah banjir di tempat lain jika terjadi musim hujan.
Lalu, bagaimana upaya penanggulangannya?
Tentu saja dengan berhenti mengeringkan rawa-rawa gambut. Jika lahan gambut yang dikeringkan terus bertambah, maka potensi kebakaran makin bertambah. Di musim kemarau, lahan tersebut bisa terbakar sendiri bahkan tanpa ada orang yang sengaja membakar hutan.
Apabila lahan gambut sudah terlanjur dikeringkan, kita bisa membasahi kembali lahan tersebut dengan membendung kanal-kanal pengering yang akan membuat air kembali mengalir ke lahan gambut. Lahan gambut kembali menjadi rawa gambut yang memiliki banyak air sehingga area tersebut jadi sulit terbakar.
ADVERTISEMENT
Upaya penanggulangan lainnya bisa dengan penyemprotan air, membuat hujan buatan, membuat sekat bakar, dan membuat kanal air untuk mengalirkan air dalam jumlah besar ke area gambut yang sedang terbakar.
Zenius berharap, artikel ini mampu memperluas pemahaman pembaca tentang kebakaran hutan. Kita semua bisa jadi lebih bijak dalam memandang hingga mendukung aksi penanganan kabut asap yang sedang berlangsung.
Untuk membaca lebih lengkap artikel mengenai bencana kabut asap di Zenius blog, kamu bisa mengunjungi link berikut ini.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan