Konten dari Pengguna

Semua Terlihat Baik-baik Saja, Tapi Tidak Saat Sendirian

Zuhria
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Madiun
29 November 2025 22:41 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Semua Terlihat Baik-baik Saja, Tapi Tidak Saat Sendirian
Tulisan ini membahas fenomena banyak orang terlihat baik-baik saja padahal menyimpan beban batin yang tak terlihat
Zuhria
Tulisan dari Zuhria tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi seseorang duduk menatap keluar jendela dalam suasana hening (Sumber: https://pixabay.com/id/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang duduk menatap keluar jendela dalam suasana hening (Sumber: https://pixabay.com/id/)
ADVERTISEMENT
Kita hidup di masa ketika hampir semua orang terlihat baik-baik saja. Foto di media sosial penuh senyum, caption penuh motivasi, seakan semua orang sudah menang dalam hidup. Namun ketika layar ponsel terkunci dan seseorang kembali sendirian di kamarnya, tidak banyak yang benar-benar merasa setenang tampilan online mereka. Inilah ironi zaman sekarang: manusia semakin terhubung, tapi semakin kesepian.
ADVERTISEMENT
Hari ini banyak orang memikul perasaan lelah yang tidak berani mereka tunjukkan. Budaya masyarakat berkali-kali mengajarkan bahwa mengaku lemah itu memalukan. Kita terdorong untuk menyimpan cerita buruk dan hanya menunjukkan sisi kuat. Setiap orang dipaksa terlihat tangguh, meski hidupnya sedang berantakan. Akibatnya banyak orang memilih diam saat mereka sebenarnya butuh ditolong.
Lingkungan pendidikan dan pekerjaan memperkuat tekanan itu. Nilai akademik dan target kerja seakan menjadi satu-satunya ukuran layak tidaknya seseorang. Tidak banyak ruang untuk jujur tentang keadaan emosional. Ketika seseorang gagal, mereka langsung dianggap kurang berusaha, padahal mungkin mereka sedang menanggung banyak hal yang tidak terlihat. Dunia menilai hasil, bukan proses hati seseorang.
Fenomena ini meninggalkan dampak yang nyata. Banyak anak muda merasa kalah dalam hidup hanya karena membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain di media sosial. Ada yang mulai menarik diri dari pergaulan karena merasa tidak sebaik orang lain. Ada yang tertawa keras di depan teman, tapi menangis setelah pulang ke kamar. Banyak hati yang pecah dalam diam tanpa ada yang menyadari.
ADVERTISEMENT
Karena itu kita perlu membangun cara pandang baru. Hidup tidak harus terlihat sempurna. Manusia boleh lelah, boleh bingung, boleh jatuh. Mengakui bahwa hidup sedang berat bukan berarti kita kalah. Justru itu menunjukkan bahwa kita masih berusaha bertahan. Ketidaksempurnaan bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Itu bagian dari perjalanan menjadi dewasa.
Kalau masyarakat mulai memahami hal ini, hubungan antar manusia bisa lebih jujur dan hangat. Tidak semua harus menjadi perlombaan. Tidak semua harus terlihat sempurna. Kita bisa menciptakan ruang di mana seseorang boleh berkata "Aku belum baik hari ini" tanpa takut dipandang rendah. Dari sana, barulah manusia benar-benar menjadi manusia—bukan sekadar makhluk yang menutupi luka agar terlihat kuat.
Hidup ini bukan tentang terlihat bahagia. Hidup adalah tentang berproses dan tetap berjalan, bahkan ketika rasanya berat. Dan mungkin, kalau kita berani sedikit lebih jujur tentang perasaan sendiri, dunia ini tidak akan terasa sesepi sekarang.
ADVERTISEMENT
Zuhria, Mahasiswa Ilmu Komunikasi.