Badai Salju di Jerman

Cerita Kalis Peserta Ferienjob Jerman: Perusahaan Nyaman, Agensi Bermasalah

1 April 2024 22:04 WIB
·
waktu baca 11 menit
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ferienjob jadi sorotan ketika Polri menyebut program kerja pada masa liburan (semester break) di Jerman yang diikuti 1.047 mahasiswa Indonesia itu terindikasi tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
Istilah “magang” pada Ferienjob disebut kedok semata. Nyatanya, menurut KBRI Berlin, Ferienjob—yang diatur dalam Ordonansi Ketenagakerjaan Jerman—bukanlah program magang, melainkan kerja fisik yang tidak berhubungan dengan kegiatan akademis.
Salah satu peserta Ferienjob, Kalis dari salah satu universitas di Jawa Tengah, merasa persoalan terletak pada agensi penyalur di Indonesia, PT Sinar Harapan Bangsa (SHB), yang sejak awal tidak membeberkan informasi secara transparan.
Dari awal proses sosialisasi, staf PT SHB berkali-kali menyebut Ferienjob sebagai program magang bagi mahasiswa—hal yang kemudian dibantah KBRI Berlin yang menyebut bahwa Ferienjob adalah kerja fisik yang tidak berhubungan dengan kegiatan akademis.
Belum lagi PT SHB mengiming-imingi gaji tinggi. Padahal, tidak semua peserta Ferienjob mendapatkan gaji besar. Beberapa di antaranya bahkan justru terlilit utang akibat gajinya tak menutupi modal awal untuk berangkat ke Jerman.
Jerat utang menimpa sebagian peserta Ferienjob. Ilustrasi: Shutterstock
Namun, Kalis tak setuju jika Ferienjob disebut tindak pidana perdagangan orang. Ia pun tak merasa sebagai korban TPPO karena ia dan kawan-kawannya tidak mengalami ekspoitasi fisik.
Berikut cerita lengkap Kalis kepada kumparan, Sabtu (30/3):

Bagaimana bisa tahu Ferienjob?

Awal tahu Ferienjob karena ada semacam sosialisasi dari kampus. Ada poster digital yang disebarkan ke grup-grup jurusan. Waktu itu yang mengisi sosialisasi [adalah staf PT SHB yang] sekarang menjadi salah satu tersangka.
Di kampus saya sosalisasinya berupa zoom meeting. Saat itu dijelaskan bahwa kami akan jadi tenaga kerja di Jerman. Saya nggak menyangkal dia (staf SHB) bilang ada [sejumlah besar] gaji bersih yang akan kami bawa pulang, dan ada hal-hal yang wow [terkait pengalaman bekerja profesional].
Tapi saya orangnya realistis. Jadi saya tahu worst case-nya nggak bakal kayak gitu. Saya juga mengukur diri saya sendiri, lalu konsultasi ke orang tua dan kasih tahu ke teman-teman. Biar saya nggak sendiri kalau mau ikutan.
Saya sebarin [info Ferienjob] ke teman-teman. Saua juga kirim record sosialisasi zoom-nya ke orang tua biar mereka dari awal tahu prosesnya.
Saya akhirnya mendaftar karena orang tua mendukung dan percaya, karena programnya dibawa oleh kampus.
Pamflet Ferienjob yang disebar ke mahasiswa RI Foto: Dok. Istimewa

Saat sosialisasi, Ferienjob disebut sebagai program magang atau kerja?

Dari awal tuh sebenarnya sudah sangat jelas kalau ini akan bekerja, tapi ada embel-embel “magang”. Jadi bahasanya seolah diperhalus jadi magang. Itu yang saya sayangkan. Padahal kalau kita mendengar secara saksama, itu sangat jelas yang dimaksud adalah kerja.
Seharusnya tidak perlu pakai kata magang. Langsung saja bilang “kerja”.

Berapa uang yang dibayarkan peserta ke PT SHB?

Untuk administrasi, kami cuma dibantu urus working permit. Pertama, untuk pengajuan visa, kami bayar €150. Lalu €200 untuk memproses working permit. Sisanya kayak uang paspor, uang asuransi, uang apostille (legalisasi dokumen untuk digunakan di luar negeri), pakai uang pribadi.
Jadi memang kami keluarkan modal dulu di awal. Kalau ke PT SHB kurang lebih €350, sisanya sekitar Rp 7–10 juta untuk modal pribadi di luar tiket pesawat, supaya kami bisa berangkat ke sana.
Pengajuan Visa Schengen. Ilustrasi: Shutter Stock

Visa jenis apa yang dipergunakan untuk program Ferienjob?

Visa Schengen. Jadi bukan visa turis, tapi visa bisnis. Hanya berlaku tiga bulan.
Situs web Kedutaan Jerman menjelaskan, Visa Schengen digunakan untuk pariwisata, mengunjungi teman atau keluarga, melakukan perjalanan bisnis, menghadiri pameran dagang, atau tujuan lain di luar mendapat pekerjaan. Visa ini berlaku maksimum 90 hari.
Visa kami legal karena program ini (Ferienjob) juga legal dari pemerintah Jerman. Agensinya saja yang ternyata bermasalah.
Kalau ada [peserta] yang bilang kayak luntang-lantung di sana, mungkin iya ada yang begitu. Tapi kami tidak disandera, bukan imigran gelap.

Berapa lama proses pendaftaran sampai keberangkatan?

Persiapan berangkat itu berarti dari Mei sampai Oktober–November 2023. Ada yang berangkat awal Oktober, ada yang awal November. Diberangkatkan per kloter. Saya pertengahan Oktober.
Bandara Frankfurt di Jerman. Foto: Venturelli Luca/Shutterstock

Apakah ada pelatihan bahasa Jerman sebelum berangkat?

Sangat disayangkan tidak ada. Cuma di awal disyaratkan bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Katanya itu sudah cukup.
Sebenarnya sempat ada pelatihan bahasa Jerman, tapi itu kayak cuma formalitas. Jadi di grup chat besar, dengan begitu banyak orang, ada salah satu koordinator yang omong, ini ada kelas bahasa Jerman, yang dasar-dasar saja.
Itu cuma beberapa kali pertemuan, sudah. Yang ikut pun sedikit. Sosialisasinya nggak semua peserta tahu.
Kalau untuk pelatihan skill, enggak ada ada sama sekali.

Selama proses persiapan ke Jerman sampai kembali ke Indonesia, apakah pihak kampus mendampingi?

Dari kampus saya mendampingi, dari awal kami sampai di sana sampai pulang. Bahkan bapak dan ibu akademisi yang terlibat sering bertanya ke grup chat peserta yang khusus kampus saya soal bagaimana kabar kami, ada kesulitan apa, ada yang bisa dibantu atau tidak.
Jadi secara rutin melaporkan keadaan kami di Jerman, seperti sudah mendapatkan pekerjaan atau belum, dan lain-lain.
UNJ, salah satu kampus yang mahasiswanya mengikuti Ferienjob. Foto: Adning/Shutterstock

Bagaimana skema pemberangkatannya? Per kelompok atau per kampus?

Dipecah (tidak per kampus). Kami yang satu universitas bisa sama sekali belum bertemu di Indonesia maupun Jerman. Sistem mereka (agensi) benar-benar random, diacak. Kami dapat nomor peserta dari nomor 1 sampai nomor 1.047. Itu jumlah yang berangkat.
Yang nggak jadi berangkat banyak. Yang gagal visa juga banyak karena working permit-nya ternyata ada yang bermasalah.
Pembagian [keberangkatan] dilakukan anak perusahaan (agensi penyalur). Dari Indonesia ada PT SHB sama CV GEN. Dari Jerman ada tiga agensi besar, yaitu Runtime, RAJ dan Brisk.
Kami nyebut [sesama peserta] tuh, ini “anak Runtime”, “anak RAJ”, “anak Brisk”. Sayangnya dari awal sebenarnya benar-benar berantakan, kayak kurang efektif pembagian kelompoknya. Ya sudah, terserah mereka.
Uang Euro. Peserta Ferienjob RI yang membayar mandiri mendapat prioritas. Foto: Shutter Stock
Keberangkatan juga dipengaruhi oleh sistem pembayaran dari tiap mahasiswa, apakah mandiri atau menggunakan dana talangan.
Karena soal dana cukup memberatkan bagi beberapa mahasiswa, jadi agensi menyediakan dana talangan yang sistemnya seperti paylater. Anak [yang memakai dana] talangan rata-rata diberangkatkan pertengahan sampai akhir Oktober 2023, bahkan ada juga yang awal November.
Sementara anak-anak mandiri yang membeli tiket sendiri, dibilangin “Terserah kamu berangkatnya kapan, yang penting konfirmasi.”
Rata-rata anak mandiri berangkat di awal. Tidak terkoordinasi antara keberangkatan [anak dengan dana] mandiri dengan yang talangan.

Bagaimana dengan pembagian kerjanya?

Awalnya kami dikirim Google Form, ditanya punya pengalaman apa, skill apa. Tapi form itu ternyata sama sekali nggak berguna. Cuma sebagai persyaratan mereka saja. Pada akhirnya kerja yang dibagikan ke kami itu random. Ada juga yang enggak dapat kerja di pengumuman [yang disampaikan sebelum berangkat]. Mereka (agensi) bilangnya itu masih pengumuman sementara.

Lalu bagaimana dengan peserta yang belum dapat tempat kerja sesampainya di Jerman?

Mereka dibilangin [agensi], “Ya sudah, yang penting kamu datang dulu ke Jerman, baru nanti di sana akan dibagi lagi pekerjaan tetapnya.”
Ini jadi masalah [terkait keberangkatan]. Peserta yang bayar mandiri berbondong-bondong cepet-cepetan berangkat, sedangkan peserta dana talangan tertahan.
Orang-orang yang seharusnya bekerja di sana (suatu perusahaan) jadi keacak-acak, keganti sama orang-orang yang sudah datang duluan. Ini yang akhirnya menyebabkan ada yang luntang-lantung dan sebagainya, karena sistem penempatan kerja dari tiga agensinya tidak bagus.
Hujan salju di Berlin. Foto: Hannibal Hanschke/REUTERS

Pekerjaan yang didapat, sesuai dengan yang dijanjikan atau berbeda?

Setahu saya banyak yang nggak sesuai, karena ada juga job-job “gaib”. Ada yang dijanjikan jadi driver karena punya SIM A, tapi ternyata posisi driver nggak ada. Ada juga yang ditawari jadi petugas di bandara, tapi ternyata posisinya juga enggak ada. Banyak yang nggak jelas
Akhirnya mayoritas ke perusahaan-perusahan logistik. Ada juga yang ke kafe, toko bahan makanan, parfum, dan lain-lain.
Saya sendiri karena punya background pemasak di salah satu restoran, awalnya berpikir akan ditempatkan di hotel atau tempat-tempat yang berhubungan dengan bahan baku makanan. Tapi ternyata saya juga ditempatkan di perusahaan logistik.
Proses pengepakan. Foto: industryviews/Shutterstock

Jadi detail pekerjaan tidak diinfokan ketika akan berangkat?

Paling yang kami tahu hanya perusahaannya; dibilangin ”Kamu bekerja di sini, nanti gajinya segini.” Tapi untuk detailnya, bagian mana, nanti pas udah tanda tangan kontrak dengan perusahaan itu [di Jerman], baru dijelaskan oleh supervisor atau managernya.

Sebelum berangkat, apakah tanda tangan kontrak kerja di Indonesia?

Enggak. Kami hanya tanda tangan working permit dan persiapan visa. Sisanya tanda tangan di Jerman.

Waktu tanda tangan kontrak di Jerman, ada klausul pemotongan gaji?

Mungkin karena beda koordinator, beda agensi, beda juga orang yang meng-handle. Teman saya mengaku baik-baik saja koordinatornya, tapi koordinator saya hanya menjelaskan bahwa ada pemotongan untuk akomodasi kurang lebih disamaratakan €19–20 per malam per orang.
Dia memang menjelaskan gaji dari perusahaan akan dikirim per bulan. Jadi pihak agensi yang berniat membantu (dana talangan) itu bakal mengirimkan uangnya per minggu, seolah uang saku; baru nanti di akhir gajinya dipotong oleh uang saku itu.
Secara teoritis mungkin fair-fair saja, tapi ternyata pas kami dapet slip gaji, pemotongannya memang ada banyak selain akomodasi dan uang saku per minggu. Ada juga uang tukang atau uang apa gitu yang diselip-selipkan.
Perusahaan di Jerman memang mengirim gaji ke agensi dulu, enggak ada yang langsung ke mahasiswa pekerja. Itulah celah bagi mereka (agensi) untuk bisa motong-motong gaji.

Saat Jerman tinggal di mana?

Lingkungannya yang saya tempati lumayan aman. Bukan yang desa-desa banget, bukan yang kota-kota banget (kota kecil/town, bukan kota besar/city).
Kota kecil di Jerman. Foto: Shutterstock
Jadi secara okomadasi masih oke, walaupun ternyata secara harga—setelah saya tanya ke mahasiswa atau WNI di sana, maupun pekerja-pekerja dari negara lain—ternyata mahal, €19–20.
Menurut mereka itu sangat mahal dengan akomodasi yang kurang layak. Untuk harga €19–20, kata mereka bisa dapat yang mewah. Apalagi tempat tinggalnya sharing, bukan buat sendiri.

Tinggal di flat atau apartemen?

Ada yang di flat. Nah ini jadi permasalahan berikutnya di antara mahasiswa peserta Ferienjob. Dengan harga yang sama karena dipukul rata, ada yang tinggal di peternakan, ada yang di flat, ada yang di rumah tua, ada yang sangat bagus. Jadi secara manusiawinya kami akan saling iri, karena dipotongnya sama, tapi kondisinya beda-beda. Saya tinggal di rumah tua.
Fasilitasnya juga beda-beda. Ada yang di apartemen lengkap dengan mesin cuci dan dryer-nya karena di sana musim dingin; ada yang nggak punya mesin cuci, jadi otomatis harus nyuci sendiri atau cari laundry, berarti pengeluaran per orang juga akan beda-beda.
Ruas jalan di Jerman. Foto: REUTERS/Wolfgang Rattay

Jarak dari tempat tinggal ke tempat kerja berapa jauh?

Kalau naik bus 30–45 menit. Rata-rata teman-teman lain ke tempat kerja sekitar sati jam naik angkutan umum. Ada juga yang sampai dua jam. Kalau mau cepat naik taksi, tapi mahal banget.

Saat bekerja di perusahaan logistik, job desc-nya seperti apa?

Saya di bagian sortir. Saya mungkin beruntung, karena di bagian saya itu banyak laki-laki. Tiap ada barang-barang besar, mereka langsung ambil alih. Jadi saya ambil yang kecil-kecil saja, dan rata-rata yang saya pegang memang sangat ringan, antara 0,5 kg sampai—maksimal yang saya handle—15 kg.
Jadi secara fisik dan mental, saya sangat didukung oleh perusahaan, bukan dari agensi. Jadi kalau dengan perusahaannya, saya sangat nyaman.

Bagaimana dengan jam kerja?

Saya 8 jam per hari. Dalam seminggu, saya kerja 5–6 hari. Yang saya tahu, rata-rata seperti itu.

Jumlah gaji per bulan sebelum dipotong berapa?

Saya nggak ngitung sebelum dipotong. Pemotongannya kan ada banyak. Kalau gaji bersihnya kurang lebih €1.400 per bulan. Mungkin kalau dirupiahkan sekitar Rp 23 juta per bulan.
Amplop gaji. Ilustrasi: Freedom Life/Shutterstock

Berarti sebenarnya kalau dihitung-hitung nggak terlalu banyak ya? Itu cukup untuk menutup biaya visa, tiket pesawat, dan lain-lain?

Kalau saya memang balik modal, tapi pas. Tapi ada mahasiswa yang merasa sangat dirugikan, yang benar-benar defisit, minus, sampai masih punya utang.
Ada juga yang dapat lebih. Itu tergantung perusahaan dan gajinya.

Soal konversi ke SKS bagaimana?

Program ini dijanjikan awalnya bisa konversi, tapi ternyata dikembalikan ke kampus masing-masing. Nah, jurusan saya tidak mau konversi.
Kalau objektif, fair-fair aja, karena kerja saya di Herman juga tidak linier dengan studi saya. Kerjanya tidak sesuai dengan jurusan.
Tapi ternyata banyak juga yang dikonversi. Jadi keputusannya balik ke kampus dan jurusan masing-masing, apakah [kerjanya] diterima sebagai SKS atau tidak.
Kemendikbud Ristek dalam suratnya kepada seluruh perguruan tinggi di Indonesia pada akhir Oktober 2023 menyatakan bahwa kegiatan Ferienjob tidak mendukung proses pembelajaran dan tidak memenuhi kriteria aktivitas Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
niversitas Jambi juga mengirim mahasiswa ke Ferienjob. Foto: Humas Universitas Jambi/HO Antara

Bagaimana tanggapan Anda setelah sekarang Ferienjob dikaitkan dengan tindak pidana perdagangan orang?

Syukurnya saya sama sekali enggak merasa dieksploitasi karena perusahaan logistik tempat saya bekerja sangat memenuhi hak-hak saya, bahkan sangat baik. Contoh sederhana, misalnya ada pekerja yang nggak bisa makan babi, mereka menyediakan [makanan yang sesuai] di kantin. Jadi difasilitasi.
Jadi perusahaan kerja saya itu nyaman. Saya hanya bermasalah dengan agensi.
Saya pribadi kaget karena tiba-tiba kok disebut ada TPPO. Karena saya enggak merasakan. Mungkin saya termasuk yang beruntung. Nah, teman-teman saya juga nggak merasakan [eksploitasi]. Paling apes miskomunikasi, akomodasi. Jadi enggak separah yang dikira orang.

Setibanya di Indonesia, apakah kampus bicara dengan para mahasiswa peserta Ferienjob?

Dari kampus ada mediasi. Kami duduk bareng-bareng gitu, cerita satu-satu keluhannya apa, dan mereka mencatat untuk pendataan.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten