Kumparan Logo

Indonesia Sumbang 40 Persen Penemuan Gas Bumi Asia Pasifik di 2023

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pertambangan migas Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pertambangan migas Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

Indonesia Petroleum Association (IPA) mencatat Indonesia sangat penting bagi lanskap industri minyak dan gas bumi (migas) di tengah era transisi energi, dengan menyumbang penemuan cadangan gas yang besar.

Presiden IPA sekaligus Presiden Direktur Petronas Indonesia, Yuzaini Md Yusof, menuturkan Indonesia yang sedang menggenjot pembangunan seiring dengan pertumbuhan populasi harus mengamankan dan meningkatkan pasokan energi dalam negeri.

Yuzaini menilai, investasi hulu migas di Indonesia perlu diakselerasi untuk menahan penurunan produksi migas dan memitigasi emisi gas rumah kaca.

"Pada tahun 2023, Indonesia menyumbang 40 persen dari volume penemuan kami di kawasan Asia Pasifik. Hal ini memberikan kegembiraan baru dan menegaskan posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam lanskap energi global," ujarnya saat sambutan di IPA Convex ke-48, Selasa (14/5).

Yuzaini menuturkan, desakan transisi energi kepada energi baru terbarukan (EBT) terus menguat, peran energi fosil masih sangat penting bagi Indonesia karena proses transisi energi tidak sebentar.

"Meskipun Indonesia sedang mengembangkan energi baru terbarukan yang memadai, industri hulu akan terus memainkan peran penting yang berupaya untuk secara bersamaan melakukan transformasi guna mengurangi emisi karbon," jelasnya.

Menteri ESDM Arifin Tasrif bersama Presiden Direktur ExxonMobil Indonesia Carol Gall dan Managing Executive Officer Senior Vice President Asia Projects Inpex Akihiro Watanabe di exhibition IPA Convex IPA ke-48, Selasa (14/5/2024). Foto: Fariza/kumparan

Menteri ESDM Arifin Tasrif membenarkan peran industri migas masih krusial bagi Indonesia di tengah era transisi energi. Menurut BP Energy Outlook, total konsumsi akhir, termasuk migas, mencapai puncaknya pada pertengahan hingga akhir tahun 2020-an dalam skenario accelerated dan Net Zero.

"Sebaliknya, dalam skenario New Momentum, yang mencerminkan sistem energi dunia saat ini, total konsumsi akhir meningkat hingga sekitar tahun 2040, setelah itu konsumsi energi mencapai titik stabil pada tahun 2050," ujar Arifin.

Arifin mengatakan, dalam 3 skenario transisi energi, yakni Accelerated, Net Zero, dan New Momentum, pemanfaatan minyak dan gas masih tetap dilakukan hingga tahun 2050, meskipun penggunaan langsungnya menurun karena peningkatan efisiensi energi, peningkatan penggunaan listrik, dan dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan.

Bagi Indonesia, lanjut dia, selama transisi menuju Net Zero Emission pada tahun 2060, migas akan terus memainkan peran penting dalam mengamankan pasokan energi, khususnya di bidang transportasi dan pembangkit listrik.

kumparan post embed

"Gas akan digunakan untuk menjembatani 100 persen penerapan pembangkit energi terbarukan. Meski demikian, industri hulu migas harus menerapkan strategi penurunan emisi termasuk penerapan teknologi energi bersih seperti CCS/CCUS," imbuhnya.

Kemudian, untuk memenuhi kebutuhan migas, Indonesia saat ini memfokuskan upaya eksplorasi cekungan migas, mengingat Indonesia masih menyimpan banyak cadangan migas yang belum dimanfaatkan. Dari 128 cekungan hidrokarbon, 68 di antaranya masih belum dieksplorasi.