Kumparan Logo

Produksi Gas Indonesia Belum Diimbangi Infrastruktur yang Memadai

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto. Foto: Dok. SKK Migas
zoom-in-whitePerbesar
Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto. Foto: Dok. SKK Migas

Pemerintah terus mendorong produksi gas bumi di sektor hulu migas. Gas menjadi jembatan untuk transisi energi nasional dari fosil ke energi baru dan terbarukan.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengatakan peningkatan produksi gas belum diimbangi dengan ketersediaan infrastruktur gas. Akibatnya di Jawa Timur terjadi kelebihan gas mencapai 150 MMSCFD yang tidak bisa diproduksi karena tidak ada yang menyerap, hal sama juga terjadi di Natuna.

Saat ini pemerintah telah memberikan perhatian untuk pembangunan infrastruktur gas seperti proyek pipa gas Dumai-Sei Mangke dan penyelesaian proyek pipa Cisem II. Proyek ini juga mengalami mangkrak berkepanjangan saat dipegang Bakrie Group.

“Jika Sumatera, Jawa hingga Bali sudah terhubung infrastruktur gas, maka potensi gas yang ada dapat lebih dioptimalkan, dan kebutuhan industri pengguna gas dapat dipenuhi”, kata Dwi dalam acara 22 Tahun Hulu Migas Berbakti dan Mengabdi untuk Negeri, Selasa (16/7).

Proyek besar lainnya yang tengah berjalan adalah Lapangan Jangkrik, Lapangan Jambaran Tiung Biru, dan Tangguh Train 3.

Selain itu kegiatan usaha hulu migas, seperti pengeboran dan eksekusi proyek, turut menciptakan multiplier effect bagi industri lain melalui penerapan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN), yang mencapai Rp 76,5 triliun pada tahun 2023 dan penyediaan lapangan kerja untuk 150 ribu pekerja.

Barang Milik Negara (BMN) yang dikelola oleh sektor hulu migas kini bernilai USD 67,7 miliar, sekitar Rp 621 triliun.

Ilustrasi pipa gas PGN. Foto: PGN

Butuh Investasi Besar

Terkait kiprah indusri hulu migas dimasa yang akan datang, Dwi menyampaikan hulu migas telah memiliki Long Term Plan (LTP) yang merupakan rencana jangka menengah dan panjang kita untuk merealisasikan produksi 1 juta BOPD dan 12 BSCFD. LTP ini diupayakan melalui empat strategi, yaitu Improving Existing Asset Value, Transformation Resources to Production, Waterflood and Enhanced Oil Recovery, dan Exploration for Giant Discovery dengan rencana proyek mencapai 138 proyek hulu migas dari tahun 2024 hingga 2029. Proyek-proyek ini akan membutuhkan total investasi senilai Rp543 triliun.

“Besarnya investasi hingga 2029 menunjukkan bahwa industri hulu migas tetap berkembang di tengah transisi energi untuk memastikan kecukupan pasokan energi di masa yang akan datang," imbuhnya.

Dwi mengingatkan kepada seluruh insan hulu migas, agar dengan pencapaian yang ada tidak membuat menjadi jemawa, karena tantangan yang menanti industri hulu migas ke depan lebih berat. Kebutuhan migas akan terus meningkat secara volume. Peningkatan ini terutama karena migas masih sangat dibutuhkan tidak hanya untuk sektor energi, tetapi juga sebagai bahan baku atau feedstock bagi industri petrokimia.

“Saya mengharapkan komitmen yang diimplementasikan dalam kerja keras, kerja nyata, dan terus meningkatkan sinergi dan kolaborasi”, ujarnya memberikan pesan kepada insan hulu migas.

Produksi gas bumi PGN. Foto: Dok. PGN

Dia juga mengingatkan kembali seluruh pekerja SKK Migas dan KKKS bahwa LTP ini adalah komitmen bersama yang harus ditepati, karena pencapaian LTP sangat krusial bagi ketahanan energi Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, Dwi juga menyampaikan harapan industri hulu migas yaitu percepatan disahkannya UU Migas yang akan memberi kepastian hukum bagi bisnis ini. Dia menyampaikan kepada para pemangku kepentingan bahwa SKK Migas dan para KKKS siap untuk duduk bersama dan mendiskusikan poin-poin harapan tersebut sehingga ditemukan solusi yang baik bagi semua.

“UU Migas akan menjadi payung dan mendorong terlaksananya rencana-rencana besar dalam LTP dan mendukung keberlanjutan industri ini hingga berpuluh-puluh tahun ke depan," ujar Dwi.

instagram embed