Konten dari Pengguna

Crossroads of the World : Ambisi Amerika Serikat VS Realitas Times Square

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yunita Purnama Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dinamika tren global menciptakan pergeseran pola persaingan. Kondisi ini mulai memicu diversifikasi kekuatan negara ke arah pariwisata sebagai upaya membangun citra dan perhatian masyarakat dunia (Casado Claro et al., 2023). Simon Anholt dalam bukunya Competitive Identity: The New Brand Management for Nations, Cities and Regions mengungkapkan karakteristik suatu negara dapat dikapitalisasi menjadi identitas yang membangun reputasi di kancah internasional. Sehingga, inovasi tiap negara berlomba-lomba mengandalkan potensi lokalitas yang didukung investasi strategis untuk memiliki keunggulan komparatif. Dalam perspektif ini, pariwisata tidak lagi dipandang hanya sebagai pendongkrak ekonomi, melainkan aset yang mampu menciptakan nation branding suatu negara.

Sebagai negara adidaya, Amerika Serikat telah lama menempati posisi dominan dalam lanskap peradaban modern dan tata kelola global. Merujuk pada jurnal The ‘American’ Hegemonic Culture: Its Roots, Features and Implications to World Culture, pengaruh Amerika Serikat tidak hanya bertumpu pada kekuatan ekonomi dan militer, tetapi kemampuan dalam mengonstruksi gaya hidup, standar kemajuan, dan narasi kontemporer sebagai acuan masyarakat universal. Dominasi multidimensional ini semakin menjustifikasi Amerika Serikat untuk memposisikan dirinya sebagai kawasan utama perputaran dunia (crossroads of the world) di mana arus manusia, ide, dan tren internasional terpusat. Namun, kemunculan tren baru di industri hiburan mulai menggoyahkan status hegemonik tersebut. Pada posisi ini Amerika Serikat perlu merekonstruksi strategi dalam mempertahankan legitimasi sebagai episentrum global. Dalam logika nation branding, ketika transmisi citra negara melalui saluran media mulai kehilangan eksklusivitas, reputasi adidaya harus divalidasi kembali melalui tindakan nyata. Proyeksi kekuatan negara kini tidak lagi sekedar mengandalkan ekspor komoditas dan industri hiburan, melainkan bergeser pada pemanfaatan ruang publik strategis yang bertindak sebagai instrumen utama untuk membuktikan posisi Amerika Serikat sebagai pusat dunia bukanlah sekadar narasi, melainkan realitas yang dapat dirasakan. Pergeseran taktik ini hanya berhasil ketika sebuah kawasan mampu menarik perhatian massa global sekaligus menjadi pusat perwujudan nyata dari pengaruh Amerika Serikat di dunia modern.

Wilayah Times Square di New York menjadi cerminan nyata dari taktik pemanfaatan kawasan wisata sebagai verifikasi poros dunia. Pada tahun 2025, kawasan tersebut berhasil menarik 65 juta wisatawan mancanegara dengan kenaikan 0,7% dari tahun sebelumnya. Padatnya arus pariwisata turut menciptakan perputaran kapital yang menyumbang $7,5 miliar pajak lokal (New York Times, 2026). Hal ini menjadi justifikasi Times Square sebagai destinasi dengan jumlah wisatawan yang melampaui penduduk tetap (Cheatman, 2024). Daya tarik Times Square sebagai pusat perhatian global tidak terjadi secara instan, melainkan hasil dari perkembangan New York sebagai kota komersial, imigrasi, dan pariwisata. Kehadiran gempuran 40 layar reklame berskala besar dengan dominasi iklan korporasi global yang mencapai 5.000 iklan per hari, menciptakan bias pemikiran yang memandang fenomena tersebut sebagai simbol kemakmuran dan kemajuan teknologi (Casado Claro et al., 2023). Bahkan pandangan ini diperkuat oleh industri hiburan seperti film The Avengers, yang menggambarkan Times Square sebagai panggung pusat yang harus dilindungi dari ancaman global (Stenager, 2022).

Visualisasi Times Square. Diakses melalui https://pixabay.com/photos/new-york-sightseeing-traffic-jam-1587558/

Menilik pada perspektif soft power Joseph Nye (2004), kombinasi antara iklan korporasi dan narasi film tidak lagi sebatas hiburan, melainkan mulai bertransformasi menjadi instrumen daya tarik kultural (cultural attraction). Di Times Square, mekanisme ini bekerja melalui manipulasi psikologis berbasis rasa kagum. Ketika jutaan wisatawan mancanegara terpapar oleh visual kemakmuran ekonomi dan kepahlawanan sinematik secara konstan, muncul sebuah pemikiran kolektif yang mengidentifikasi gaya hidup Barat sebagai standar modernitas dan keamanan ideal. Akibatnya, proses americanization terjadi secara sukarela karena masyarakat global meniru nilai-nilai yang tercermin pada layar reklame di Times Square atas dasar ketertarikan bukan ketakutan. Internalisasi budaya ini terwujud secara konkret pada perilaku konsumerisme global melalui peningkatan retensi dan preferensi wisatawan terhadap brand kapitalisme asal Amerika Serikat pasca kunjungan ke Times Square (Li, 2020). Keberhasilan penanaman ideologi secara halus inilah yang mempertegas alasan mengapa Times Square dijuluki sebagai "Crossroads of the World". Julukan ini bukan lagi sekadar penanda geografis tempat bertemunya manusia dari berbagai belahan bumi, melainkan sebuah proyeksi strategis Amerika Serikat untuk mengukuhkan posisinya sebagai poros peradaban dunia modern.

Dalam mengukuhkan hegemoninya, Amerika Serikat menerapkan berbagai strategi multidimensional. Taktik melibatkan integrasi antara pembangunan infrastruktur fisik dan proyeksi budaya terencana secara sosiopolitik. Implementasi pertama bertumpu pada penciptaan legitimasi New York sebagai panggung diplomasi global. Penempatan markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York sejak tahun 1949 secara simbolis menetapkan kota tersebut sebagai ibu kota dunia (Cheatman., 2023). Status politik makro kemudian dikapitalisasi oleh Amerika Serikat dengan memanfaatkan posisi Times Square yang terletak di jantung geografis Manhattan. Pada strategi ini, Times Square diposisikan sebagai panggung representasi ibu kota dunia.

Kedekatan fungsi strategis memicu ruang komersial Times Square memiliki resonansi politik yang kuat di mata internasional. Hal ini terbukti ketika Departemen Pariwisata Filipina memilih jumbotron Times Square untuk meluncurkan kampanye nasional “Love the Philippines” pada November 2024 (GMA Integrated News, 2024). Kampanye ini bertujuan untuk menarik perhatian global mengenai budaya dan destinasi pariwisata Filipina yang ikonik. Apabila dianalisis melalui logika soft power, ketika Filipina berupaya memvalidasi eksistensi globalnya di panggung Times Square, maka ini merupakan bentuk pengakuan implisit yang memperkuat ruang publik Amerika Serikat sukses bertransformasi menjadi standar legitimasi global.

Tidak hanya sampai di sana, Amerika Serikat turut menurunkan penyebaran strategi di tingkat mikro. Hal ini direalisasikan dengan menggeser pengelolaan kawasan dari otoritas publik ke organisasi privat seperti Times Square Alliance. Melalui skema ini, Amerika Serikat menerapkan strategi estetika ketertiban (aesthetics of order) yang memadukan sistem pengawasan (surveillance), standarisasi kebersihan, serta kurasi seni publik seperti proyek 'The 59th Minute' (Cheatham, 2024). Dalam perspektif soft power, rekayasa lingkungan ini secara sengaja mengonversi Times Square dari sekadar ruang transit fisik menjadi sebuah produk budaya yang aman, mewah, dan atraktif. Melalui kenyamanan, ketertiban, dan kemegahan visual yang dirasakan wisatawan, Times Square melahirkan ketakjuban wisatawan untuk mengasosiasikan tata kelola Amerika Serikat sebagai puncak standar modernitas.

Sayangnya, keberhasilan branding Amerika Serikat sebagai “Crossroads of The World” melalui Times Square menghadirkan paradoks struktural pada level domestik. Ketika proyeksi soft power berhasil di skala internasional, terdapat ketimpangan kekuasaan nyata mengenai siapa yang paling diuntungkan dan siapa yang menanggung biaya sosial praktik pariwisata. Manfaat ekonomi dan politik secara eksklusif dirasakan oleh negara dan korporasi multinasional melalui pajak wisatawan. Sayangnya, demi memanjakan wisatawan global, Times Square justru menjadi wisata dengan fenomena komodifikasi ruang. Sterilisasi kawasan memicu proses gentrifikasi yang menghapus keaslian komunitas lokal, mengusir pedagang kecil, dan menggantinya dengan lingkungan homogen (Devlin et al., 2023) . Alih-alih memberikan manfaat yang adil bagi warga lokal, lapangan kerja yang tercipta di Times Square mayoritas hanya terjebak pada sektor jasa informal berupah rendah (low-wage service jobs). Pada posisi ini, pekerja lokal diposisikan sebagai subordinat ekonomi rentang tanpa asuransi kesehatan dan jaminan kesejahteraan (Farah et al., 2025).

Visualisasi tunawisma di Times Square. Diakses melalui https://pixabay.com/photos/street-beggar-woman-homeless-2248101/

Ketimpangan ekonomi tersebut selaras dengan tingginya angka pembangunan tata kota dan biaya hidup seringkali memicu peningkatan angka tunawisma. Pada Januari 2025 New York City Independent Budget Office mencatat tunawisma mencapai titik peningkatan tertinggi dalam satu dekade terakhir yakni lebih dari 4.500 jiwa. Kompleksitas krisis kemanusiaan bahkan terlihat pada runtuhnya stabilitas keamanan publik di sekitar kawasan. Fenomena ini tercermin pada lonjakan kriminalitas dan kekerasan di wilayah Midtown North yang merupakan bagian dari Times Square. Pada tahun 2023 dan 2024, angka perampokan meningkat sebesar 75% dan pencurian 54% (Reis, 2024).

Kegagalan dalam mengamankan stabilitas domestik di kawasan Times Square secara langsung membatasi efektivitas nation branding Amerika Serikat sebagai instrumen geopolitik. Ketika sebuah negara hegemon menggunakan ruang publiknya sebagai keunggulan ideologi dan ekonomi, legitimasi internasional sangat bergantung pada stabilitas di lapangan. Sayangnya dalam kasus Times Square, strategi nation branding hanya berhasil membangun citra pada level permukaan, tetapi gagal menyelesaikan degradasi struktural di lapangan. Akibatnya, kawasan pariwisata yang semula didesain untuk mengekspor pengaruh positif justru berubah menjadi agen pembalik yang memperlihatkan kerentanan domestik. Kontradiksi ini secara otomatis menempatkan proyeksi soft power Amerika Serikat melalui Times Square berada pada batas hegemoni dan efektivitasnya. Akumulasi pengaruh yang sukses ditanamkan di berbagai negara secara instan mengalami erosi ketika aktor internasional melakukan interaksi langsung (first-hand experience) dan menyaksikan runtuhnya keamanan publik serta krisis kemanusiaan.

Fenomena pariwisata di Times Square membuktikan bahwa keberhasilan dalam memproyeksikan citra positif di panggung internasional tidak akan berkelanjutan jika berdiri di atas kerapuhan domestik. Eksploitasi ruang demi mengejar validasi global justru melahirkan ongkos politik yang besar, berupa penurunan kredibilitas jangka panjang Amerika Serikat sebagai negara hegemon. Secara reflektif, realitas yang terjadi menunjukkan perlunya perubahan tata kelola nation branding Amerika Serikat. Negara tidak lagi hanya bertumpu pada manipulasi visual yang memikat dari kejauhan, melainkan harus menempatkan pemulihan stabilitas internal dan penguatan tata kelola domestik sebagai fondasi mutlak guna mempertahankan legitimasi kepemimpinan globalnya.

REFERENSI

Abelson, A. (2026, March 25). More tourists are coming to New York, but not from other countries. The New York Times. https://www.nytimes.com/2026/03/25/nyregion/more-tourists-are-coming-to-new-york-but-not-from-other-countries.html

Anholt, S. (2007). Competitive identity: The new brand management for nations, cities and regions. Palgrave Macmillan.

Casado Claro, M.-F., Pastrana Huguet, J., & Saavedra Serrano, M. C. (2023). Tourism as a soft power tool: The role of public diplomacy in Japan’s country and destination branding. Journal of Tourism, Sustainability and Well-Being, 11(2), 66–80. https://doi.org/10.34623/snwy-ec89

Cheatham, S. E. (2024). Reflexivity of tourism on cultural performance as seen by America’s New York City.

Devlin, R. T., & Piazzoni, F. (2023). In the name of history: (De)Legitimising street vendors in New York and Rome. Urban Studies, 60(1), 109–125. https://doi.org/10.1177/00420980221088126

Farah, I., Devlin, R. T., Hartmann, C., Harvey, J., & Hegel, C. (2025). The governance of informal street work in San Francisco and New York City. Nature Cities, 2, 918–923. https://doi.org/10.1038/s44284-025-00321-y

GMA Integrated News. (2024, November 15). PH tourist destinations featured in Times Square’s “Billboard to the World”. GMA Network. https://www.gmanetwork.com/news/pinoyabroad/content/928279/ph-tourist-destinations-featured-in-times-square-s-billboard-to-the-world/story/

Kasiyarno. (2014). The ‘American’ hegemonic culture: Its roots, features and implications to world culture. Rubikon: Journal of Transnational American Studies, 1(1), 19–28. https://doi.org/10.22146/rubikon.v1i1.34157

Li, N. (2020). Descriptive analysis of American culture, values, and beliefs. International Journal of Humanities and Social Science. https://doi.org/10.30845/ijhss

New York City Independent Budget Office. (2025, August). Overview of select city Department of Homeless Services and NYC health resources. https://www.ibo.nyc.gov/assets/ibo/downloads/pdf/health/2025/2025-august-overview-of-select-city-dhs-and-nyc-health-resources.pdf

Nye, J. S., Jr. (2004). Soft power: The means to success in world politics. PublicAffairs.

Reis, B. (2024, October 22). NYPD struggles to stop crime in Times Square. The Midtown Gazette.https://themidtowngazette.com/2024/10/nypd-struggles-to-stop-crime-in-times-square/

Stenager, J. T. (2022). American blockbusters in a soft power perspective.

Times Square advertising: All you need to know about advertising in Times Square on New Year’s Eve. (n.d.). Dash Two. https://dashtwo.com/blog/all-you-need-to-know-about-advertising-times-square-on-nye/