Konten dari Pengguna

Menyelisik Kepentingan Indonesia dalam FTA dengan Eurasian Economic Union

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ayu Mas Nindya Pratiwi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketegangan yang terjadi di antara negara-negara besar masih menjadi ciri dari kondisi geopolitik global saat ini. Konflik-konflik global seperti perang antara Rusia dan Ukraina yang belum mereda akan terus memengaruhi stabilitas kawasan.

Hal ini menimbulkan ketidakpastian yang berkepanjangan di pasar global serta mengganggu arus perdagangan internasional. Di kondisi seperti ini, Indonesia tentunya harus segera mengambil langkah strategis untuk meningkatkan kapabilitas pertahanannya untuk menjaga keamanan negara di tengah kerapuhan stabilitas politik.

Namun, dalam merespon situasi ketegangan geopolitik yang rapuh, upaya penguatan kapabilitas nasional tidak hanya bergantung pada aspek pertahanan militer semata. Hal ini juga menuntut Indonesia untuk meningkatkan aspek ekonomi sebagai bagian dari strategi untuk mempertahankan eksistensi negara.

Atas dasar pertimbangan tersebut, pada 21 Desember 2025 Indonesia menandatangani Persetujuan Indonesia-Eurasia Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) di St. Petersburg, Rusia (Kementerian Luar Negeri RI, 2025).

Indonesia-Eurasia Economic Union Free Trade Agreement adalah sebuah perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dengan Eurasian Economic Union (EAEU), yang mencakup negara-negara seperti Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kyrgyzstan and Russia. Dokumen ini terdiri dari 15 bab yang mencakup akses pasar, fasilitasi perdagangan, dan kerja sama ekonomi (Antara News, 2025).

Perjanjian ini memungkinkan Indonesia untuk mendapatkan tarif khusus untuk 90,5% jenis barang yang diperdagangkan, yang memungkinkan Indonesia untuk menjangkau pasar di negara-negara blok tersebut yang memiliki sekitar 180 juta penduduk sehingga produk Indonesia bisa diperdagangkan ke lebih banyak orang.

Menteri Perdagangan Indonesia, Budi Santoso menegaskan bahwa produk-produk unggulan Indonesia akan mendapatkan akses pasar yang lebih luas dan kompetitif melalui perjanjian ini (Reuters, 2025).

Tentunya kesepakatan tersebut lahir dari sejumlah pertimbangan yang pada akhirnya mendorong Indonesia menjalin kerja sama dengan EAEU. Dalam merumuskan suatu kebijakan luar negeri, pemerintah pada suatu negara umumnya bertindak berdasarkan tujuan yang bersifat instrumental, yaitu dengan mempertimbangkan perhitungan untung-rugi (Iskandar et al., 2022).

Salah satu alasan kuat di balik kerja sama tersebut berasal dari determinan internasional. Dinamika geopolitik global yang masih memanas menempatkan Indonesia pada posisi yang cukup rentan, terutama karena ketergantungan Indonesia terhadap produk impor masih tergolong tinggi.

Kondisi ini bahkan menunjukkan peningkatan pada periode Januari-Oktober 2025 sebesar 2,19% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024 berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia. Situasi tersebut menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Indonesia, mengingat ketidakstabilan geopolitik global berpotensi mengganggu kelancaran rantai pasok dan perdagangan internasional.

Melalui kerja sama dengan EAEU, Indonesia dapat memperluas sekaligus memperbesar jangkauan pasarnya. Kondisi tersebut didukung oleh kawasan Eurasia yang memiliki potensi ekonomi besar serta peran penting dalam perdagangan internasional (Khasanah et al., n.d.).

Selain itu, pemberian tarif khusus untuk 90,5% jenis barang dalam kerja sama Indonesia-EAEU juga dapat meningkatkan daya saing ekspor di tengah tekanan ekonomi global. Penurunan hambatan tarif membuat produk Indonesia dapat masuk ke pasar EAEU dengan harga yang lebih kompetitif, sehingga peluang untuk meningkatkan volume dan nilai ekspor menjadi lebih besar.

Peningkatan ekspor ke EAEU berpotensi membantu Indonesia menjaga keseimbangan neraca perdagangan, bahkan menciptakan surplus ekspor-impor di tengah tekanan ekonomi global. Serangkaian hal tersebut tentunya diharapkan bisa membantu Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonominya yang merupakan salah satu instrumen penting untuk mempertahankan eksistensi bangsa.

Dalam konteks ini, kerja sama Indonesia-EAEU tidak hanya diartikan sebagai kebijakan perdagangan semata, tetapi juga sebagai langkah strategis untuk memastikan ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang semakin tidak menentu. Kerja sama ini juga berperan dalam memperluas ruang gerak Indonesia dalam arena ekonomi internasional.

SUMBER:

Antara News. (2025, December 22). Indonesia seals FTA with EAEU, eyes wider Eurasian market access. Antara News. https://en.antaranews.com/news/397396/indonesia-seals-fta-with-eaeu-eyes-wider-eurasian-market-access

BPS (Badan Pusat Statistik). (2025, December 1). Ekspor dan impor Indonesia Oktober 2025 masing-masing tercatat USD 24,24 miliar dan USD 21,84 miliar. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2025/12/01/2481/ekspor-dan-impor-indonesia-oktober-2025-masing-masing-tercatat-usd-24-24-miliar-dan-usd-21-84-miliar-.html

Iskandar, R., Ambarwati, A., & Putra, M. I. T. (2022). ANALISIS STRATEGI KEBIJAKAN LUAR NEGERI INDONESIA DALAM BELT AND ROAD INITIATIVE. Jurnal Dinamika Global, 7(01), 84–105. https://doi.org/10.36859/jdg.v7i01.961

Khasanah, S. M., Ingot, S. R., & Salam, A. R. (n.d.). STRATEGI PENINGKATAN EKSPOR INDONESIA KE PASAR PROSPEKTIF MELALUI KERJA SAMA PERDAGANGAN ASEAN-EURASIAN ECONOMIC UNION (EAEU) FTA.

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. (2025, Desember 21). Tanda-tangani persetujuan perdagangan bebas dengan Uni Ekonomi Eurasia: Komitmen Indonesia untuk diversifikasi pasar ekspor. https://kemlu.go.id/moscow/berita/tanda-tangani-persetujuan-perdagangan-bebas-dengan-uni-ekonomi-eurasia-komitmen-indonesia-untuk-diversifikasi-pasar-ekspor?type=publication

Reuters. (2025, December 22). Indonesia signs free trade deal with Russian-led Eurasian Economic Union. Reuters. https://www.reuters.com/world/china/indonesia-signs-free-trade-deal-with-russian-led-eurasian-economic-union-2025-12-22/

Ilustrasi kerja sama ekonomi foto: dok. iStock