Konten dari Pengguna

Apakah Manusia Indonesia Bermental Feodal?

Abel Lionel

Abel Lionel

Akademisi Lingkungan hidup UNAIR

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abel Lionel tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber:Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber:Freepik.com

Dasar dari penulisan saya dalam penulisan ini terinspirasi ketika saya membaca buku dari Mochtar Lubis yang berjudul “Manusia Indonesia”. Buku tersebut sebenarnya secara garis besar menjelaskan tentang bagaimana karakter Manusia Indonesia dalam menjalani kehidupan. Buku ini menarik karena sudah ditulis sejak tahun 1970, namun saya rasa buku ini tetap relevan, bahkan semakin relevan untuk menjelaskan fenomena tanah air saat ini.

Namun selain pembahasan yang menarik tersebut, terdapat pernyataan menarik yang kemudian menjadi intisari dari niat saya dalam menulis artikel ini, yaitu pada salah satu bagian dari buku tersebut membahas tentang karakter salah satu manusia Indonesia adalah munafik yang berujungnya berkontribusi membudayakan budaya feodal.

Setelah membaca tulisan tersebut, hati saya tergugah lantas juga mempertanyakan apakah karakter manusia Indonesia memanglah salah satunya melenggangkan budaya feodalisme. Maka dari itu, penulisan ini dibuat oleh saya untuk sedikit menyajikan pemikiran saya terkait uji hipotesis yang tersajikan, yaitu apakah manusia Indonesia feodal.

Tentang apa Feodal Itu?

Sebelum kita menganalisis tentang apakah manusia Indonesia tersebut feodal, perlu untuk dibahas terlebih dahulu definisi dari feodal tersebut. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah feodal dapat diartikan sebagai sistem yang terlalu mengagung-agungkan suatu pangkat tertentu yang berada pada tingkatan atas tertentu.

Dengan arti lain, sebenarnya feodalisme dapat dipahami sebagai sistem yang di mana perilaku bawahan “menuhankan” atasannya dengan alasan jabatan, sehingga apa yang dikatakan oleh atasan selalu diartikan sebagai kebenaran yang tidak bisa dilawan dan sebaliknya, apa yang harus dilaporkan kepada atasan harus membuat atasan tersebut senang. Hal ini berimplikasi secara tersurat pada istilah “asal bapak senang” di mana bawahan hanya melaporkan, bahkan berani untuk berbohong dalam melaporkan segala sesuatu hanya untuk “bapak senang”.

Fenomena ini dapat disebut dengan budaya feodalisme. Kini, pertanyaan yang muncul adalah apakah feodal tersebut benar-benar hadir dan ada pada darah manusia Indonesia. Jawaban yang paling masuk akal pada pertanyaan tersebut adalah budaya feodalisme ada pada manusia Indonesia bukan karena hadir ketika lahir, namun sistem sosial yang dibangun secara feodal sudah dikenal oleh manusia Indonesia sejak lahir, sehingga budaya feodalisme ini sudah dikenal oleh manusia Indonesia bersamaan dengan ketika mereka mengenal nasi sebagai makanan pokok.

Indonesia dan Feodal dalam Kehidupan Sehari-hari

Budaya feodalisme di Indonesia sebenarnya sudah terlihat dari hal yang paling kecil tentang bagaimana Manusia Indonesia memilih kata dalam sarana berkomunikasi kepada sesama. Kata seperti “berkenan”, “izin bapak”, dan “bapak berkenan” adalah kata yang mendeskripsikan secara tersurat akan budaya feodalisme yang dibudidayakan di Indonesia.

Mari dibayangkan, sebuah jabatan seperti seorang presiden dikomunikasikan dalam melakukan kegiatannya dan memutuskan keputusannya dengan kalimat bapak presiden berkenan menghadiri tempat acara atau bapak presiden berkenan untuk memutuskan untuk kami.

Padahal, posisi presiden dibuat bertugas untuk memutuskan perkara bagi bosnya, yaitu rakyat, sehingga penggunaan kata “berkenan” dapat menunjukkan bahwa seakan akan presiden memberikan sebuah hadiah kepada rakyatnya yang aslinya hal tersebut adalah tugasnya. Pemikiran ini adalah pemikiran produk kolonialisme di mana koloni yang berkuasa dengan baik hati berkenan memberikan hadiah kepada masyarakat di bawahnya.

Kesalahan berpikir seperti ini seharusnya ditolak dan tidak dilestarikan sebagai budaya pada masyarakat karena budaya seperti ini akan terus mengakar pada masyarakat yang akhirnya memberikan paham pada dirinya bahwa orang berkuasa harus dilayani bak raja, walaupun mereka mendapatkan posisinya melalui tangan kita sebagai rakyat biasa. Alangkah indahnya rasa perasaan persatuan jika presiden dipanggil bukan bapak presiden, namun saudara presiden sebagai pemimpin yang diposisikan untuk memimpin dan memberikan pandangan kepada masyarakat demokrasi.

Budaya feodal hanya membuat rakyat kecil menciptakan koloni baru yang siap menjajah di negara merdeka. Budaya feodal hanya menciptakan kesadaran bahwa kekuasaan adalah segalanya, sehingga korupsi kekuasaan tidak dapat dihindari. Sekali lagi, budaya feodal hanya menciptakan rasa tidak punya malu orang berkuasa untuk melakukan kejahatan karena mereka yakin selama mereka memiliki kekuasaan, maka orang akan tetap senang menjilatnya dan mengkultuskannya layaknya nabi. Maka dari itu, mulai saat penulisan ini diterbitkan, tiga kata yang dapat saya ucapkan, yaitu Lawan Pemikiran Feodal.