Konten dari Pengguna

Kauman dan Batik Tulis yang Bertahan di Tengah Gempuran Cetak

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rheza Jatiadi Pahlevi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pribadi

Azan asar dari Masjid Agung Surakarta belum sepenuhnya habis ketika aku masuk ke gang Kauman. Suaranya memantul di antara tembok rumah yang rapat, lalu tertimpa bunyi lain yang lebih kecil: sendok kayu mengaduk di wajan, dan sesekali desis pelan orang meniup canting. Seorang ibu duduk di dingklik rendah di teras sempit sebuah rumah, kain mori terbentang di pangkuannya, wajahnya menunduk pada garis yang baru separuh jadi. Ia tidak menoleh waktu aku lewat. Di kampung ini, rupanya, ibadah dan pekerjaan berbagi satu waktu yang sama, dan tak satu pun perlu mengalah.

Setiap 2 Oktober, orang ramai-ramai memakai batik karena pada tanggal itu di tahun 2009 UNESCO menetapkan batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda. Foto bersama diunggah, seragam kantor diganti motif, lalu besoknya semua kembali seperti biasa. Hanya sedikit yang bertanya siapa yang membuat kain itu. Di Solo, salah satu jawabannya ada di Kauman.

Nama kampung ini berkaitan dengan kata "kaum", sebutan bagi para pemuka agama yang dulu bertugas mengurus masjid dan kebutuhan keagamaan keraton. Tidak heran kalau letaknya menempel pada Masjid Agung dan tidak jauh dari Keraton Kasunanan. Para lelaki mengurus urusan masjid, sementara para perempuan, menurut cerita warga yang diwariskan turun-temurun, mengisi hari-hari dengan membatik di rumah. Dari situlah Kauman dikenal sebagai kampung batik, dengan ciri yang sering disebut orang: motif klasik dan warna sogan yang kalem, cokelat yang tidak berteriak. Jadi batik di sini lahir dari dapur dan teras rumah, bukan dari bengkel besar milik juragan.

Tidak jauh dari gang-gang itu berdiri Pasar Klewer, pusat grosir batik yang puluhan tahun menjadi tempat kain-kain Solo berpindah tangan. Pasar itu sempat hangus terbakar pada akhir 2014 dan membuat banyak pedagang kehilangan lapak. Sejak itu, rantai yang menghubungkan pembatik rumahan dengan pembeli terasa lebih rapuh.

Aku akhirnya duduk di teras ibu tadi. Namanya Bu Erni, usianya lima puluhan, dan ia membatik sejak masih remaja. Tangannya bergerak tanpa jeda sementara mulutnya menjawab pertanyaanku satu per satu. Sebuah kain tulis dengan motif rumit, katanya, bisa ia kerjakan sampai sebulan penuh. "Orang sering kaget kalau tahu satu kain saya kerjakan sebulan. Ya mau bagaimana, tangan ini nggak bisa dikejar-kejar," ujarnya sambil tertawa kecil.

Aku mencoba membayangkan diriku di posisinya: duduk berjam-jam, cairan malam panas menetes dari canting kecil, satu garis salah berarti kerja seharian ikut salah. Kadang ia menghela napas, kadang tersenyum sendiri melihat hasil sebuah lengkung. Bagi pembeli yang lewat, itu hanya kain. Bagi Bu Erni, itu sebulan umurnya.

Masalahnya, waktu sebulan itu tidak punya harga yang gampang dimengerti pasar. Batik cap dan cetak mesin bisa diselesaikan jauh lebih cepat dengan ongkos yang jauh lebih murah, sehingga pembeli yang tidak terbiasa memegang kain sering tidak bisa membedakan mana yang ditulis tangan dan mana yang dicetak. Mereka memilih yang harganya ramah di dompet; siapa yang bisa menyalahkan mereka? Tapi di ujung rantai, ada orang seperti Bu Erni yang harus memutar otak supaya dapurnya tetap mengepul.

Pertanyaan berikutnya lebih sulit: siapa yang akan meneruskan? Ketika kutanyakan itu, Bu Erni berhenti sebentar. "Anak saya milih kerja kantoran. Saya nggak melarang, wong capek di sini itu capek yang nggak kelihatan," katanya pelan. Ia tidak terdengar marah, lebih mirip orang yang sudah lama berdamai dengan kenyataan.

Beberapa rumah di Kauman kini membuka kelas membatik singkat untuk wisatawan, lengkap dengan papan nama dan harga paket. Kampung ini ikut bergerak, dan itu wajar; rumah perlu dirawat, dan dapur perlu pemasukan. Hanya saja, wisatawan yang mencoba membatik dua jam biasanya pulang dengan kesan menyenangkan, bukan dengan pemahaman tentang sebulan yang dihabiskan seorang ibu untuk satu kain.

Hari mulai gelap ketika aku pamit. Dari menara masjid terdengar azan magrib, dan di teras tadi Bu Erni menggulung kainnya pelan-pelan, menyimpan canting yang malamnya sudah mengeras. Besok pagi ia akan duduk di dingklik yang sama, mengerjakan garis yang sama. Kauman memang bukan kampung yang ribut mengabarkan dirinya, dan mungkin justru itu sebabnya batik di sini masih bertahan: ia hidup dari kesabaran yang tidak pernah minta ditonton.