Konten dari Pengguna

Laut Bercerita: Kehilangan Tidak Selalu Memiliki Kata Perpisahan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rheza Jatiadi Pahlevi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pribadi

Identitas Buku

Judul: Laut Bercerita

Penulis: Leila S. Chudori

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Tahun Terbit: 2017

Jumlah Halaman: 379 halaman

Genre: Fiksi sejarah, drama

Sinopsis

Biru Laut Wibisono adalah seorang mahasiswa sekaligus aktivis yang hidup di penghujung masa Orde Baru. Bersama teman-temannya, ia aktif berdiskusi, membaca buku-buku yang dilarang, dan menyuarakan kritik terhadap pemerintah. Aktivitas itu kemudian membawa mereka menjadi target aparat. Laut dan beberapa rekannya ditangkap, disiksa, lalu menghilang tanpa jejak.

Di bagian kedua, cerita beralih ke sudut pandang Asmara Jati, adik Laut. Dari sanalah pembaca melihat bagaimana sebuah keluarga berusaha bertahan ketika orang yang mereka tunggu tak pernah benar-benar kembali. Penantian yang awalnya dipenuhi harapan perlahan berubah menjadi luka yang tidak pernah selesai.

Ulasan

Ada buku yang selesai dibaca lalu pelan-pelan terlupakan. Ada juga buku yang justru terus teringat meski sudah lama ditutup. Buat saya, Laut Bercerita masuk ke kategori yang kedua.

Sejujurnya, saya sempat menunda membaca novel ini. Bukan karena tidak tertarik, tetapi karena banyak orang bilang ceritanya berat dan emosional. Saya pikir novel ini akan dipenuhi pembahasan sejarah dan politik yang rumit. Ternyata saya salah. Leila S. Chudori tidak sedang mengajak pembaca menghafal peristiwa Reformasi atau memahami situasi politik Indonesia lewat data. Ia memilih bercerita lewat kehidupan orang-orang yang berada di tengah peristiwa itu. Dan menurut saya, cara itu jauh lebih mengena.

Hal pertama yang membuat saya jatuh hati adalah bagaimana Biru Laut ditulis sebagai manusia biasa. Ia bukan tokoh yang sejak awal digambarkan berani tanpa rasa takut. Laut masih bercanda dengan teman-temannya, dekat dengan keluarganya, dan sesekali memikirkan hal-hal sederhana seperti anak muda pada umumnya. Mungkin karena itulah saya merasa mudah terhubung dengannya. Ketika sesuatu yang buruk terjadi pada Laut, rasanya seperti kehilangan seseorang yang sudah lama dikenal.

Namun, kalau harus memilih bagian yang paling membekas, saya justru akan memilih paruh kedua novel ini. Saat cerita beralih ke Asmara Jati, suasananya berubah total. Saya baru sadar bahwa luka tidak hanya dimiliki oleh mereka yang menjadi korban, tetapi juga oleh keluarga yang ditinggalkan. Rasanya jauh lebih sunyi. Tidak ada kepastian, tidak ada jawaban, hanya harapan yang dipelihara setiap hari meski semakin lama semakin tipis.

Ada satu momen ketika saya berhenti membaca sejenak karena merasa sesak. Bukan karena adegan penyiksaan yang memang sulit dibaca, tetapi karena membayangkan bagaimana rasanya menunggu seseorang yang tidak pernah benar-benar dinyatakan pergi. Rasanya seperti berdiri di depan pintu yang tidak pernah terbuka, tetapi juga tidak pernah benar-benar tertutup. Perasaan itu yang terus mengikuti saya bahkan setelah buku ini selesai.

Saya juga menyukai cara Leila membangun hubungan antartokohnya. Persahabatan Laut dengan teman-temannya terasa hangat, begitu pula hubungannya dengan keluarga. Penulis memberi cukup banyak ruang untuk memperlihatkan kehidupan mereka sebelum konflik terjadi. Akibatnya, ketika satu per satu tokoh mulai menghilang, pembaca ikut merasakan kehilangan. Rasanya bukan seperti membaca berita tentang seseorang yang tidak dikenal, melainkan mendengar kabar buruk tentang orang yang selama beberapa ratus halaman sudah menemani perjalanan kita.

Dari segi penulisan, saya paham kenapa banyak orang memuji gaya bahasa Leila S. Chudori. Kalimat-kalimatnya terasa indah tanpa terdengar berlebihan. Ada banyak bagian yang sederhana, tetapi justru meninggalkan kesan paling dalam. Saya bahkan sempat menandai beberapa kutipan karena rasanya sayang kalau hanya dibaca sekali.

Meski begitu, saya juga bisa memahami kenapa ada pembaca yang merasa novel ini berjalan cukup lambat di awal. Leila memilih mengenalkan tokoh-tokohnya secara perlahan sebelum membawa pembaca masuk ke konflik utama. Buat saya pribadi, ritme itu tidak terlalu mengganggu karena justru membuat saya lebih mengenal setiap karakter. Tetapi kalau terbiasa membaca novel dengan alur cepat, mungkin perlu sedikit bersabar di bagian awal.

Yang saya sukai dari Laut Bercerita adalah novel ini tidak pernah terasa sedang menggurui. Leila tidak memaksa pembaca untuk mengambil kesimpulan tertentu. Ia hanya menyajikan kisah tentang orang-orang yang kehilangan, lalu membiarkan pembaca merenungkan semuanya sendiri. Justru karena tidak terasa menghakimi, cerita ini menjadi lebih kuat.

Setelah menutup halaman terakhir, saya baru mengerti kenapa Laut Bercerita terus direkomendasikan dari tahun ke tahun. Novel ini memang berbicara tentang sejarah, tetapi yang benar-benar tinggal di kepala saya justru sisi manusianya. Tentang keluarga yang terus menunggu, sahabat yang saling menjaga, dan harapan yang tetap dipeluk meski kemungkinannya semakin kecil.

Bagi saya, itulah kekuatan terbesar novel ini. Ia membuat sejarah terasa sangat personal. Dan mungkin memang seperti itulah seharusnya sebuah cerita dikenang—bukan karena besarnya peristiwa yang diangkat, melainkan karena ia berhasil membuat kita peduli pada orang-orang yang ada di dalamnya.

Rating

9,5/10