Konten dari Pengguna

'Sore: Istri dari Masa Depan': Ketika Cinta Menuntut Perubahan Diri

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rheza Jatiadi Pahlevi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pribadi

Judul : Sore: Istri dari Masa Depan

Studio Produksi : Imaginari

Distributor : Imaginari

Sutradara : Yandy Laurens

Penulis naskah : Yandy Laurens

Tanggal rilis di Indonesia : 13 Februari 2025

Durasi : 124 menit

Sore: Istri dari Masa Depan bukan sekadar film romansa biasa. Film ini seperti tamparan hangat yang mengajak kita refleksi soal kebiasaan kecil dan masa depan.

Pernah nggak sih kamu dibikin mikir keras cuma gara-gara nonton satu film? Itu yang saya rasain waktu sengaja muter ulang film Sore: Istri dari Masa Depan karya sutradara Yandy Laurens baru-baru ini.

Awalnya, saya pikir film rilisan Imaginari ini cuma bakal menyajikan drama romantis fantasi biasa dengan gimmick perjalanan waktu yang mengawang-awang. Apalagi premisnya sederhana banget: Jonathan, seorang cowok dengan pola hidup yang agak berantakan, mendadak didatangi perempuan bernama Sore yang mengaku sebagai istrinya dari masa depan.

Jujur aja, di awal cerita saya sempet mikir, "Wah, kalau saya jadi Jonathan, pasti udah risih dan ngira ini orang aneh." Bayangin aja, ada orang asing yang tiba-tiba masuk ke hidup kamu terus mengatur-atur pola makan, kesehatan, sampai cara kamu memandang hidup.

Tapi makin ke sini, pas cerita berjalan dan alasan emosional di balik kedatangan Sore mulai kebuka pelan-pelan, sudut pandang saya berubah total. Film berdurasi dua jam ini ternyata nggak fokus ke canggihnya alat perjalanan waktu layaknya film sci-fi, melainkan lebih kayak cermin yang ditempelin ke muka kita sendiri.

Satu hal yang paling nempel di kepala saya setelah tamat nonton adalah pesan tersirat soal bagaimana cara kita mencintai seseorang. Selama ini kita sering denger kalimat "terimalah pasanganmu apa adanya". Tapi lewat dinamika Jonathan dan Sore, film ini seolah nemuin celah baru: kadang, bentuk cinta dan kepedulian yang paling nyata justru hadir lewat dorongan agar orang yang kita sayangi mau bertumbuh dan hidup lebih sehat.

Tentu aja perubahan itu nggak bisa dipaksakan. Meskipun Sore berusaha mati-matian, Jonathan tetap punya kendali penuh atas dirinya sendiri. Dan di sinilah indahnya chemistry mereka, konfliknya terasa sangat manusiawi dan dekat sama apa yang sering kita alami di dunia nyata.

Ya, kalau mau kritis, film ini emang bukan tanpa celah. Buat kamu yang udah sering nonton cerita bertema time-travel, beberapa belokan alurnya mungkin terasa cukup gampang ditebak. Logika perjalanan waktunya juga bakal nemuin beberapa lubang kalau dibedah secara detail. Tapi buat saya pribadi, hal itu termaafkan banget karena kekuatan utama film ini emang ada pada kehangatan pesan dan rasa empati antar karakternya.

Pada akhirnya, Sore: Istri dari Masa Depan bukan cuma ngomongin kisah cinta beda dimensi waktu. Film ini seperti teguran halus tapi ngena banget buat kita yang suka sepele sama pilihan-pilihan kecil hari ini. Masa depan itu ternyata bukan sesuatu yang cuma ditungguin, melainkan dibentuk dari apa yang kita putusin detik ini juga.

Kalau kamu lagi butuh tontonan yang hangat sekaligus bisa bikin refleksi diri di akhir pekan, coba deh sempetin nonton film ini. Poin 8.5/10 dari saya rasanya nggak berlebihan buat karya se-berkesan ini.