Konten dari Pengguna

85% Perawat Adalah Perempuan: Apakah Ini Kebetulan atau Cermin Ketimpangan?

Berliana Putri

Berliana Putri

Lulusan sarjana Keperawatan dan Profesi Ners Universitas Muhammadiyah Surabaya. Aktif di bidang riset, organisasi, dan relawan pada bidang kesehatan komunitas.

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berliana Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar ilustrasi perawat dengan berbagai latar belakang. Sumber: Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ilustrasi perawat dengan berbagai latar belakang. Sumber: Pribadi

Beberapa waktu lalu tepat saat memperingati hari perawat sedunia tahun 2025, WHO merilis data yang menyebutkan bahwa 85% perawat di dunia adalah perempuan. Di permukaan, angka ini mungkin terlihat wajar, apalagi sejak dulu profesi perawat selalu identik dengan sosok perempuan yang lembut, sabar, dan penuh empati. Tapi, bukankah sudah saatnya kita bertanya — kenapa harus begitu?

Siapa yang Bilang Merawat Hanya Tugas Perempuan?

Sejak kecil, kita hidup dalam konstruksi sosial yang membagi pekerjaan berdasarkan gender. Perempuan dianggap lebih cocok jadi guru TK, perawat, atau ibu rumah tangga. Sementara laki-laki diarahkan ke profesi yang berbau logika, teknis, atau kepemimpinan.

Padahal, kemampuan merawat, memberi empati, dan menyembuhkan luka batin maupun fisik adalah kemampuan manusia, bukan kemampuan perempuan semata. Laki-laki juga bisa merawat. Laki-laki juga bisa bersimpati. Sayangnya, budaya patriarki terlalu lama menanamkan stigma bahwa profesi keperawatan ‘kurang maskulin’.

Stigma Itu Nyata

Tak sedikit laki-laki yang ingin jadi perawat harus menghadapi cibiran. Mulai dari dianggap tak punya prospek, dicap ‘kurang laki-laki’, sampai dinilai aneh karena bekerja di dunia yang ‘perempuan banget’. Padahal di situasi tertentu, kehadiran perawat laki-laki sangat dibutuhkan — di ruang ICU, IGD, bahkan dalam tindakan medis yang membutuhkan kekuatan fisik atau situasi darurat.

Saatnya Profesi Perawat Jadi Ruang Inklusif

Fakta dari WHO itu seharusnya bukan jadi kebanggaan semata karena banyaknya perempuan di profesi ini. Tapi jadi alarm bahwa kita masih membagi peran di dunia kerja berdasarkan gender, bukan kemampuan.

Sudah waktunya kita membangun kesadaran baru bahwa profesi perawat adalah ruang inklusif untuk siapa saja. Karena di balik seragam perawat, ada hati yang peduli — entah itu perempuan atau laki-laki.

Angka 85% itu adalah hasil dari konstruksi sosial yang diwariskan turun-temurun. Tapi generasi sekarang bisa memilih untuk tidak meneruskannya. Karena merawat bukan soal gender, tapi soal kemanusiaan.