Analisis Minat Mahasiswi Terhadap Jurusan STEM di Universitas Brawijaya

Seorang mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Brawijaya. Memiliki ketertarikan kuat pada isu-isu Internasional, ekonomi, sosial, politik, dan teknologi. Dengan latar belakang akademis yang mendalam dan aktif dalam menulis & membuat publikasi.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Ahmad Rizky Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Universitas Brawijaya merupakan salah satu (PTN) perguruan tinggi negeri Top 10 di Indonesia yang menawarkan berbagai program pendidikan dalam bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), maupun program pendidikan Sosial Humaniora serta Kesehatan. Namun, data dari Pusat Statistik Kota Malang tahun 2023 menunjukkan adanya ketimpangan gender yang signifikan di kalangan mahasiswa, khususnya pada program-program STEM, di mana partisipasi mahasiswi masih tertinggal dibandingkan mahasiswa. Laporan ini akan membahas faktor-faktor utama yang memengaruhi rendahnya minat mahasiswi terhadap program STEM di Universitas Brawijaya, mengidentifikasi dampaknya, dan memberikan solusi terhadap analisis ini.

Data Partisipasi STEM Berdasarkan Gender
Data terbaru tahun 2023 dari Badan Pusat Statistik Kota Malang mengungkapkan bahwa dari total pendaftar di program STEM di Universitas Brawijaya, hanya sekitar 43.69% yang merupakan mahasiswi. Sebagian besar pendaftar perempuan cenderung memilih bidang non-STEM atau ilmu sosial humaniora (soshum) ataupun Kesehatan. Data ini juga tercermin di mana jurusan seperti Teknik, Teknologi (Filkom/Fakultas Ilmu Komputer), didominasi oleh laki-laki meskipun Matematika dan IPA didominasi oleh perempuan.
Grafik di atas menunjukkan persentase partisipasi laki-laki dan perempuan di bidang STEM berdasarkan kategori:
Technology: Laki-laki mendominasi dengan 70.49%, sementara perempuan hanya 29.51%.
Engineering: Partisipasi laki-laki mencapai 61.12%, sedangkan perempuan 38.88%.
Science and Mathematics: Perempuan mendominasi dengan 64.04%, sementara laki-laki hanya 35.96%.
Total STEM: Laki-laki mencapai 56.31%, sedangkan perempuan 43.69%.
Grafik ini menggambarkan perbedaan signifikan dalam partisipasi gender di berbagai bidang STEM
Faktor Penyebab Ketimpangan Gender di Jurusan STEM
Beberapa faktor yang mempengaruhi pilihan mahasiswi untuk menghindari jurusan STEM meliputi:
Persepsi Stereotip Gender: STEM sering kali dihubungkan dengan stereotip gender yang menganggapnya sebagai bidang "maskulin," yaitu bidang yang lebih cocok untuk laki-laki karena dianggap membutuhkan kemampuan logis, analitis, dan teknis yang lebih tinggi. Persepsi ini dapat mengintimidasi mahasiswi yang merasa bahwa kemampuan mereka tidak sesuai dengan tuntutan bidang tersebut, meskipun tidak ada bukti bahwa perempuan kurang mampu dalam STEM. Akibatnya, banyak mahasiswi yang meragukan kompetensi mereka dan memilih untuk menghindari jurusan STEM. Stereotip ini sering kali diperkuat oleh budaya masyarakat, iklan, dan bahkan pola pengajaran di sekolah yang menonjolkan laki-laki sebagai figur ideal di bidang sains atau teknologi.
Kurangnya Dukungan dan Role Model Perempuan di STEM: Salah satu alasan penting mengapa mahasiswi enggan memilih jurusan STEM adalah minimnya representasi perempuan di bidang ini, baik di tingkat perguruan tinggi maupun di dunia profesional. Ketika perempuan tidak melihat figur panutan yang sukses di STEM, mereka mungkin merasa bahwa bidang ini bukan "tempat" mereka atau sulit bagi mereka untuk mencapai kesuksesan di bidang tersebut. Hal ini diperparah dengan kurangnya mentor perempuan yang dapat memberikan dukungan emosional dan profesional. Figur panutan perempuan di STEM dapat memainkan peran besar dalam menginspirasi generasi muda dengan menunjukkan bahwa perempuan dapat unggul di bidang ini.
Kurangnya Edukasi terhadap STEM Sejak Dini: Minat terhadap STEM biasanya terbentuk sejak anak-anak, tetapi banyak sistem pendidikan tidak memberikan perhatian yang cukup pada bidang ini, terutama bagi anak perempuan. Di beberapa sekolah, akses terhadap fasilitas laboratorium, pelatihan teknis, atau kompetisi STEM masih terbatas, dan kurikulum sering kali tidak dirancang untuk menarik perhatian anak perempuan. Selain itu, pola pembelajaran sering kali tidak memotivasi mahasiswi karena terlalu menekankan pada aspek kompetisi dan jawaban benar-salah, yang dapat menimbulkan kecemasan bagi mereka. Tanpa pengalaman positif terhadap STEM sejak dini, anak perempuan mungkin mengembangkan sikap enggan terhadap bidang ini.
Preferensi terhadap Ilmu Non-Mutlak: Banyak mahasiswi cenderung menyukai bidang ilmu yang lebih subjektif, di mana kebenaran bersifat relatif dan interpretatif, seperti ilmu sosial humaniora. Bidang STEM, yang sering kali berfokus pada jawaban absolut benar atau salah dapat terasa kurang menarik bagi mereka. Preferensi ini juga didukung oleh pola pembelajaran dan minat yang dikembangkan sejak dini.
Dampak Rendahnya Partisipasi Perempuan dalam STEM
Ketimpangan gender dalam bidang STEM memiliki dampak luas, termasuk:
Kurangnya Keberagaman Perspektif: Partisipasi perempuan dalam STEM sangat penting untuk menciptakan inovasi yang inklusif. Perspektif perempuan dapat membawa pendekatan baru dalam memecahkan masalah, yang sering kali terlewatkan dalam tim yang homogen secara gender. Sebagai contoh, dalam pengembangan teknologi, perangkat atau algoritma yang dirancang tanpa mempertimbangkan keberagaman dapat menghasilkan bias yang merugikan kelompok tertentu, termasuk perempuan. Ketidakseimbangan ini mencerminkan hilangnya potensi kontribusi yang unik dari mahasiswi di bidang STEM. Oleh karena itu, representasi yang lebih seimbang diperlukan untuk memastikan bahwa produk dan teknologi yang dihasilkan dapat digunakan dan diakses oleh semua orang tanpa diskriminasi.
Keterbatasan Peluang Karir bagi Perempuan: STEM merupakan salah satu bidang dengan potensi karir yang tinggi, baik dari segi pendapatan maupun stabilitas pekerjaan. Namun, rendahnya partisipasi perempuan di bidang ini membatasi peluang mereka untuk meraih manfaat tersebut. Dalam dunia kerja, perempuan yang kurang terwakili di STEM sering kali menghadapi tantangan tambahan, seperti kesenjangan upah gender atau kurangnya akses ke posisi kepemimpinan. Hal ini tidak hanya memengaruhi individu tetapi juga menghambat kemajuan gender dalam sektor ekonomi yang strategis. Dengan meningkatkan keterlibatan perempuan, sektor STEM dapat menjadi lebih inklusif dan berkontribusi pada kesetaraan kesempatan karir di seluruh sektor.
Dampak Sosial-Ekonomi: Ketimpangan gender dalam STEM memiliki dampak signifikan pada perekonomian masyarakat secara keseluruhan. Dengan partisipasi perempuan yang rendah, banyak peluang inovasi dan kemajuan teknologi yang terlewatkan. Selain itu, representasi perempuan yang rendah dalam pekerjaan berpendapatan tinggi memperburuk ketimpangan ekonomi dan sosial antara laki-laki dan perempuan. Akibatnya, masyarakat kehilangan potensi sumber daya manusia yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi. Dalam jangka panjang, meningkatkan partisipasi perempuan di STEM tidak hanya akan membantu mereka secara individu tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi suatu negara melalui tenaga kerja yang lebih beragam dan inklusif.
Solusi untuk Meningkatkan Partisipasi Mahasiswi dalam STEM
Untuk meningkatkan ketertarikan mahasiswi pada bidang STEM, Universitas Brawijaya dan pemerintah daerah dapat mempertimbangkan langkah-langkah berikut:
Peningkatan Kesadaran melalui Kampanye dan Sosialisasi STEM: Memberikan informasi yang lebih inklusif dan membuka dialog mengenai pentingnya peran perempuan dalam STEM dapat membantu mengatasi stereotip yang ada.
Pemberian Beasiswa Khusus bagi Mahasiswi di Bidang STEM: Menyediakan bantuan finansial khusus bagi mahasiswi yang memilih jurusan STEM sebagai insentif.
Pembentukan Kelompok Pendukung dan Mentor Perempuan: Program pendampingan dengan mentor perempuan dalam STEM yang sudah berhasil di industri dapat memberikan motivasi dan dorongan kepada mahasiswi.
Kerjasama dengan Industri untuk Peluang Magang: Menggandeng perusahaan-perusahaan teknologi untuk menawarkan magang atau pengalaman kerja yang dapat memperkuat minat mahasiswi pada bidang STEM.
Tampak jelas bahwa peran serta mahasiswi di Universitas Brawijaya dalam bidang STEM masih kurang, dan fenomena ini membutuhkan perhatian khusus.
Partisipasi yang lebih seimbang dalam bidang STEM tidak hanya akan memberi manfaat ekonomi yang besar tetapi juga meningkatkan keberagaman perspektif di dunia ilmiah. Universitas Brawijaya bersama para pemangku kepentingan lainnya perlu merancang dan menerapkan kebijakan yang mampu mengatasi faktor-faktor penghambat sehingga diharapkan jumlah mahasiswi dalam bidang STEM dapat meningkat di tahun-tahun mendatang.
