Negara Juga Bisa Salah Paham: Psikologi Komunikasi dalam Diplomasi
Tulisan dari Ahmad Rizky Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah kita menyampaikan sesuatu dengan maksud tertentu, tetapi orang lain justru menangkapnya dengan cara yang berbeda?
Dalam kehidupan sehari-hari, salah paham seperti ini mungkin hanya berujung pada pertengkaran kecil. Namun, dalam hubungan antarnegara, kesalahpahaman bisa memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar. Pernyataan seorang pejabat dapat memengaruhi hubungan diplomatik, keputusan ekonomi, bahkan persepsi suatu negara terhadap ancaman keamanan.
Karena itu, diplomasi sebenarnya bukan hanya tentang bagaimana sebuah negara menyampaikan pesan kepada negara lain. Diplomasi juga tentang bagaimana pesan tersebut dipersepsikan, ditafsirkan, dan direspons.
Di sinilah psikologi komunikasi menjadi menarik untuk dibicarakan dalam Hubungan Internasional.
Diplomasi Bukan Sekadar Bertukar Kata
Ketika mendengar kata diplomasi, kita mungkin membayangkan pertemuan antarpejabat, jamuan kenegaraan, atau diplomat yang duduk mengelilingi meja untuk melakukan negosiasi.
Semua itu memang bagian dari diplomasi. Tetapi pada dasarnya, diplomasi adalah proses komunikasi.
Negara menyampaikan kepentingannya melalui berbagai macam cara. Ada pidato kepala negara, pernyataan kementerian luar negeri, pertemuan bilateral, kunjungan kenegaraan, konferensi internasional, hingga unggahan di media sosial.
Bahkan, tindakan suatu negara juga dapat menjadi sebuah pesan.
Ketika sebuah negara meningkatkan kerja sama pertahanan dengan negara lain, misalnya, negara ketiga dapat melihatnya sebagai sinyal tertentu. Ketika sebuah negara mengirim bantuan kemanusiaan, tindakan tersebut juga dapat dipersepsikan sebagai bentuk solidaritas, upaya membangun citra positif, atau bahkan strategi memperluas pengaruh.
Artinya, dalam hubungan internasional, komunikasi tidak selalu berbentuk kata-kata. Masalahnya, pesan yang dikirim tidak selalu sama dengan pesan yang diterima.
Sebuah negara dapat mengatakan bahwa suatu kebijakan dilakukan untuk kepentingan domestik, tetapi negara lain bisa saja melihatnya sebagai ancaman terhadap kepentingannya.
Di titik inilah persoalan psikologi komunikasi mulai relevan.
Ketika Pesan dan Persepsi Tidak Bertemu
Dalam psikologi komunikasi, komunikasi tidak berhenti ketika seseorang mengirimkan pesan. Pesan tersebut kemudian diterima dan ditafsirkan oleh pihak lain.
Proses penafsiran ini dipengaruhi oleh banyak hal: pengalaman sebelumnya, tingkat kepercayaan, hubungan antara komunikator dan penerima pesan, konteks, kepentingan, bahkan prasangka yang sudah terbentuk sebelumnya.
Hal yang sama dapat terjadi dalam hubungan antarnegara. Bayangkan ada dua negara, Negara A dan Negara B. Negara A meningkatkan anggaran pertahanannya karena merasa perlu memperkuat keamanan nasional.
Dari sudut pandang Negara A, kebijakan tersebut bersifat defensif. Namun, Negara B tidak memiliki akses langsung terhadap niat sebenarnya dari Negara A. Yang dapat dilihat oleh Negara B adalah peningkatan kemampuan militer tersebut.
Negara B kemudian berpikir, “Mengapa mereka memperkuat militernya? Apakah mereka sedang mempersiapkan sesuatu terhadap kami?” Karena merasa terancam, Negara B ikut meningkatkan kemampuan pertahanannya.
Negara A kemudian melihat tindakan Negara B dan kembali merasa terancam.
Siklus tersebut dapat terus berkembang. Padahal, mungkin sejak awal tidak ada satu pun pihak yang benar-benar berniat menyerang.
Inilah salah satu cara sederhana untuk memahami security dilemma dalam Hubungan Internasional. Ketidakpastian mengenai niat pihak lain dapat membuat tindakan yang sebenarnya dimaksudkan untuk meningkatkan keamanan justru dipersepsikan sebagai ancaman.
Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya apa yang dilakukan suatu negara, tetapi juga bagaimana tindakan tersebut dipahami oleh negara lain.
Negara Tidak Punya Psikologi, tetapi Manusia di Dalamnya Punya
Tentu saja, kita perlu berhati-hati ketika mengatakan bahwa “negara mengalami salah paham”.
Negara bukan manusia. Negara tidak memiliki pikiran atau perasaan seperti seorang individu. Namun, keputusan negara dibuat oleh manusia dan institusi yang harus menerima, mengolah, dan menafsirkan informasi.
Presiden, menteri luar negeri, diplomat, pejabat keamanan, penasihat kebijakan, hingga birokrasi memiliki peran dalam membaca tindakan negara lain.
Karena itu, cara aktor-aktor tersebut memahami informasi dapat memengaruhi kebijakan luar negeri. Dua negara bisa melihat peristiwa yang sama tetapi menghasilkan kesimpulan yang berbeda.
Misalnya, sebuah pernyataan diplomatik yang dimaksudkan sebagai bentuk kehati-hatian dapat dibaca oleh pihak lain sebagai ketidaktegasan. Sebuah kritik yang dimaksudkan sebagai dorongan untuk memperbaiki hubungan dapat dianggap sebagai tindakan bermusuhan.
Di sini, persepsi menjadi bagian penting dalam politik internasional. Hubungan antarnegara pada akhirnya tidak berlangsung dalam ruang yang sepenuhnya objektif. Negara bertindak berdasarkan informasi yang mereka miliki dan interpretasi terhadap informasi tersebut.
Komunikasi Bisa Memperbesar Konflik, tetapi Juga Bisa Menguranginya
Kalau komunikasi dapat menyebabkan salah persepsi, apakah berarti semakin banyak komunikasi justru semakin berbahaya? Tidak juga. Justru komunikasi yang efektif dapat membantu negara mengurangi ketidakpastian.
Dalam diplomasi, komunikasi digunakan untuk menjelaskan maksud, mengklarifikasi posisi, menyampaikan keberatan, sekaligus mencari titik temu. Karena itu, diplomasi tidak hanya berfungsi sebagai arena untuk memperjuangkan kepentingan nasional. Diplomasi juga menjadi mekanisme untuk mengelola persepsi.
Pertemuan langsung antarpejabat, misalnya, memungkinkan negara menyampaikan pesan dengan konteks yang lebih lengkap. Saluran komunikasi diplomatik juga dapat digunakan ketika muncul ketegangan agar suatu tindakan tidak langsung ditafsirkan sebagai ancaman.
Dalam situasi tertentu, bahkan keberadaan saluran komunikasi itu sendiri dapat menjadi penting. Negara mungkin memiliki kepentingan yang berbeda. Mereka mungkin tidak sepakat dalam berbagai isu. Tetapi selama masih tersedia ruang untuk berbicara, terdapat kesempatan untuk menjelaskan maksud dan mencegah kesalahpahaman berkembang menjadi konflik.
Dengan demikian, diplomasi bukan berarti semua negara harus sepakat. Diplomasi justru menjadi semakin penting ketika negara tidak sepakat.
Dari Diplomasi ke Public Diplomacy
Komunikasi antarnegara hari ini juga tidak lagi hanya berlangsung di ruang pertemuan diplomatik.
Masyarakat asing sekarang dapat mengikuti pernyataan seorang pemimpin negara secara langsung melalui internet. Kedutaan besar memiliki akun media sosial. Kementerian luar negeri membuat konten digital. Bahkan satu unggahan dapat menjadi perhatian publik internasional dalam hitungan menit.
Mengapa Psikologi Komunikasi Penting bagi Hubungan Internasional?
Pada akhirnya, psikologi komunikasi membantu kita melihat satu hal yang sering kali terlewat dalam pembahasan hubungan internasional. Kita sering bertanya: Apa kepentingan suatu negara?
Pertanyaan tersebut tentu penting. Negara memang memiliki kepentingan nasional yang ingin dicapai. Tetapi ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting:
Bagaimana negara tersebut memahami kepentingan dan niat negara lain?
Sebab, kebijakan luar negeri tidak hanya dibentuk oleh kondisi objektif. Cara aktor memahami kondisi tersebut juga dapat memengaruhi respons yang diambil. Ketika komunikasi berjalan buruk, ketidakpastian dapat meningkat. Ketika kepercayaan rendah, tindakan yang sebenarnya tidak agresif dapat dibaca sebagai ancaman. Sebaliknya, ketika komunikasi berlangsung secara terbuka dan konsisten, negara memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengurangi kesalahan persepsi.
Inilah alasan mengapa komunikasi menjadi bagian penting dari diplomasi.
Diplomasi pada Akhirnya Adalah Seni Mengelola Persepsi
Hubungan internasional sering kali terlihat seperti permainan kepentingan: siapa mendapatkan apa, siapa memiliki kekuatan lebih besar, dan siapa yang mampu memengaruhi pihak lain.
Namun, di balik semua itu terdapat proses komunikasi yang berlangsung terus-menerus. Negara mengirimkan pesan kemudian negara lain akan menafsirkannya. Interpretasi tersebut menghasilkan respons. Respons itu kemudian kembali dibaca oleh pihak pertama.
Siklus tersebut dapat menghasilkan kerja sama, tetapi juga dapat memperbesar ketegangan. Karena itu, memahami diplomasi tidak cukup hanya dengan melihat apa yang dikatakan negara.
Kita juga perlu melihat bagaimana perkataan tersebut dipahami.
Negara memang bukan manusia yang bisa “salah paham” dalam arti harfiah. Tetapi manusia dan institusi yang menjalankan kebijakan luar negeri dapat memiliki persepsi yang berbeda mengenai maksud pihak lain. Dan dalam politik internasional, perbedaan persepsi tersebut terkadang memiliki konsekuensi yang sangat nyata.
Dalam hubungan internasional, memahami apa yang dikatakan negara sama pentingnya dengan memahami bagaimana perkataan itu ditafsirkan.

