[Opini] PG PAUD Berkontribusi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Agustina Azkia Tunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Berkonteks pada amanat Pembukaan UUD 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, pendidikan anak usia dini (PAUD) menempati posisi penting sebagai fondasi awal membentuk anak-anak bangsa yang cerdas dan berkarakter. Berkaitan dengan hal tersebut, Yenti dan Maswal (2021) menegaskan bahwa PAUD memfokuskan pada peletakan dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, sementara pendidikan karakter di dalamnya bertujuan menumbuhkan kebiasaan terpuji demi lahirnya generasi berakhlak mulia. Menurut saya, dasar itu hanya akan kokoh apabila lima aspek perkembangan anak, yaitu nilai agama dan moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, serta sosial-emosional, tumbuh secara seimbang. Artinya, Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) berkontribusi dengan menyiapkan pendidik yang mampu menstimulasi kelima aspek tersebut secara utuh, sebab bangsa yang cerdas tumbuh dari anak yang berkembang utuh.
Menyikapi situasi tersebut, tentu saja peran PAUD memerlukan penegasan agar tidak dipandang sebelah mata. Realitasnya, sebagian orang masih menganggap PAUD hanya tempat bermain, padahal guru dituntut menjadikan pembelajaran sebagai ajang pembentukan karakter dan kualitas pribadi anak (Yenti & Maswal, 2021). Menurut saya, anggapan inilah yang berbahaya, sebab apabila PAUD dianggap remeh, pembekalan pendidiknya ikut diremehkan sehingga stimulasi anak berjalan seadanya. Akibatnya, kelima aspek perkembangan tidak tumbuh seimbang dan anak memasuki jenjang berikutnya dengan fondasi yang rapuh.
Maka dari itu, solusi yang perlu ditempuh adalah memperkuat kualitas pendidik PAUD sejak proses pendidikan calon guru. PG PAUD perlu membekali calon pendidik dengan pemahaman yang kuat tentang perkembangan anak, kemampuan merancang kegiatan bermain yang bermakna, serta keterampilan memberikan stimulasi pada setiap aspek perkembangan anak. Pada satu sisi, calon pendidik perlu terampil mengajar, dan pada sisi lainnya mereka juga perlu mampu menjelaskan kepada orang tua bahwa bermain di PAUD bukan sekadar mengisi waktu, melainkan cara anak belajar. Kerja sama antara pendidik, keluarga, dan negara sangat dibutuhkan, sebab tanpa langkah yang seirama, cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa akan sulit dicapai. Akhir kata, mari kita mulai dari yang paling awal, semoga dari tangan para pendidik PAUD lahir generasi cerdas dan berkarakter.
