Pandemi COVID-19 sebagai Bentuk Ujian bagi Pustakawan

Mahasiswa Universitas Brawijaya
Tulisan dari DEFANI YUAN REGITA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa benar dengan hadirnya virus COVID-19 ini menjadi sebuah bentuk ujian bagi para pustakawan?
Ya, memang benar.
Semenjak adanya wabah COVID-19 ini, segala aktivitas dan fasilitas publik di seluruh dunia terpaksa ditiadakan dalam artian ditutup untuk sementara, salah satunya yaitu perpustakaan. Terlebih saat ini muncul varian virus baru corona di India, B1617, yang diumumkan telah masuk ke Indonesia pada 3 Mei 2021.
Varian ini masuk dalam variant of concern, virus corona yang diwaspadai. Sebab, mutasi virus ini lebih bahaya dibandingkan dengan pendahulunya. Hal itu lah yang menjadi sebuah bentuk ujian bagi seluruh masyarakat di dunia terlebih masyarakat Indonesia dan khususnya bagi para pustakawan yang ada.
Mengapa bisa dikatakan begitu?
Seorang pustakawan adalah manusia yang up to date, karena menjadi seorang pustakawan harus mengetahui informasi dan teknologi terbaru dan yang sedang berkembang atau yang sedang tren di kalangan masyarakat. Sehingga apabila kita sebagai pemustaka yang membutuhkan informasi, maka pustakawan yang akan memberikan informasi yang kita butuhkan.
Pustakawan juga selalu dituntut untuk menjadi informan yang tepercaya, karena di kondisi pandemi yang saat ini kita hadapi penyebaran informasi yang ada di media sosial sangatlah cepat sehingga informasi yang ada menjadi semakin sulit untuk difilter, kita akan mudah termakan oleh informasi-informasi yang belum tentu benar adanya dan tentu kita juga akan bingung untuk membedakan antara informasi yang hoaks dan informasi yang benar-benar valid. Oleh karena itu, pustakawan yang berperan dalam memilah informasi sebelum disebarluaskan kepada masyarakat agar informasi yang disajikan tepercaya.
Pada situasi yang seperti ini, pustakawan juga harus mengganti sistem layanan mereka yang dulunya bisa melayani secara offline kini mekanisme pelayanannya harus berganti melalui media online agar tetap bisa melayani kita sebagai pemustaka. Pustakawan juga harus bisa memutar otak dan bekerja secara kreatif untuk mencari ide-ide baru guna mengembangkan perpustakaan agar tidak ditinggalkan oleh pemustaka, seperti dengan menerapkan perpustakaan digital.
Perpustakaan digital sendiri adalah salah satu inovasi yang sedang dikembangkan seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. Perpustakaan digital dapat di akses melalui perangkat elektronik seperti laptop, tablet, dan smartphone, kapanpun dan dimanapun, sehingga kita tidak perlu keluar rumah dan tetap bisa mendapatkan informasi ataupun pengetahuan yang dibutuhkan secara mudah.
Aktivitas yang bisa kita mulai dalam menggunakan layanan perpustakaan offline beralih ke perpustakaan digital yaitu dengan cara mengunduh aplikasi di playstore untuk android atau dari website perpustakaan untuk pengguna yang menggunakan media laptop atau komputer.
Adanya perubahan sistem pelayanan menggunakan perpustakaan digital apakah menimbulkan problem bagi pustakawan? Jawabannya tentu iya.
Adanya perubahan pelayanan perpustakaan ini ternyata menimbulkan beberapa dampak pada psikologi pustakawan, seperti adanya stres kerja karena tidak semua pustakawan memiliki keahlian dan bakat dalam penggunaan teknologi sebagai pelayanannya. Dengan begitu akan muncul dampak stres pada pustakawan dan tentunya juga akan berdampak pada penurunan kondisi fisik dan mental mereka.
Penurunan kondisi pustakawan dapat mempengaruhi kondisi fisik, psikologi, dan perilaku pustakawan dalam melaksanakan pekerjaannya. Menurunnya kondisi mental pustakawan akan berdampak juga pada semangatnya dalam bekerja. Mereka harus bisa bekerja dengan baik agar tujuan dan fungsi perpustakaan dapat terealisasi.
Lalu, adakah tips untuk pustakawan dalam mengantisipasi stres kerja? Tentu ada.
Yang harus di prioritaskan yaitu pustakawan harus mampu mengontrol dirinya agar stres yang terjadi juga dapat diantisipasi agar tidak membahayakan dirinya sendiri.
Rutinitas yang bisa dilakukan contohnya yaitu dengan melakukan aktivitas yang penuh canda tawa agar mereka bisa melupakan situasi dan kondisi yang kurang menyenangkan ini untuk sementara, kemudian mereka juga bisa melakukan aktivitas lain yang pastinya bisa membuat suasana hati menjadi lebih senang agar bisa mengurangi beban pikiran mereka, dan tentunya harus tetap berpikir positif dan yakin bahwa kecemasan akan hilang dan keadaan akan bisa kembali pulih seperti dulu lagi. Dengan seperti itu, mereka akan menjadi lebih semangat lagi dalam bekerja sehingga terjadinya stres kerja tersebut dapat diantisipasi.
Menjadi pustakawan memang tidak mudah, banyak aral rintangan yang harus dihadapi. Tapi hal tersebut harus menjadi suatu motivasi dan cambuk agar pustakawan dapat lebih kreatif dan inovatif dalam mengelola sebuah perpustakaan untuk upaya meningkatkan semangat berliterasi bagi masyarakat.
Pesan untuk para pustakawan...
Jika tidak dapat melakukan hal-hal besar, lakukanlah hal-hal kecil dengan cara yang hebat.
Oleh:
Defani Yuan Regita, Airlangga Duta Purwa Sabdono, Putri Anggietha Maharani Rianto, Early Brillianna Nur Laila Wahyudin.
Mahasiswa Perpustakaan dan Arsip Universitas Brawijaya.
