Rusaknya Habitat Flora Fauna Akibat Ulah Manusia Yang Tidak Bertanggung Jawab!

Salsabilla Khalisha
Mahasiswi program studi pendidikan biologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Konten dari Pengguna
11 Juni 2024 14:33 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Salsabilla Khalisha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: Gambar hasil foto sendiri
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Gambar hasil foto sendiri
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Salah satu aset yang tidak banyak dimiliki negara lain yaitu hutan. Berdasarkan informasi yang sudah saya baca telah disebutkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), hutan indonesia memiliki 125, 76 hektare, atau 62,97% dari total luas tanah Indonesia. Tentu jumlah ini pasti telah menurun sejak beberapa dekade terakhir, karena eksploitasi dan pembukaan lahan yang signifikan telah mengurangi kawasan hutan. Laju kerusakan hutan yang terus meningkat setiap tahun, mencapai 2,3juta ha/tahun. Sedihnya eksploitasi hutan terus terjadi dari masa lalu hingga saat ini, meskipun kampanye tentang pentingnya hutan terus dilakukan.
ADVERTISEMENT
Hutan menyumbang 30% oksigen di Bumi. Jika luas hutan menurun karena deforestasi atau tutupan hutan menipis, serapan CO2 dan produksi oksigen juga akan terhambat, dan kawasan industri akan terus memproduksi CO2, meningkatkan emisi karbon. Kondisi tersebut akan menyebabkan celah di atmosfer dan berpotensi mengundang ancaman kebencanaan yang lebih besar di masa mendatang jika dibiarkan. Opini saya untuk meningkatkan kepedulian demi keberlangsungan hutan, perlu adanya kerja sama dengan berbagai sektor.
Sumber: Gambar hasil foto sendiri
Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menangani kasus penebangan liar skala besar yang paling sering. Sekitar 65% pasokan industri kayu Indonesia berasal dari pembakaran liar. Setelah hal ini terjadi, lahan direklamasi dan dialihgunakan untuk tujuan lain, seperti hutan tanaman industri (HTI). Menurut PP nomor 7 tahun 1990 mengenai hak pengusahaan hutan tanaman industri (HTI), HTI adalah hutan tanaman yang dibangun untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur intensif untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri hasil hutan. Tujuannya untuk pengembangan industri hasil hutan dalam negeri untuk meningkatkan nilai tambah dan devisa, meningkatkan produktivitas lahan, dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup seta mencegah kerusakan hutan alam. Namun seiring berjalannya waktu kinerja tanam (HTI) belum tepat utnuk dikatakan baik dan kinerja pengelolaanya masih buruk. Angka deforestasi HTI sebesar 453 ribu hektar, dan masih ada tutupan hutan seluas 1,5 juta hektar di wilayah konsesi HTI. Angka deforestasi yang tinggi berdampak negatif pada masyarakat lokal dan flora dan fauna di ekosistem hutan.
ADVERTISEMENT
Adapun Dampak Dari Eksploitasi Hutan bagi Keberlangsungan Hidup:
Terganggunnya Siklus Air, hutan memainkan peran yang sangat penting dalam siklus air dengan menyerap curah hujan dan menghasilkan uap air yang dilepaskan ke atmosfer. semakin sedikit pohon di bumi, semakin sedikit kandungan air di udara yang akan dikembalikan ke tanah dalam bentuk hujan. Nantinya, hal tersebut dapat menyebabkan tanah kering, membuat hidup tanaman sulit. Selain itu, karena deforestasi mengurangi jumlah pohon di hutan.
Perubahan Iklim, hutan merupakan penghasil terbesar gas oksigen (O2) di atmosfer dan membantu menyerap gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Kerusakan hutan juga dapat menyebabkan suhu tanah meningkat dan perubahan iklim yang signifikan.
Kerugian Ekonomi, hutanh merupakan salah satu sumber kekayaan alam, dan banyak masyarakat bergantung pada hasil hutan untuk hidup. Jika hutan rusak, sumber penghasilan mereka juga akan hilang. Kerusakan hutan dapat menyebabkan tanah tandus, membuatnya tanaman sulit untuk ditanam. Selain itu, kerusakan hutan dapat menyebabkan berbagai macam bencana yang pada akhirnya menyebabkan kerugian. Banyak orang kehilangan lahan, tempat tinggal, maupun anggota keluarga mereka.
ADVERTISEMENT
Konflik Manusia dengan Hewan, ulah manusia terkadang menyebabkan konflik antara hewan liar dan manusia. Contohnya seperti harimau, beruang, dan gajah yang beberapa waktu terakhir turun ke pemukiman warga. Beruang yang main di bawah rumah panggung warga sehigga menyerang petani karet. Selanjutnya beberapa gajah liar pergi ke perkebunan rakyat Pekanbaru. Tidak hanya melintas, tetapi gajah memakan pepaya hingga mencabut pohon kelapa, menyebabkan kebun yang sudah siap panen luluh lantak. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau sering turun ke lokasi bersama dengan lembaga lain untuk menangani hubungan buruk dengan harimau yang mendekati pemukiman juga terjadi di beberapa kabupaten di Riau. Konflik ini dapat menyebabkan banyak korban manusia, kebun-kebun, dan binatang di pemukiman warga.
ADVERTISEMENT
Banyak kasus bencana alam terjadi akhir-akhir ini di Indonesia. Seperti banjir bandang yang merusak puluhan rumah dan puluhan hektar pertanian masyarakat, tanah longsor yang menimpah dan merobohkan puluhan rumah warga, memutuskan akses jalan, dan penurunan kadar oksigen di atmosfer yang semakin menipis, yang dapat mengancam keberlangsungan makhluk hidup.
Menurut opini saya sekarang ada banyak cara untuk mencegah kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh ulah manusia. Sampai undang-undang perlingdungan alam mengatur upaya pemerintah untuk mengatasi kerusakan alam. Salah satunya adalah dengan menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan sosial geografi. Ilmu geografi membahas tentang ilmu yang mempelajari Bumi, termasuk semua gejala dan proses alamnya serta gejala dan proses kehidupannya, termasuk manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan. Ada banyak sekali keuntungan mempelajari ilmu geografi. Salah satunya cara manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Masyarakat akan memahami cara menjaga alam secara etis, yaitu dengan menghindari hal-hal yang dapat merusak ekosistem alam, seperti eksplomersi hutan berlebihan, pembakaran hutan, pemburuan liar, dan kerusakan lainnya, tanpa merusak habitat hewan dan menjaga kelangsungan hidup makhluk lain. Semua ini harus dilakukan untuk mencegah efek negatif dari kerusakan alam, seperti bencana alam dan penyerangan hewan liar di permukiman warga. Manusia akan menyadari bahwa alam adalah rumah yang paling penting, dan rumah yang paling bermanfaat bagi kehidupan makhluk hidup di dunia, jika manusia dapat mengatasi eksploitasi alam yang berlebihan.
ADVERTISEMENT
Salsabilla Khalisha