Analisis Strategis Kawasan Timur Tengah yang Dikaji Melalui Teori Rimland

Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Hanif Zaimar Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jika ditanya mengenai Timur Tengah yang langsung terpikir dibenak publik adalah negara-negara arab, kaya akan minyak atau bahkan konflik berkepanjangan. Secara historis, kawasan tersebut berperan sangat penting dalam sejarah dan peradaban manusia.
Lantas mengapa Timur Tengah menjadi kawasan yang strategis dan rawan konflik? Simak Pembahasan tersebut melalui teori Rimland yang digagas oleh Nicholas J. Spykman.
Timur tengah adalah sebuah wilayah geopolitik dan budaya yang mencakup sebagian besar kawasan Asia Barat serta sebagian Afrika Utara.
Beberapa negara yang masuk ke kategori ini adalah negara-negara di Jazirah Arab (Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab), Levant (Suriah, Yordania, Lebanon), serta Iran, Irak, Turki, dan Mesir.
Namun jika melihat kilas balik dalam sejarah, peradaban manusia mencatat kawasan tersebut sebagai wilayah yang dikelilingi oleh perebutan kekuasaan dan konflik.
Penaklukan Aleksander Agung, rivalitas antara Romawi dengan Persia, Perang Salib, Invasi Mongol, hingga yang terkini adalah konflik Israel dan Palestina.
Fenomena tersebut menciptakan tanda tanya besar mengenai nilai strategis yang dimiliki oleh Timur Tengah. Pola berulang tersebut selalu terjadi di era atau zaman manapun.
Mari bedah lebih lanjut melalui teori Rimland dari Spykman.
Teori Rimland Spykman
Teori Rimland sejatinya adalah kritik dari teori geopolitik terkenal sebelumnya, yaitu teori Heartland yang digagas oleh Harfold Mckinder pada tahun 1904.
Secara sederhana, teori Heartland adalah konsep geopolitik yang menyatakan bahwa siapa pun yang menguasai wilayah tengah Eurasia (daratan utama Eropa dan Asia) akan memiliki kekuatan untuk menguasai dunia.
Teori ini hadir dengan gagasan utama bahwa kekuatan darat (land power) lebih signifikan daripada kekuatan laut (sea power) untuk mendominasi politik dunia.
Heartland (kawasan jantung) merupakan wilayah inti kontinental di pedalaman benua Eurasia yang sangat kaya akan sumber daya alam. Wilayah ini membentang dari eropa timur, wilayah kaukasia, hingga siberia di utara.
Karena letak geografisnya yang terisolasi, wilayah ini sangat sulit ditembus oleh invasi kekuatan maritim dari luar.
Mackinder berpendapat bahwa penguasaan atas wilayah yang terlindungi secara alami ini memberikan keuntungan pertahanan dan ofensif yang luar biasa bagi negara yang menempatinya.
Hal ini didukung dengan perkembangan teknologi pada masa itu, yaitu perkembangan jaringan rel kereta api transkontinental yang memungkinkan kekuatan darat (seperti Rusia) memindahkan logistik dan militer secara cepat melintasi pedalaman Eurasia, menantang hegemoni maritim Inggris kala itu.
Namun teori Heartland dikritik oleh akademisi dan geostrategis Amerika Serikat, Nicholas J. Spykman pada tahun 1944.
Spykman menilai bahwa Mackinder terlalu melebih-lebihkan signifikansi kekuatan darat di pedalaman Eurasia.
Sebaliknya, Spykman berfokus pada sabuk pesisir pantai atau wilayah pinggiran luar (inner and outer crescent) yang mengelilingi Heartland, yang ia sebut sebagai "Rimland".
Kawasan Rimland ini membentang luas mencakup Eropa Barat, Timur Tengah, hingga wilayah monsun Asia.
Berbeda dengan Heartland yang terisolasi dari kekuatan laut, wilayah Rimland memiliki karakteristik unik karena terhubung langsung dengan rute perdagangan maritim dan juga berbatasan langsung secara fisik dengan kekuatan darat di pedalaman benua.
Spykman juga berargumen jika penguasaan Rimland sangat krusial untuk mencegah kekuatan Heartland melakukan ekspansi ke arah samudra dan mendominasi dunia. Di sini, Rimland bertindak sebagai penyeimbang kekuatan (counterbalance) yang menjaga stabilitas tatanan dunia.
Dengan gagasan tersebut, Spykman mengajukan sebuah quotes yang terkenal yaitu, "Siapa yang menguasai Rimland akan menguasai Eurasia. Siapa yang menguasai Eurasia akan mengontrol nasib dunia."
Bagaimana Gagasan Spykman Dikaji di Timur Tengah
Kawasan ini sedari dulu sudah menjadi wilayah yang vital dalam menghubungkan ketiga benua, yaitu Benua Asia, Afrika dan Eropa.
Timur Tengah menjadi tempat transit yang strategis bagi perdagangan sejak zaman sebelum masehi sehingga siapa pun yang menguasai wilayah ini akan mendapatkan keuntungan perdagangan yang masif.
Terlebih wilayah Levant merupakan daerah subur untuk pertanian sehingga banyak kekuasan besar menginginkan daerah tersebut.
Letaknya yang strategis juga menjadikannya daerah pertukaran budaya yang penting antara dunia arab dengan dunia eropa dan persia.
Namun teori Rimland memperkuat nilai strategis yang kawasan ini miliki. Kawasan Timur Tengah, yang meliputi negara-negara arab, Levant, Persia, dan Afrika Utara (Mesir) termasuk ke dalam wilayah Rimland yang dimaksud oleh Spykman.
Sabuk Rimland berfungsi sebagai zona penyangga (buffer zone) yang vital untuk mengimbangi kekuatan darat dari kawasan kontinental Heartland.
Timur Tengah sebagai zona penyangga dapat mencegah kekuatan Heartland (seperti Rusia) atau kekuatan revisionis lainnya mengonsolidasikan kontrol penuh atas wilayah daratan dan rute maritim secara bersamaan.
Menjaga akses yang bebas, stabil, dan terbuka di Timur Tengah menjadi prasyarat mutlak untuk menciptakan perimbangan kekuatan (balance of power) yang menstabilkan tatanan internasional.
Hal ini yang menjadi alasan banyak negara-negara besar di dunia, seperti Amerika Serikat dan Inggris membangun pangkalan militer di Timur Tengah.
Pembangunan pangkalan militer memiliki tujuan khusus selain untuk memberikan pengaruh di kawasan, tetapi juga menjaga agar kekuatan Heartland tidak menyebar lebih luas (dalam hal ini adalah Rusia dan sekutunya).
Contohnya adalah Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar yang merupakan fasilitas militer terbesar Amerika Serikat di kawasan ini. Pangkalan militer tersebut memberikan peran signifikan bagi Amerik Serikat untuk membendung ancaman eksternal sekaligus memobilisasi massa dalam agenda militernya.
Pangkalan Udara Al Udeid adalah salah satu dari belasan pangkalan militer Amerika Serikat yang ada di kawasan Timur Tengah. Semakin banyak AS menguasai dan mengontrol pangkalan militer tersebut, semakin besar kekuatan dan pengaruh AS di kawasan.
Kontestasi kekuasaan besar semakin kental pada abad ke-20 ketika minyak ditemukan ditemukan. Wilayah Timur Tengah menyimpan cadangan minyak raksasa yang dibutuhkan untuk industri hingga saat ini.
Fenomena tersebut mengeksponensialkan nilai-nilai strategis. Penguasaan terhadap kawasan, terkhusus di jalur-jalur strategis menjadi penting untuk aktor-aktor besar.
Terusan Suez, Selat Hormuz hingga Selat Bab el-Mandeb tidak hanya menjadi titik penting (choke point), tetapi juga berfungsi sebagai penyeimbang daratan dan laut.
Terusan Suez dan Selat Bab el-Mandeb sebagai jalur perdagangan penting, sementara Selat Hormuz sebagai jalur minyak penting, yang menguasai akan menguasai Eurasia dan pada akhirnya, menguasai dunia.
Maka tidak heran aktor-aktor besar terlibat dalam pengaruh dan kekuasaan di kawasan ini, baik secara militer maupun ekonomi.
Amerika Serikat misalnya, menghadirkan pangkalan militer untuk menahan pengaruh dari Heartland (Rusia), sementara Rusia terus memperluas pengaruhnya dengan menggandeng aktor-aktor regional di kawasan.
Iran juga berkontestasi dalam kawasan ini dengan menyebarkan pengaruh Syiah dan kepentingan nasional.
China di lain sisi, memaksimalkan kerja sama regional di kawasan untuk mendukung konektivitas dalam ambisi Belt and Road Initiative (BRI).
Namun aktor yang hendak berkontestasi tersebut tidak selalu dari negara-negara adidaya. Aktor regional juga berusaha membentuk tatanan kekuasaan.
Kawasan ini begitu penting untuk diabaikan, maka kekuatan-kekuatan baru akan berusaha untuk menanamkan pengaruh dan mengambil peran demi keuntungan strategis.
Ada kalanya aktor-aktor tersebut saling berkonflik satu sama lain, sehingga menyebabkan peperangan yang mengekskalasi kompleksitas isu di kawasan.
Namun kompetisi tersebut tidak berdiri pada garis hitam dan putih. Teori Rimland dari Spykman, meskipun sudah berumur lebih dari 82 memiliki signifkansi yang relevan hingga abad ke-21.
Alasannya adalah karena geografi dan titik strategis tidak pernah berubah. Selat Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz adalah titik krusial yang akan selalu dilintasi oleh jalur perdagangan. Negara yang menguasai titik tersebut akan mendapatkan keuntungan strategis yang akan meningkakan perekonomian negara.
Misalnya Mesir yang mendapatkan keuntungan fantastis dari pengelolaan Terusan Suez. Maka masuk akal jika aktor, di berbagai belahan bumi dengan keuntungan geografisnya, akan tertarik untuk memanfaatkan semaksimal mungkin.
Di atas kertas, teori Rimland dari Spykman dinilai usang karena sudah tidak merepresentasikan dinamika kawasan di abad modern. Namun kenyataanya, geografis tidak pernah berubah, dan hal tersebut yang senantiasa mendukung dinamika kawasan di Timur Tengah.
