Bagaimana Pegunungan Kaukasus Membentuk Dinamika Geopolitik di Eurasia?

Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Hanif Zaimar Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kawan-kawan mendengar Pegunungan Kaukasus? Pegunungan Kaukasus terletak di antara dua benua. Selain menawarkan kekayaan dan keindahan alam yang memukau, pegunungan ini juga menyimpan sejarah panjang dalam peradaban manusia.
Namun yang terpenting, Pegunungan Kaukasus tidak hanya menjadi objek alam saja, tetapi juga berperan dalam dinamika politik di sekitarnya. Lantas bagaimana karakter pegunungan yang sifatnya geografis dapat membentuk dinamika geopolitik di Eurasia? Simak pembahasan sebagai berikut.
Dilansir dari kumparan.com, Pegunungan Kaukasus adalah jajaran pegunungan yang terletak di antara Eropa dan Asia, membentang dari Laut Hitam di barat hingga Laut Kaspia di timur. Sejak berabad-abad lalu, Pegunungan Kaukasus sudah memegang peran sentral dalam peradaban dan kehidupan manusia di sekitarnya.
Terlebih wilayah dengan ketinggian rata-rata lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut, menjadikannya batas antar banyak budaya dan peradaban di dunia. Pegunungan ini sudah menjadi jalur perdagangan penting yang menghubungkan Benua Eropa dan Benua Asia.
Peradaban besar kuno seperti Persia, Romawi, Bizantium, dan Islam pernah mewarnai kawasan Pegunungan Kaukasus. Kawasan ini melahirkan kerajaan penting seperti Armenia Kuno, Iberia dan Kolkhis (Georgia), serta Albania Kaukasia (Azerbaijan), yang menjadi jalur silang migrasi, perdagangan, dan budaya.
Hingga pada abad ke-19, Rusia memperluas wilayahnya ke Kaukasus yang menandai kontrol atas kawasan tersebut. Dagestan dan Chechnya sudah menjadi bagian wilayah Rusia dan berperan pada dinamika politik dan sosial di Pegunungan Kaukasus.
Pembahasan dalam lingkup Pegunungan Kaukasus merupakan subtema dari kajian geopolitik. Bagaimanakah geopolitik memandang kondisi geografis dalam dinamika politik?
Apa itu Geopolitik?
Geopolitik secara sederhana adalah studi mengenai bagaimana kondisi geografis dapat memengaruhi politik, relasi antarkuasa, hingga strategi dan kebijakan suatu negara.
Geopolitik membahas tidak hanya fisik saja, tetapi juga ruang dan kekuasaan di dalamnya. Ruang yang dimaksud adalah perluasan makna dari batas-batas fisik.
Artinya, ruang tersebut berhubungan dengan persepsi dan mental dari aktor-aktor yang terlibat. Ketika 2 orang saling bertatapan secara intens dengan jarak 100 meter, kondisi tersebut dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman hingga berakhir pada perasaan terancam. Perasaan terancam tersebut yang disebut sebagai ruang dalam geopolitik dan lebih dari sekadar jarak secara fisik.
Jika dikaitkan dengan geopolitik di kawasan, Pegunungan Kaukasus misalnya, Armenia tidak secara langsung berbatasan dengan Rusia.
Namun persepsi yang dipancarkan oleh Rusia dengan kekuatan militernya dapat membuat Armenia merasa terancam dan waspada, padahal di utara negara tersebut berbatasan dengan Georgia.
Hal ini juga berlaku jika dikaitkan dengan Turki dengan Rusia atau Iran dengan Rusia. Meskipun kedua negara tersebut tidak berbatasan darat langsung dengan Rusia, tetapi ruang yang diciptakan dapat memengaruhi persepsi kedua negara terlepas dari garis perbatasan yang berjauhan.
Contoh tersebut merupakan bentuk nyata dari ruang yang terancam dimana bukan hanya jarak yang memengaruhi perspesi suatu aktor, tetapi juga bagaimana kondisi imajiner memengaruhi persepsi tersebut.
Analisis Karakter Geografis Pegunungan Kaukasus
Karakter geografis Pegunungan Kaukasus yang membentang dari Laut Hitam ke Laut Kaspia menjadikannya sebagai penghalang sekaligus jalur penghubung yang vital.
Rangkaian pegunungan tersebut menciptakan hambatan alami seperti akses transportasi, poin transit maupun aktivitas fisik lainnya. Ketika ada orang yang ingin bepergian dari Georgia ke Rusia maupun sebaliknya, ketinggian Pegunungan Kaukasus akan menyulitkan mobilitas tersebut.
Tidak banyak akses darat yang bisa dilalui dengan medan seberat itu. Medan yang terjal dan ekstrem membuat perjalanan menjadi sangat lambat.
Begitu pula dalam konteks perdagangan. Akses komoditas terhambat melintasi medan-medan curam dan terjal. Dampaknya adalah kenaikan biaya logistik dan komoditas.
Aktivitas militer juga akan terhambat dengan kondisi geografis tersebut. Ketika Georgia terlibat konflik dengan Rusia pada tahun 2008, Rusia membutuhkan strategi khusus untuk dapat melakukan invasi darat karena terkendala dengan medan yang curam.
Namun, kondisi geografis Pegunungan Kaukasus tidak selamanya menciptakan hambatan. Pada saat yang sama, titik sempit (choke point) dapat menjadi keuntungan strategis yang vital.
Siapa pun yang menguasai titik sempit maka secara langsung akan dengan mudah memanfaatkan keuntungan strategis untuk kepentingannya.
Titik sempit adalah jalur atau wilayah geografis strategis dan sempit yang menjadi jalur utama penghubung antara dua area yang lebih luas. Penguasaan titik sempit tersebut dapat memusatkan mobilitas pada jalur-jalur tertentu seperti lembah, celah pegunungan, dan koridor.
Rusia pun memanfaatkan beberapa titik sempit untuk melintasi perbatasan wilayah Georgia.
Salah satu titik sempit tersebut adalah Terowongan Roki, yaitu terowongan jalan raya bawah tanah sepanjang 3,7 kilometer yang menembus Pegunungan Kaukasus Besar.
Terowongan ini berada di ketinggian sekitar 2.100 meter di atas permukaan laut dan menghubungkan Ossetia Utara (wilayah Rusia) langsung dengan Ossetia Selatan (wilayah separatis di Georgia)
Melalui terowongan tersebut, Rusia dapat memanfaatkan mobilitas tentara dan kendaraan militer secara maksimal. Tanpa terowongan tersebut, Rusia belum tentu bisa memobilisasi hingga sekitar 100 tank, 500 kendaraan lapis baja, dan 200 sistem artileri ke garis depan.
Selain memanfaatkan Terowongan Roki secara maksimal, Rusia juga menggunakan jalur alternatif seperti Lembah Liakhvi untuk menembus perbatasan Georgia. Koridor lembah ini merupakan rute alami yang menurun menuju dataran rendah Georgia.
Rusia mengerahkan pasukan lintas udara (airborne units) dan milisi lokal untuk mengamankan desa-desa di sepanjang lembah ini guna memastikan jalur logistik dari utara Kaukasus tidak disergap atau diputus oleh militer Georgia.
Contoh tersebut merupakan bentuk nyata bahwa jika suatu aktor dapat memanfaatkan titik sempit, maka akan mendapatkan keuntungan strategis yang tak ternilai, baik itu secara ekonomi maupun keamanan.
Implementasi Empat Pilar Geopolitik
Geopolitik memiliki empat pilar untuk dikaji, yaitu geografi, sejarah, politik, dan strategi. Keempat pilar tersebut saling berkorelasi satu sama lain sehingga tidak dapat dipisahkan begitu saja.
Pertama, geografi merupakan batas-batas fisik yang jelas seperti sungai, laut, hingga pegunungan yang berperan dalam dinamika kawasan.
Pegunungan Kaukasus memiliki posisi yang unik karena membentang di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia serta berada pada persimpangan Rusia, Turki, Iran, Eropa Timur, dan Asia Tengah.
Rangkaian Kaukasus Besar di utara dan Kaukasus Kecil di selatan menciptakan bentang alam yang terjal dan tidak mudah dilalui. Kondisi ini menjadikan pegunungan sebagai barier alami, tetapi bukan berarti kawasan tersebut sepenuhnya terisolasi.
Keterbatasan akses justru membuat lembah, celah pegunungan, dan koridor tertentu menjadi sangat bernilai. Posisi inilah yang menjadi fondasi penting bagi nilai geopolitik di Eurasia.
Kedua, sejarah menjelaskan bagaimana dinamika kawasan sangat dipengaruhi oleh sejarah.
Letaknya di antara wilayah kekuasaan Rusia, Persia, dan Kesultanan Utsmaniyah membuat penguasaan terhadap jalur dan wilayah tertentu di Kaukasus memiliki ruang yang penting daripada sekadar menjadi bagian dari wilayah suatu negara.
Akibatnya, konflik dan perebutan kekuasaan menjadi hal yang lumrah terjadi di kawasan ini dan meninggalkan warisan berupa batas-batas wilayah dan identitas yang masih memengaruhi politik kawasan hingga kini.
Kondisi tersebut yang menjadi titik bagi aktor-aktor di kawasan dalam merumuskan kebijakan politiknya.
Ketiga, politik berkaitan dengan bagaimana aktor menentukan pilihan dan mengambil keputusan.
Posisi geografis dan warisan sejarah tersebut membuat Kaukasus menjadi ruang yang memiliki kepentingan bagi banyak aktor.
Rusia berkepentingan terhadap stabilitas dan keamanan di kawasan yang berbatasan langsung dengan wilayahnya, sedangkan Turki dan Iran memiliki kepentingan karena kedekatan geografis serta hubungan ekonomi dan politik dengan negara-negara Kaukasus.
Di sisi lain, Georgia, Armenia, dan Azerbaijan tidak hanya menjadi objek persaingan kekuatan eksternal, tetapi juga merupakan aktor yang berusaha menggunakan posisi geografisnya untuk memperkuat kepentingan nasional masing-masing.
Masing-masing aktor memiliki kepentingan yang dicapai untuk mempertahankan kedaulatan wilayahnya dan memanfaatkan dengan maksimal kepentingan di kawasan Pegunungan Kaukasus.
Keempat, strategi berarti bagaimana aktor-aktor yang terlibat dapat memanfaatkan keuntungan dan kerugian geografis untuk kepentingannya.
Karakter geografis Pegunungan Kaukasus kemudian dipahami oleh aktor sebagai perwujudan kepentingan nasionalnya. Medan pegunungan dapat dimanfaatkan sebagai pertahanan alami, sementara puncak gunung dan koridor menjadi titik yang perlu diamankan karena berfungsi sebagai jalur mobilitas.
Jalan, jalur kereta, jaringan pipa energi, serta koridor perdagangan yang melewati kawasan ini menjadikan akses terhadap Pegunungan Kaukasus memiliki nilai strategis dalam hubungan ekonomi dan politik Eurasia.
Pegunungan memang tidak bisa berubah, tetapi strategi dan kepentingan aktor dapat berubah bergantung pada kondisi geopolitik dan ancaman yang mengintainya.
Pada akhirnya, Pegunungan Kaukasus menunjukkan bahwa geopolitik tidak pernah dapat dilepaskan dari ruang geografis tempat kekuasaan beroperasi, terkhusus di kawasan Eurasia.
Bentang alam yang terjal menciptakan hambatan sekaligus jalur akses yang vital dan strategis. Dinamika geopolitik tidak hanya melihat jarak secara fisik, tetapi juga ruang yang merupakan bentuk imajiner dalam memahami interaksi antaraktor di Pegunungan Kaukasus.
