Ketika Spanyol dan Italia Mengawal Kemanusiaan di Laut Mediterania

Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Hanif Zaimar Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terdapat fenomena menarik di tengah Laut Mediterania. Di tengah situasi konflik antara Israel-Palestina, Spanyol dan Italia membantu mengawal kapal-kapal Global Sumud Flotilla dengan mengirim armada militernya. Fenomena tersebut menimbulkan pertanyaan, mengapa Spanyol dan Italia mau membantu kapal tersebut meskipun tidak ada keuntungan material yang didapatkan? Mari simak penjelasan berikut dengan pendekatan budaya.
Pada bulan September lalu, kapal-kapal dari Global Sumud Flotilla melakukan peristiwa bersejarah bagi dunia dimana puluhan kapal berangkat dari berbagai negara di laut mediterania untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan yang melanda Gaza.
Aksi tersebut dilakukan lantaran konflik yang terjadi di Gaza tidak berkesudahan. Agresi yang dilakukan oleh Zionis Israel dari tahun 2023 hingga sekarang berlangsung tanpa henti dan telah menimbulkan ribuan korban jiwa.
Organisasi kemanusiaan tergerak untuk membantu rakyat yang menderita akibat konflik yang terjadi di Gaza. Salah satunya adalah organisasi kemanusiaan terbesar di dunia, yaitu Global Sumud Flotilla.
Dilansir melalui laman resminya, Global Sumud Flotilla merupakan inisiasi maritim yang memiliki tujuan untuk menembus blokade Israel di Gaza. Mereka menegaskan bahwa aksi yang dilakukan murni atas dasar kemanusiaan.
Relawan dari seluruh dunia berkumpul bersama-sama untuk berlayar menembus blokade Israel dan menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk masyarakat gaza. Aktivis seperti Greta Thunberg, Ada Colau, Chris Andrews, Mariana Mortagua, dan masih banyak lainnya.
Meskipun aksi yang dilakukan oleh Sumud Flotilla sangat masif, mereka menghadapi tantangan besar dalam mencapai tujuannya. Tantangan tersebut datang dari berbagai faktor seperti tekanan politik internasional, kondisi cuaca dan iklim yang menyulitkan pelayaran kapal, dan ancaman langsung dari Israel yang menghalangi kapal-kapal untuk masuk ke wilayah Gaza.
Bahkan beberapa kapal mendapatkan serangan drone dari Israel dan beberapa tokoh ditawan oleh tentara Israel. Tantangan yang dihadapi oleh kapal-kapal Sumud Flotilla menghambat tujuan mereka untuk dapat mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza. Namun hal tersebut tidak menghentikan semangat mereka untuk terus berlayar demi misi kemanusiaan.
Di tengah kesulitan yang dihadapi oleh kapal-kapal Sumud Flotilla, ada peristiwa menarik yang terjadi di Laut Mediterania. Kapal-kapal Sumud Flotilla mendapatkan bantuan langsung dari Spanyol dan Italia berupa pengawalan dengan kapal militer.
Fenomena tersebut menimbulkan tanda tanya besar, mengapa Spanyol dan Italia sampai repot-repot mengirimkan bantuan militer ke NGO (Non-Governmental Organization) seperti Global Sumud Flotilla?
Keterlibatan Spanyol dan Italia di Laut Mediterania
Keterlibatan Spanyol dan Italia dalam isu di Laut Mediterania bukanlah hal yang baru. Secara geografis mereka memang berbatasan langsung dengan Laut Mediterania sehingga isu geopolitik menjadi makanan sehari-hari. Beberapa isu seperti krisis migran, perdagangan maritim, hingga konflik-konflik di Timur Tengah sudah sering dihadapi baik Spanyol maupun Italia.
Pada pertengahan tahun 2025, perhatian dunia tertuju pada kedua negara tersebut lantaran keterlibatan Spanyol maupun Italia dalam aksi Global Sumud Flotilla. Sebelumnya, mereka menghadapi tekanan domestik maupun internasional yang terjadi secara bersamaan.
Masyarakat dari kedua negara tersebut mendesak pemerintah untuk segera mendukung secara penuh Palestina yang ditindas oleh Israel. Tekanan tersebut mendesak pemerintah untuk menjawab tuntutan dan aspirasi masyarakatnya. Hal ini diperkuat dengan kenyataan bahwa aktivis yang terlibat langsung dalam pelayaran kapal-kapal Sumud Flotilla sebagian merupakan warga negara Spanyol dan italia.
Pemerintah Spanyol maupun Italia memiliki kewajiban untuk melindungi warga negara yang terlibat dalam aksi tersebut, terkhusus setelah fenomena yang menimpa kapal-kapal Sumud Flotilla dimana mereka mendapatkan serangan drone dari Israel saat memasuki wilayah perairan Yunani.
Dilansir dari laman Reuters, Pedro Sánchez selaku Perdana Menteri Spanyol menegaskan agar hak warga negara Spanyol untuk melintasi Laut Mediterania dihormati sebagaimana sesuai dengan hukum internasional. Ia juga menambahkan bahwa pihak Spanyol akan mengirimkan kapal angkatan laut dari Cartagena untuk melaksanakan operasi penyelamatan.
Namun tindakan yang dilakukan oleh Spanyol dan Italia lebih dari hanya sekedar perlindungan warga negaranya. Ada makna tersembunyi yang ingin disampaikan oleh mereka untuk menunjukkan legitimasi politiknya.
Mengapa Spanyol dan Italia Memutuskan untuk Membantu Global Sumud Flotilla?
Pemerintah Spanyol dan Italia tidak hanya mendukung aksi kapal-kapal Sumud Flotilla hanya karena masalah perlindungan warga negara saja. Terdapat aspek-aspek seperti pembentukan identitas, pemaknaan serta representasi yang terlibat dalam keputusan Spanyol dan Italia membantu kapal-kapal kemanusiaan tersebut.
Dalam ilmu hubungan internasional, tindakan dan perilaku yang dilakukan oleh Spanyol maupun Italia tidak dapat dijelaskan melalui paradigma klasik seperti realisme.
Realisme merupakan paradigma klasik dalam disiplin ilmu hubungan internasional yang fokus analisisnya mengedepankan unsur material layaknya paradigma klasik lainnya. Dalam paradigma realisme, negara hanya akan bertindak apabila terdapat kepentingan material yang jelas dimana kepentingan tersebut meliputi kepentingan politik, ekonomi dan militer.
Apa yang dilakukan oleh Spanyol dan Italia sebenarnya tidak menguntungkan secara material. Mereka repot-repot mengirimkan armada militer untuk mengawal dan melindungi kapal-kapal kemanusiaan yang akan menghabiskan sebagian anggaran karena operasional kapal perang.
Tentunya untuk memahami ini dibutuhkan pendekatan dan analisis lain, yaitu pendekatan budaya atau cultural turns dimana tindakan negara tidak hanya dilihat berdasarkan aspek material saja. Pendekatan yang dipakai untuk memahami tindakan Spanyol dan Italia dapat dianalisis melalui konstruktivisme yang digagas oleh Alexander Wendt.
Alexander Wendt adalah seorang ilmuwan politik asal Jerman sebagai salah satu pemikir konstruktivisme di bidang hubungan internasional. Karyanya yang berjudul "Social Theory of International Politics" menjelaskan bagaimana dunia internasional itu bukan terjadi secara alami melainkan dibentuk oleh interaksi sosial antarnegara.
Gagasan tersebut akan menjawab pertanyaan bagaimana hubungan antarnegara terbentuk bukan hanya oleh kekuatan material seperti militer dan ekonomi saja, tetapi juga oleh ide, identitas, dan makna sosial.
Wendt menjelaskan konsep seperti identitas dan pemaknaan. Identitas berkaitan dengan bagaimana negara memahami siapa dirinya dan siapa "yang lain" (identitas dibentuk oleh proses self vs other). Kepentingan negara lahir dari identitas yang mereka bentuk sendiri.
Baik Spanyol maupun Italia memiliki identitas masing-masing. Italia dengan sejarah Roma yang panjang memaknai dirinya sebagai representasi nilai kemanusiaan di Eropa. Italia aktif membantu isu-isu kemanusiaan seperti pengungsi dan partisipasi dalam misi penjaga perdamaian internasional. Kebijakan tersebut akan membangun citra dunia yang positif ke Italia.
Hal ini juga terjadi ke Spanyol. Ia memaknai dirinya sebagai bangsa yang mengedepankan keadilan dan progresif. Meskipun Spanyol memiliki sejarah sebagai pelaku kolonialisme yang kejam, melalui Pedro Sánchez Spanyol aktif membangun citra sebagai bangsa yang berpihak pada pada keadilan dan menentang penindasan.
Wendt juga menjelaskan mengenai pemaknaan (meaning-making) dimana tindakan negara hanya bermakna karena konteks sosial dan makna simbolik di baliknya. Maksudnya adalah apa yang dilakukan negara pasti memiliki makna di dalamnya meksipun kebijakan yang dilakukan tidak rasional.
Fenomena ini dapat dilihat pada apa yang dilakukan oleh Spanyol maupun Italia. Italia mengirimkan kapal perang jenis fregat untuk mengawal kapal flotilla dan begitu pula dengan Spanyol. Tindakan mereka memiliki makna bahwa Spanyol dan Italia berdiri di sisi kemanusiaan.
Pengiriman kapal perang untuk kapal flotilla juga memaknai simbol yang ingin disampaikan oleh Spanyol maupun Italia. Kapal perang tidak hanya menjadi alat militer saja, tetapi juga simbol politik dan kultural yang sarat makna. Kehadiran kapal perang di tengah aksi kemanusiaan menunjukkan legitimasi dan komitmen Italia dan Spanyol untuk mendukung aksi kemanusiaan.
Kapal perang menjadi simbol negara dan kekuasaan. Italia dan Spanyol ingin menegaskan bahwa mereka tidak takut dengan tekanan internasional dan komitmen untuk menegakkan keadilan tidak dapat dihentikan.
Hal ini sejalan dengan pandangan tokoh seperti Pierre Bourdieu dan Michel Foucault yang sama-sama menekankan bahwa kekuasaan tidak selalu bekerja melalui kekuatan material, melainkan melalui kuasa simbolik dan wacana. Apa yang dilakukan oleh Italia dan Spanyol tidak lain dan tidak bukan adalah bentuk pemaknaan, identitas dan simbol yang ingin disampaikan ke dunia bahwa mereka berdiri untuk kemanusiaan.
Makna di Balik Aksi Kemanusiaan
Di balik tindakan kemanusiaan yang dilakukan oleh Spanyol dan Italia melalui pengawalan kapal-kapal Sumud Flotilla, tersimpan makna yang lebih dari perlindungan terhadap warga negara. Meskipun apa yang dilakukan oleh mereka terkesan tidak rasional secara material, tetapi kenyataanya tetap dilakukan.
Melalui pendekatan budaya atau cultural turns terdapat pemaknaan identitas dan simbolik untuk Spanyol maupun Italia yang berdiri untuk kemanusiaan.
Hal ini menunjukkan bahwa dinamika internasional sangat kompleks. Puluhan kapal-kapal yang membawa persediaan bantuan kemanusiaan untuk Gaza berlayar bersama-sama di Laut Mediterania. Mereka mendapatkan berbagai macam tantangan selama perjalanannya.
Namun secara mengejutkan ada aktor besar seperti Spanyol dan Italia yang terlibat secara langsung untuk mendukung kapal-kapal Sumud Flotilla. Hubungan negara Spanyol dan Italia dengan Global Sumud Flotilla menyimpan makna yang kental bahwa aksi solidaritas itu lintas batas teritori, bangsa dan keyakinan. Semuanya menuju satu tujuan bersama, membawa pesan-pesan kemanusiaan di tengah konflik yang terjadi.
Referensi
Al Jazeera. (2025). European activists launch 'Sumud Flotilla' to break Gaza blockade.
Bourdieu, P. (1991). Language and symbolic power. Harvard University Press.
Foucault, M. (1980). Power/knowledge: Selected interviews and other writings, 1972–1977. Pantheon Books.
Foucault, M. (1982). The subject and power. Critical Inquiry, 8(4), 777–795.
Global Sumud Flotilla. (2025). About us. https://www.sumudflotilla.org
Global Sumud Flotilla. (2025). Press releases and mission briefings. https://www.sumudflotilla.org/news
Hall, S. (1997). Representation: Cultural representations and signifying practices. Sage Publications.
Italian Ministry of Defence. (2025). Italian naval operations in the Mediterranean.
Lapid, Y., & Kratochwil, F. (Eds.). (1996). The return of culture and identity in IR theory. Lynne Rienner.
Mercer, J. (1995). Anarchy and identity. International Organization, 49(2), 229–252.
Ministry of Foreign Affairs of Spain. (2024). Spain’s humanitarian stance on Gaza.
Reuters. (2025). Spain and Italy deploy naval ships to support humanitarian flotilla.
The Guardian. (2025). Mediterranean missions challenge Gaza blockade as flotilla sets sail.
Wendt, A. (1992). Anarchy is what states make of it: The social construction of power politics. International Organization, 46(2), 391–425.
Wendt, A. (1999). Social theory of international politics. Cambridge University Press.
