Konten dari Pengguna

Mengapa Dunia Sulit Bebas dari Perang?

Hanif Zaimar Rahman

Hanif Zaimar Rahman

Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana

·waktu baca 4 menit

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hanif Zaimar Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dampak perang (Gambar dari Wikilmages/Pixabay)  https://pixabay.com/photos/cologne-bombing-destruction-war-63176/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dampak perang (Gambar dari Wikilmages/Pixabay) https://pixabay.com/photos/cologne-bombing-destruction-war-63176/

Perang memberikan kehancuran yang besar seperti korban jiwa, kerusakan infrastruktur hingga kehancuran ekonomi. Tetapi hingga sekarang perang terus terjadi dan menimbulkan kehancuran.

Lantas mengapa hal tersebut terjadi? Mengapa sulit sekali menciptakan dunia yang damai dari perang? Simak pembahasan berikut melalui perspektif studi hubungan internasional.

Perang tidak pernah terlepas dari sejarah umat manusia. Kita dapat melihat bagaimana perang-perang besar sudah terjadi sejak zaman sebelum masehi. Perang besar seperti Perang Peloponnesos, Perang Salib, Perang 300 Tahun, Perang Dunia, hingga yang terbaru adalah Perang Rusia-Ukraina dan Perang Israel-Palestina. Dari sini muncul sebuah pertanyaan, mengapa perang selalu terjadi dalam sejarah manusia terlepas dari dampak kehancurannya?

Perang dalam Kajian Realisme

Penjelasan mengapa perang selalu terjadi dapat dipahami melalui perspektif realisme. Realisme merupakan teori klasik dalam hubungan internasional yang menekankan power sebagai pusat perilaku negara-bangsa.

Pandangan ini menjelaskan bahwa dunia ini bersifat anarki, artinya tidak ada otoritas yang lebih tinggi dari negara. Hal ini membuat negara dapat bertindak tanpa batasan sesuai dengan keinginannya. Negara di sini sebagai aktor utama yang memiliki tujuan untuk bertahan hidup.

Negara terpaksa berjuang untuk bertahan hidup dengan meningkatkan kekuatan dirinya karena sistem internasional tersebut dengan meningkatkan persenjataanya, militernya, hingga membuat aliansi.

Perang bukan dipandang sebagai sesuatu yang irasional, melainkan alat politik untuk mempertahankan kepentingan dan keamanan nasional.

Fenomena tersebut menjadi perspektif kritis bahwa perang tidak dapat dijelaskan secara sederhana. Ada faktor-faktor lain yang membuat perang menjadi sangat kompleks.

Memahami Kompleksitas Perang

Seperti yang dijelaskan oleh realisme, negara harus bertahan hidup di tengah dunia yang anarki ini. Maka salah satu langkahnya adalah meningkatkan kapasitas militernya. Tetapi tindakan tersebut akan menimbulkan efek berantai.

Ketika negara-negara di dunia ini saling meningkatkan kekuatan militernya, maka muncul sebuah fenomena bernama security dilemma. Security dilemma adalah kondisi dimana negara merasa terancam jika negara lain meningkatkan kekuatan militernya.

Analogi sederhananya, jika negara A membeli senjata nuklir, maka negara B akan merasa terancam karena sewaktu-waktu negara A dapat menyerang negara B. Hal tersebut pada akhirnya akan membawa negara-negara pada arms race.

Arms race berarti perlombaan senjata secara terbuka yang terjadi antarnegara-negara dunia. Arms race ini sangat berbahaya sebab berpotensi untuk menciptakan perang besar. Kondisi ini pernah terjadi saat Perang Dunia 1 dan 2 dimana negara-negara di Eropa saling berlomba-lomba untuk membuat dan memproduksi senjata perang mutakhir.

Akibat dari security dilemma dan arms race ini, dunia ini berada dalam kondisi yang rentan terhadap konflik. Negara-negara tidak selalu berperang karena mereka ingin menyerang, tetapi karena mereka takut diserang terlebih dahulu.

Dalam logika negara, mengantisipasi ancaman lebih penting daripada menunggu bahaya datang. Karena itu, memperkuat kekuatan militer sering dianggap sebagai langkah yang rasional. Di sini konflik dapat muncul bukan karena niat menyerang, tetapi karena kecurigaan dan kekhawatiran.

Namun keamanan bukan menjadi satu-satunya alasan mengapa perang bisa terjadi. Kepentingan geopolitik dan ekonomi menjadi faktor perang terjadi.

Dalam hubungan internasional, geopolitik merujuk pada bagaimana lokasi geografis seperti teritori, jalur laut, dan sumber daya memengaruhi kekuatan suatu negara di panggung global. Jika negara menguasai posisi-posisi strategis tersebut, maka tentunya negara akan diunggulkan dalam hal pengaruh dan kekuatan.

Fenomena Rusia yang menganeksasi Krimea merupakan contoh geopolitik dimana Krimea merupakan wilayah strategis bagi Rusia untuk terhubung secara langsung dengan Laut Hitam. Krimea juga dahulu memiliki pelabuhan terbesar di Sevastopol yang menjadi basis militer angkatan laut Uni Soviet. Dengan terhubungnya akses Laut Hitam membuat Rusia memiliki pengaruh dan kontrol lebih di kawasan tersebut.

Di sisi lain, faktor ekonomi juga menjadi pendorong penting dari terjadinya perang. Konflik tidak jarang berkaitan dengan perebutan sumber daya alam seperti minyak, gas, mineral langka, atau jalur distribusi energi.

Sumber daya ini sangat penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi sebuah negara sehingga akses terhadapnya menjadi prioritas nasional. Banyak konflik besar melibatkan wilayah yang kaya minyak atau tambang mineral seperti di Afrika dan Timur Tengah.

Pada akhirnya, perang memang menjadi isu yang sangat kompleks. Perang tidak hanya dapat dilihat dari satu kacamata saja. Selama struktur sistem internasional masih bertumpu pada kompetisi kekuatan, maka perang akan selalu menjadi kemungkinan yang nyata.

Referensi

BBC News. (2022, February 24). Ukraine conflict: Putin declares war and demands Kyiv’s surrender. BBC. https://www.bbc.com/news/world-europe-60504334

Carr, E. H. (1939). The Twenty Years’ Crisis: 1919–1939. Macmillan.

Jackson, R., & Sørensen, G. (2016). Introduction to International Relations: Theories and Approaches (6th ed.). Oxford University Press.

Klare, M. T. (2001). Resource Wars: The New Landscape of Global Conflict. Metropolitan Books.

Mearsheimer, J. J. (2001). The Tragedy of Great Power Politics. W. W. Norton & Company.

The Guardian. (2022, March 3). Russia seeks strategic corridor to Crimea amid invasion. The Guardian. https://www.theguardian.com/world/2022/mar/03/russia-seeks-land-corridor-crimea

Williams, P. D. (Ed.). (2018). Security Studies: An Introduction (3rd ed.). Routledge.