Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.99.0
Konten dari Pengguna
Lebaran Bak 2 Sisi: Terang dan Gelap
27 Februari 2025 9:14 WIB
·
waktu baca 4 menitTulisan dari Anggun Mutiara Ratnasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Lebaran selalu menjadi momentum yang dinantikan oleh seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang mengandalkan lonjakan permintaan saat musim tersebut. Dalam musim tersebut, ekonomi digital hadir seperti angin segar sebagai jawaban bagi mereka untuk mengoptimalkan keuntungan di masa-masa sibuk ini. Namun, di balik manfaatnya yang melimpah, terdapat sisi gelap yang mengancam eksistensi para pedagang tradisional yang belum sepenuhnya beradaptasi dengan teknologi.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), sektor e-commerce di Indonesia menunjukkan perkembangan yang sangat pesat pada tahun 2023. Jumlah usaha e-commerce diperkirakan mencapai 3.816.750 usaha, mengalami kenaikan signifikan sebesar 27,40% dibandingkan dengan tahun 2022. Hal ini menandakan bahwa perkembangan ekonomi di sektor digital semakin menjadi pilar utama dalam perekonomian Indonesia.
Tidak hanya mencatatkan angka yang impresif dalam jumlah usaha, sektor e-commerce juga terbukti mampu menyerap banyak tenaga kerja. Pada tahun 2023, e-commerce telah menyerap tenaga kerja sebanyak 12,4 juta orang, atau sekitar 8,57% dari total penduduk yang bekerja di Indonesia. Angka ini semakin menegaskan peran vital sektor ini dalam menyediakan lapangan pekerjaan di era digital.
Lebih mengejutkan lagi, nilai transaksi jual beli melalui e-commerce Indonesia pada tahun 2023 tercatat mencapai 1.100,87 triliun rupiah. Angka ini jauh melampaui prediksi awal yang diajukan oleh Kementerian Perdagangan, yang memperkirakan transaksi online akan mencapai sekitar Rp533 triliun pada tahun ini. Dengan nilai transaksi yang lebih dari dua kali lipat dari perkiraan tersebut, sektor e-commerce Indonesia membuktikan diri sebagai kekuatan ekonomi digital yang luar biasa.
ADVERTISEMENT
Lonjakan tajam ini tidak hanya mencerminkan adopsi teknologi yang semakin meluas di kalangan masyarakat, tetapi juga mencerminkan perubahan pola konsumsi masyarakat Indonesia yang semakin mengarah ke platform digital. Peningkatan akses internet, semakin berkembangnya platform e-commerce, serta kebiasaan belanja online yang semakin diterima oleh masyarakat menjadi beberapa faktor utama yang mendorong pertumbuhan sektor ini.
Perkembangan ekonomi digital ini juga memberikan peluang emas bagi UMKM untuk berkembang pesat. Platform e-commerce, media sosial, dan aplikasi pembayaran digital memungkinkan mereka untuk memperluas pasar, bahkan menembus batasan geografis. Kemudahan dalam bertransaksi menjadi salah satu faktor utama dalam perkembangan jual beli online terutama menjelang hari-hari besar. Menjelang Lebaran, ketika perputaran ekonomi melesat, UMKM yang memanfaatkan ekonomi digital dapat meningkatkan volume penjualan, memanfaatkan promo, dan bahkan menjalin hubungan langsung dengan konsumen yang lebih luas sehingga mendapatkan keuntungan yang sangat besar pada musim ini.
ADVERTISEMENT
Namun, meskipun UMKM yang memanfaatkan ekonomi digital dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar, banyak pedagang tradisional yang masih berjuang di pasar offline merasa terancam. Para pedagang ini umumnya tidak memiliki akses atau keterampilan untuk memanfaatkan platform digital, dan dengan semakin berkembangnya e-commerce, mereka ketinggalan dalam persaingan. Harga yang lebih kompetitif dan kenyamanan berbelanja online menjadi daya tarik utama konsumen, yang semakin mengurangi daya beli di pasar tradisional.
Padahal jumlah pelaku usaha tradisional yang ada di Indonesia ada di angka 58,49% dan pelaku usaha online baru mencapai angka 41,51%. Namun, berita akhir-akhir ini menunjukkan fakta yang sebaliknya, seperti banyaknya toko pedagang offline yang tutup karena tidak mampu bersaing di era digitalisasi ekonomi ini.
ADVERTISEMENT
Dari masalah-masalah yang ada, penting bagi pemerintah untuk memberikan perhatian lebih terhadap pelaku usaha offline agar mereka bisa terus bertahan dan berkembang di tengah transformasi digital yang pesat terutama dalam memanfaatkan momentum Lebaran ini. Hal tersebut karena di masa biasa mereka sudah tergerus lalu bagaimana bisa mereka menikmati momen perputaran ekonomi tercepat dalam setahun ini jika terus kondisi pedagang offline masih terus stuck?
Dukungan pemerintah bisa berupa dukungan dalam bentuk pelatihan digital, insentif bagi usaha kecil menengah (UKM), serta kebijakan yang mendorong inklusi ekonomi bagi semua jenis pelaku usaha, baik yang berbasis online maupun offline.
Tanpa adanya keseimbangan yang tepat antara kedua sektor ini, kesenjangan sosial-ekonomi di masyarakat bisa semakin tajam. Sinergi antara ekonomi digital dan tradisional harus terus diperkuat agar perekonomian Indonesia dapat tumbuh secara inklusif dan berkelanjutan. Maka dari itu, perlu ada kebijakan pemerintah sebagai regulator untuk menjaga keseimbangan perekonomian dan sinergi antara sektor swasta dengan masyarakat dalam menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif dan berkeadilan. Jangan sampai kecepatan perubahan zaman justru membuat mereka semakin tertinggal dan terlupakan.
ADVERTISEMENT