Konten dari Pengguna

Warisan Etos Kweekschool dan Lahirnya Guru Penggerak Masa Kini

Aliyah Mas'udah Rahma Wulandari
Mahasiswi Universitas Jember
6 Desember 2025 9:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Warisan Etos Kweekschool dan Lahirnya Guru Penggerak Masa Kini
Ternyata etos guru Indonesia sudah tumbuh sejak masa Kweekschool. Bagaimana warisan itu hidup lagi dalam Program Guru Penggerak masa kini? #userstory
Aliyah Mas'udah Rahma Wulandari
Tulisan dari Aliyah Mas'udah Rahma Wulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi guru perempuan. Foto: wavebreakmedia/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi guru perempuan. Foto: wavebreakmedia/Shutterstock
ADVERTISEMENT
Setiap kali seseorang kembali mengenang masa sekolah, biasanya ada satu sosok yang paling membekas dalam ingatan, yaitu guru. Kita mungkin tak lagi mengingat rumus-rumus yang dulu sulit dipahami, tetapi kita selalu ingat bagaimana suara mereka mampu menenangkan, atau senyum mereka yang muncul ketika kita akhirnya mengerti sesuatu. Ada pula momen ketika mereka melihat potensi dalam diri kita, bahkan sebelum kita menyadarinya.
ADVERTISEMENT
Guru sering menjadi cahaya kecil yang membantu menuntun arah hidup. Menariknya, perjalanan panjang tentang bagaimana “cahaya” itu terbentuk ternyata sudah dimulai jauh sebelum Indonesia berdiri. Akar sejarahnya dapat ditemukan pada masa kolonial, ketika Belanda membangun sekolah guru bernama Kweekschool.
Pada masa itu, pemerintah kolonial mengalami kekurangan tenaga pengajar untuk sekolah-sekolah bumiputera. Jumlah guru Eropa tidak memadai dan biaya untuk mendatangkan mereka sangat tinggi. Jadi, solusi praktisnya adalah mereka akhirnya mendirikan sekolah-sekolah pelatihan guru bagi pribumi yang tersebar di berbagai daerah, seperti Surakarta, Yogyakarta, Bukittinggi, Probolinggo, Ambon, Tondano hingga Makassar.
Sekolah-sekolah ini kemudian dikenal sebagai Kweekschool, yang menjadi awal mula lahirnya pendidik Nusantara.
Walaupun niat awal Kweekschool bukan untuk memberdayakan pribumi, melainkan demi kepentingan kolonial, lembaga ini justru menjadi ruang penting bagi masyarakat pribumi untuk mendapatkan pendidikan formal.
Ilustrasi kursi dan menja sekolah. Foto: Shutterstock
Pada masa itu, sekolah seperti Kweekschool adalah pintu kecil yang membawa angin pengetahuan ke masyarakat yang masih menghadapi banyak keterbatasan. Para siswa yang berhasil masuk biasanya memiliki kemampuan dasar yang lebih baik dari kebanyakan rakyat dan kesempatan belajar ini kemudian mengubah jalan hidup mereka.
ADVERTISEMENT
Kweekschool tidak hanya mengajarkan keterampilan akademik. Sekolah ini menekankan kedisiplinan, kerapian, dan tanggung jawab. Para calon guru belajar berbicara dengan jelas, mengatur kelas, menulis dengan rapi, hingga menyusun materi pelajaran. Mereka dilatih untuk hidup teratur dan menghargai kerja keras. Nilai-nilai seperti integritas dan ketekunan menjadi bagian yang melekat pada diri setiap lulusan.
Tidak heran jika lulusan Kweekschool kemudian dihormati sebagai tokoh penting di masyarakat.
Bayangkan seorang lulusan Kweekschool yang baru ditempatkan di sebuah desa terpencil. Ia mungkin berjalan jauh melewati ladang, sungai, atau jalan setapak hanya untuk mengajar anak-anak yang bahkan belum mengenal huruf. Ruang kelasnya sederhana, dindingnya mungkin hanya bambu, tetapi ia tetap mengajar dengan penuh dedikasi. Bagi mereka, mengajar bukan sekadar kewajiban, melainkan sebuah panggilan. Mereka percaya bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari ketertinggalan.
ADVERTISEMENT
Peran para lulusan Kweekschool tidak berhenti di kelas. Banyak dari mereka yang akhirnya menjadi pelopor berbagai gerakan sosial. Ada yang mendirikan sekolah rakyat, ada yang menulis gagasan kemajuan, ada pula yang terjun ke dunia budaya. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang ikut membangkitkan semangat nasionalisme. Pendidikan telah membuka mata mereka terhadap ketidakadilan dan memicu keberanian untuk mengubah keadaan.
Foto udara kawasan Jam Gadang yang ramai pengunjung di Bukittinggi, Sumatera Barat. Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bagaimana lulusan Kweekschool di Fort de Kock (Bukittinggi) memainkan peran penting dalam perkembangan masyarakat Minangkabau. Lingkungan sekolah yang ketat dan disiplin justru menumbuhkan karakter pemimpin dalam diri para siswanya.
Meski demikian, kita perlu memahami bahwa pendidikan kolonial penuh batasan. Sistemnya dirancang agar rakyat pribumi tidak terlalu kritis. Kurikulum sengaja dikendalikan agar tidak memunculkan sikap melawan. Namun, meski dibentuk dalam kerangka penjajahan, guru-guru Kweekschool tetap menjalankan tugasnya dengan hati. Mereka melihat pendidikan sebagai jalan untuk memperbaiki nasib masyarakat.
ADVERTISEMENT
Yang menarik adalah ketika kita melihat kondisi pendidikan Indonesia hari ini, terutama Program Guru Penggerak, kita bisa menemukan garis panjang yang menghubungkan masa lalu dan masa kini. Guru Penggerak merupakan program Kementerian Pendidikan yang bertujuan mencetak guru-guru yang berpihak pada murid, kreatif, kolaboratif, dan mampu menjadi agen perubahan.
Jika diperhatikan, nilai-nilai ini sebenarnya tidak jauh berbeda dari etos pendidik yang dulu dibangun di Kweekschool, meskipun konteksnya jauh berbeda.
Ilustrasi guru. Foto: Thinkstock
Guru Kweekschool dibentuk untuk menjadi teladan dan ikut membangun lingkungan sosial. Guru Penggerak pun diarahkan untuk menjadi pemimpin pembelajaran, bukan hanya penyampai materi. Mereka didorong untuk membaca kebutuhan murid, berkolaborasi dengan rekan guru, menjalin hubungan dengan masyarakat, dan meninggalkan cara mengajar yang monoton.
ADVERTISEMENT
Keduanya sama-sama menempatkan guru sebagai tokoh sentral perubahan.
Perbedaannya ada pada arah dan tujuannya. Kweekschool dibentuk dalam struktur kolonial yang kaku. Guru harus mendukung sistem yang ada dan dibatasi dalam cara berpikir. Sementara Guru Penggerak hadir dalam semangat memerdekakan murid dan mendorong kreativitas. Meski demikian, fondasi karakter yang ditanamkan tetap sama: guru harus memiliki integritas, komitmen, dan kepekaan sosial.
Jika kita melihat kembali tulisan Tatkala yang membahas sejarah guru di masa kolonial, disebutkan bahwa guru bukan hanya profesi, melainkan juga pembawa peradaban. Hal ini selaras dengan nilai yang ingin ditanamkan Guru Penggerak. Program ini ingin memastikan bahwa guru memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar pengajar. Guru harus mampu membentuk karakter, membuka wawasan, dan memimpin perubahan di komunitasnya.
ADVERTISEMENT
Di sinilah terlihat jelas hubungan antara Kweekschool dan Guru Penggerak. Kweekschool membentuk dasar mengenai siapa itu guru. Guru Penggerak kemudian memperbarui konsep itu agar relevan dengan abad ke-21. Dari kelas bambu hingga pembelajaran digital, keduanya sama-sama menempatkan guru sebagai figur utama yang memegang masa depan bangsa.
Ilustrasi gedung sekolah. Foto: Shutter Stock
Warisan etos Kweekschool—disiplin, tanggung jawab, keteladanan, kecintaan pada ilmu masih terasa hingga sekarang. Pergeseran zaman tidak menghapus nilai-nilai itu. Bahkan, nilai-nilai tersebut menjadi pondasi penting bagi Guru Penggerak. Guru masa kini mungkin menghadapi tantangan yang sangat berbeda, mulai dari teknologi hingga akses informasi, tetapi inti perannya tetap sama: menjadi cahaya bagi murid-muridnya.
Perjalanan pendidikan Indonesia membuktikan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum atau fasilitas. Perubahan besar sering kali berawal dari seseorang yang mengajar dengan hati. Guru-guru Kweekschool sudah membuktikannya sejak ratusan tahun lalu. Guru Penggerak kini melanjutkannya dalam bentuk yang lebih modern.
ADVERTISEMENT
Jika kita ingin tahu apa yang membuat kualitas pendidik dari dulu hingga sekarang tetap terhubung, semuanya kembali pada etos. Nilai itu yang membuat sosok guru tetap penting meskipun zaman berubah. Etos yang muncul dari Kweekschool kini muncul lagi melalui Program Guru Penggerak. Selama nilai ini dijaga, pendidikan di Indonesia akan selalu punya peluang untuk berkembang ke arah yang lebih baik.
Guru tetap menjadi penerang perjalanan bangsa. Dan selama masih ada guru yang mau menyalakan cahaya itu, Indonesia tidak akan pernah berjalan dalam kegelapan.