Rupiah di Rp17.900: Kenapa Keputusan The Fed Terasa Sampai ke Dompet Kita?

Mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi di Universitas Negeri Jakarta, Menulis seputar moneter, perbankan, dan pasar keuangan.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Achmad Firdous Athfal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak, kamu mau beli laptop atau tiket liburan ke luar negeri, lalu kaget karena harganya tiba-tiba naik? Padahal tokonya sama, maskapainya sama, dan kamu nggak merasa ada yang berubah. Aku pernah merasakannya. Setelah ikut menelusuri berita keuangan belakangan ini, aku jadi tahu penyebabnya bisa jadi bukan di toko atau di maskapai, melainkan di sebuah ruang rapat di Washington, ribuan kilometer dari Jakarta.
Rupiah masih bergerak di sekitar Rp17.900
Coba lihat grafik kurs di atas. Dalam sebulan terakhir, rupiah bergerak dari sekitar Rp17.400 ke kisaran Rp17.900 per dolar AS. Kelihatannya cuma selisih beberapa ratus rupiah, tapi coba bayangkan kamu membeli barang seharga US$1.000. Di kurs Rp17.400 harganya setara Rp17,4 juta, sedangkan di Rp17.900 jadi Rp17,9 juta. Selisih Rp500 ribu itu hanya karena kurs, padahal barangnya sama persis. (Ini hitungan ilustrasi, ya, bukan harga barang tertentu.)
Nah, minggu lalu kabarnya sedikit membaik. Pada Jumat, 2 Oktober 2026, rupiah ditutup menguat 84 poin atau 0,47 persen ke Rp17.882 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya berada di Rp17.966. Lumayan lega. Tapi napas lega itu pendek. Memasuki Senin (5/10), rupiah dibuka melemah lagi di Rp17.903.
Kenapa sempat menguat? Ternyata pemicunya jelas. Pasar tiba-tiba mengurangi taruhan bahwa The Fed, bank sentral Amerika Serikat, akan menaikkan suku bunga bulan Oktober. Peluangnya anjlok dari sekitar 69 persen pada pekan sebelumnya menjadi sekitar 26 persen saja. Pasar yang tadinya tegang jadi sedikit rileks, dan rupiah ikut terbantu.
Mengapa suku bunga Amerika bisa menggoyang rupiah?
Aku jelaskan pakai logika sehari-hari saja. Bayangkan ada dua bank. Bank A menawarkan bunga tabungan kecil, Bank B menawarkan bunga lebih tinggi. Kamu pasti tergoda memindahkan uangmu ke Bank B, kan?
Investor global berpikir persis begitu. Kalau suku bunga di Amerika naik, menyimpan uang dalam dolar jadi lebih menguntungkan. Dana yang tadinya parkir di negara berkembang seperti Indonesia pun cenderung ditarik dan dipindahkan ke aset berdenominasi dolar. Permintaan dolar naik, rupiah ditinggalkan, dan nilainya melemah.
Dampaknya baru terasa di kehidupan sehari-hari. Barang impor jadi lebih mahal, begitu juga bahan baku industri dan segala kebutuhan yang dibeli dengan dolar. Pelaku usaha yang punya utang dalam valas pun menanggung beban yang makin berat. Jadi, ini bukan sekadar urusan para trader di layar monitor.
Kenapa sinyal dari pejabat The Fed begitu ditunggu?
Yang menarik, pasar keuangan ini sensitif sekali. Hampir setiap ucapan pejabat The Fed langsung direspons. Menjelang rapat FOMC pada 27-28 Oktober 2026, Presiden The Fed New York John Williams dan Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson sama-sama bilang bahwa tidak ada urgensi untuk buru-buru menaikkan suku bunga.
Hanya dengan sinyal "santai dulu" itu, ekspektasi kenaikan bunga bulan Oktober langsung turun drastis. Bayangkan, beberapa kalimat dari dua pejabat bisa menggerakkan angka puluhan persen di pasar.
Tapi jangan buru-buru tenang. Ancamannya belum hilang. Kenaikan masih mungkin terjadi, hanya saja kemungkinan besar bukan di Oktober, melainkan di Desember. Pasar juga masih menunggu laporan ketenagakerjaan AS dan data ekonomi lainnya sebagai pegangan.
Faktor lain: minyak dan konflik Timur Tengah
Sayangnya, tekanan pada rupiah bukan cuma dari The Fed. Harga minyak Brent sempat berada di sekitar US$103,5 per barel pada awal Oktober, dan konflik di Timur Tengah yang belum jelas arahnya membuat ruang rupiah untuk menguat makin sempit.
Buat Indonesia yang masih butuh impor energi, ini seperti kena dua pukulan sekaligus: dolar yang kuat, ditambah minyak yang mahal. Membelinya mahal, bayarnya pakai dolar yang juga mahal.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan?
Jujur, kita nggak bisa mengatur keputusan The Fed. Tapi ada beberapa hal kecil yang bisa disiapkan:
Tunda dulu belanja barang impor yang tidak mendesak. Kalau bukan kebutuhan, nggak apa-apa menunggu.
Hati-hati dengan kredit berbunga mengambang, karena cicilannya bisa ikut berubah saat suku bunga bergerak.
Jangan panik tiap kali melihat kurs harian naik-turun. Gejolak jangka pendek hampir selalu terjadi, yang lebih penting adalah tren dan kesiapan keuangan kita sendiri.
Pada akhirnya, dunia keuangan itu saling terhubung. Keputusan satu bank sentral di Amerika bisa merambat ke banyak negara, termasuk sampai ke dompet kita di Indonesia. Dan sekarang kamu tahu kenapa harga laptop incaranmu bisa berubah, padahal tokonya tidak ke mana-mana.
Daftar Sumber
Times Indonesia, "Rupiah Kembali Menguat, Pasar Cermati Kebijakan The Fed" (2/10/2026): https://timesindonesia.co.id/ekonomi/611185/rupiah-kembali-menguat-pasar-cermati-kebijakan-the-fed
Media Indonesia, "Rupiah Menguat ke Rp17.882 per Dolar AS Akibat Penurunan Ekspektasi Suku Bunga The Fed" (2/10/2026): https://mediaindonesia.com/ekonomi/939963/rupiah-menguat-ke-rp17882-per-dolar-as-akibat-penurunan-ekspektasi-suku-bunga-the-fed
Bloomberg Technoz, "Rupiah Melemah Tertekan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed" (5/10/2026): https://www.bloombergtechnoz.com/detail-video/2259/rupiah-melemah-tertekan-ekspektasi-kenaikan-suku-bunga-the-fed
Investortrust, "Rupiah Bergerak Melemah di Awal Oktober 2026" (1/10/2026): https://investortrust.id/macro/118004/rupiah-bergerak-melemah-di-awal-oktober-2026
Journalarta, "The Fed Sinyal Tahan Bunga di Oktober" (2/10/2026): https://journalarta.com/news/2026/10/02/the-fed-tahan-suku-bunga-oktober-2026-williams-jefferson-25-persen/
IDN Times, "Sinyal The Fed Naikkan Suku Bunga Makin Kuat, Dolar AS Bekuk Rupiah" (25/9/2026): https://www.idntimes.com/business/economy/sinyal-the-fed-naikkan-suku-bunga-makin-kuat-dolar-as-bekuk-rupiah-00-3m8tp-yg7t7j
