Paradoks Eksistensial: Antara Autentisitas, Algoritma, dan Panggung Sosial

Hai everyone, my name is Chevy Atha, i'm a Psychology fresh graduate with experience in research, program development, and evidence-based interventions.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Chevy Atha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jika sebelumnya saya menulis tentang paradoks kompetensi, kali ini saya ingin mengajak merenungkan sesuatu yang lebih personal dan mendalam: paradoks eksistensial yang timbul dari cara kita menampilkan diri di era media sosial. Di dunia hari ini, media sosial terasa semakin bising dan kejam. Kita melihat begitu banyak orang tampil luar biasa—penuh pencapaian, percaya diri, menginspirasi, dan aktif memamerkan potongan hidup yang telah dikurasi rapi. Tapi jujur saja, saya tahu bahwa sebagian dari mereka sedang ‘faking good’. Bukan karena mereka manipulatif, tapi karena sistem sosial saat ini seolah-olah memaksa kita untuk senantiasa terlihat sukses, stabil, dan mengesankan. Dari sini muncul pertanyaan yang lebih dalam:
Apakah menjadi diri sendiri masih relevan, di dunia yang membuat pencitraan terasa seperti kebutuhan?
Pertanyaan ini membawa saya pada satu kesadaran yang lebih luas—bahwa krisis ini bukan hanya soal personal, tetapi sistemik. Di tengah arus algoritma, kita sering mendengar ajakan dari para pakar atau kreator digital untuk “temukan niche-mu sendiri”. Namun, yang jarang dibicarakan adalah kenyataan bahwa niche itu sering kali bukan kita yang bentuk, melainkan dibentuk oleh apa yang disukai audiens. Identitas personal pun bergeser menjadi identitas performatif—bukan berdasarkan siapa kita, tetapi berdasarkan siapa yang kita rasa perlu kita perankan.
Lama-kelamaan, kita hidup dalam false self society (Winnicott)—budaya “diri palsu” yang direproduksi dan dikapitalisasi, di mana performa lebih penting dari eksistensi. Kita tak lagi hidup untuk mengada, tapi untuk disukai. Maka diri yang sejati pun dikorbankan di altar validasi.
Dari semua platform, barangkali tak ada yang lebih merefleksikan paradoks ini secara telanjang dibanding LinkedIn. Sebuah artikel Mojok bahkan menyebutnya sebagai “media sosial paling toxic”—bukan karena ujaran kebencian atau hoaks, tetapi karena atmosfer pencitraan profesionalnya yang begitu subtil, sistemik, dan kompetitif. Di balik sapaan hangat dan narasi karier yang impresif, sering tersembunyi kebutuhan eksistensial untuk tampak berhasil—melalui deretan gelar, kolaborasi, dan pencapaian yang lebih menyerupai etalase ketimbang cermin realitas.
“LinkedIn hari ini tak ubahnya panggung teater korporat, tempat orang-orang tampil dengan naskah yang sudah disesuaikan dengan ekspektasi audiens profesional, bukan narasi jujur tentang siapa mereka sebenarnya.”— Mojok, 2021
Temuan dari Online Networked Media Studies Conference (2018) turut memperkuat hal ini. Penelitian tersebut menunjukkan bagaimana pengguna LinkedIn kerap kali memanipulasi identitas daringnya demi mendapatkan pekerjaan impian. Di sini, identitas bukan lagi representasi, melainkan strategi. Persona profesional dirancang dengan presisi—dari unggahan, koneksi, hingga narasi personal—semuanya disusun demi membentuk persepsi yang menguntungkan. Tak heran bila antara identitas daring dan luring terbentang jarak; keduanya tak selalu selaras. Ini adalah konstruksi sosial yang sah secara platform, namun secara eksistensial, bisa menciptakan kekosongan.
“LinkedIn users can choose to perform any identity they wish, usually for personal benefit... This leaves opportunity for deception and dishonesty to take place, where individuals can give misleading information about themselves, which is harder to detect in the online world compared to the ‘real world’.”— Online Networked Media Studies Conference, 2018
LinkedIn, dalam hal ini, bukan sekadar ruang profesional, melainkan laboratorium sosial tempat identitas diperlakukan sebagai proyek branding. Di sinilah performativitas menjadi norma. Kita tak hanya diukur dari siapa diri kita sebenarnya, tapi dari bagaimana kita mencitrakan siapa diri kita sebuah tekanan yang, pelan-pelan, mereduksi esensi menjadi impresi.
Lantas, di tengah pusaran pencitraan dan rekayasa impresi ini, pertanyaan yang menggema dalam diri saya—dan barangkali juga dalam diri Anda—adalah: apakah kejujuran, otentisitas, dan keaslian masih punya tempat di dunia yang begitu terobsesi pada performa? Atau justru ketiganya kini dianggap sebagai kelemahan—lubang dalam perisai, celah dalam strategi? Apakah menjadi diri sendiri adalah bentuk perlawanan, atau justru bentuk keluguan yang tak lagi kompatibel dengan sistem? Kalau kita terus-menerus mengikuti logika ini, apa bedanya kita dengan para politisi yang sering kita kritik karena bersikap elitis dan penuh agenda? Bukankah kita juga, sedikit demi sedikit, sedang belajar menjadi mereka—bermuka dua demi kelangsungan eksistensi?
Kita sering mengatakan bahwa kita ingin masuk ke sistem untuk mengubahnya. Tapi sistem, sebagaimana kapitalisme korporat bekerja, tak hanya mengatur alur, ia membentuk cara berpikir, mengatur apa yang dianggap layak tampil dan mana yang harus disembunyikan. Ironisnya, kita sedang dikondisikan untuk mempercayai bahwa menjadi versi terbaik dari diri sendiri harus selalu terlihat hebat, tak bercela, dan penuh validasi. Namun sesungguhnya, seperti yang ditekankan oleh Goffman dalam The Presentation of Self in Everyday Life, identitas bukanlah sesuatu yang dimiliki, melainkan sesuatu yang dipertontonkan—dan dalam sistem ini, pertunjukan telah menjadi kenyataan yang paling dipercaya.
Jika sistem diciptakan oleh proses, maka perubahan pun bermula dari keberanian kecil untuk menyimpang dari skrip yang lama.
Maka tulisan ini bukan sekadar kritik, tetapi juga ajakan—untuk mulai menyadari bahwa sistem tidak abadi. Ia bisa ditandingi, jika ada cukup banyak individu yang berani jujur, membangun otentisitas, dan menjadikan diri mereka pilar bagi arus baru yang lebih manusiawi. Barangkali, inilah saatnya kita berhenti menjadi aktor yang tunduk pada naskah, dan mulai menjadi penulis bagi narasi identitas kita sendiri.
Dalam labirin identitas digital hari ini, kita sebenarnya sedang diuji bukan hanya oleh sistem, tapi oleh diri kita sendiri. Heidegger pernah menyinggung bahwa keberadaan manusia ditandai oleh authentic being—yakni keberadaan yang sadar akan keberadaannya sendiri, bukan sekadar meniru cara ada orang lain. Tapi hari ini, bagaimana mungkin kita bisa menjadi diri sendiri jika algoritma telah lebih dulu membentuk cara kita menjadi? Sartre mengingatkan bahwa manusia dikutuk untuk bebas, dan karena kebebasan itulah, kita bertanggung jawab atas setiap peran yang kita mainkan. Menjadi autentik di tengah gelombang impresi bukanlah perkara mudah—kadang bahkan tampak seperti pilihan yang kalah sejak awal. Tapi justru di situlah letak kehormatannya: bukan pada seberapa tinggi kita tampil, tapi pada seberapa jujur kita hadir. Dalam dunia yang begitu mudah dikurasi, kejujuran menjadi bentuk perlawanan paling radikal.
