Paradoks Kompetensi Lulusan Psikologi: Antara Fleksibilitas Teoritis dan Realita

Hai everyone, my name is Chevy Atha, i'm a Psychology fresh graduate with experience in research, program development, and evidence-based interventions.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Chevy Atha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jika saya menengok kembali ke masa kelas 12, saat itu saya tengah dihadapkan pada kebingungan besar: ingin kuliah di mana? Jurusan apa? Apakah yang terpenting adalah jurusannya, atau reputasi universitasnya? Di tengah dilema tersebut, keputusan akhir yang saya ambil cukup sederhana—saya memilih jurusan psikologi, dengan pertimbangan utamanya adalah akreditasi Unggul. Salah satu alasan utama—yang barangkali juga diyakini oleh banyak orang—adalah karena dogma masyarakat
Psikologi bisa masuk di berbagai bidang
Namun, setelah lebih dari tiga tahun menempuh pendidikan dan menyaksikan realita dunia kerja, saya mulai menyadari bahwa dogma semacam itu tidak bisa diterima mentah-mentah. Kenyataannya, dunia kerja tidak selalu seinklusif atau sefleksibel yang dibayangkan. Sekitar dua tahun lalu, saya pernah melakukan riset kecil-kecilan terkait harapan karier mahasiswa psikologi setelah lulus. Ketika saya bertanya, “Ingin bekerja sebagai apa setelah kuliah?”, sebagian besar dari mereka—hampir bisa ditebak—menjawab:
Saya ingin menjadi HR
Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal, jalur karier lulusan psikologi seolah sudah tersentralisasi pada posisi ini. Namun, ketika saya menelusuri berbagai lowongan kerja, posisi seperti HR, rekruter, atau talent acquisition umumnya mencantumkan persyaratan latar belakang pendidikan dari “manajemen, psikologi, hukum, atau jurusan relevan lainnya.” Artinya, psikologi bukan menjadi keunggulan utama, melainkan hanya salah satu dari sekian banyak opsi yang bisa dipertimbangkan. Lebih jauh lagi, sangat jarang ada posisi kerja yang secara eksplisit mencantumkan “latar belakang psikologi” sebagai nilai tambah yang spesifik. Dan yang lebih mengkhawatirkan,
fenomena ini tak hanya terjadi di psikologi—tetapi juga meluas pada hampir semua jurusan sosial
terkecuali mungkin hukum yang memang memiliki jalur profesi yang lebih pasti dan terstruktur. Setiap tahunnya, Indonesia meluluskan sekitar 1,8 juta sarjana baru berbanding dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia secara riil hanya berkisar antara 300 hingga 400 ribu posisi.
1,85 Juta Sarjana baru : 300 - 400 Rb Lapangan Kerja
Dalam ketimpangan sebesar itu, bukan hal yang mengejutkan jika mayoritas lulusan baru—tak peduli jurusannya apa—akhirnya memiliki orientasi yang sama: “masuk mana saja, yang penting kerja.” Dalam konteks ini, muncul pertanyaan besar yang perlu kita renungkan bersama. Apakah persoalannya terletak pada kurikulum pendidikan menengah dan tinggi yang kurang aplikatif terhadap kebutuhan dunia kerja? Ataukah memang jurusan-jurusan sosial, termasuk psikologi, sejak awal tidak dirancang untuk langsung ‘menghasilkan pekerja,’ melainkan hanya untuk membentuk cara berpikir kritis, tanpa dukungan nyata untuk pengembangan keterampilan terapan?
Lantas, apa yang bisa benar-benar kita harapkan? Temuan dari riset kecil yang saya lakukan sebelumnya sempat saya terjemahkan ke dalam program kerja berskala nasional yang saya pimpin tahun lalu. Program ini dirancang khusus untuk mewadahi mahasiswa psikologi agar dapat memperoleh wawasan praktis dan teknis—sesuatu yang sering kali tidak sempat diajarkan di ruang kelas. Apakah inisiatif ini mampu menjawab persoalan yang lebih besar? Mungkin, pada skala mikro, ya. Beberapa peserta mengaku terbantu dalam memahami dunia kerja secara lebih konkret. Namun dalam skala makro, upaya ini belum cukup.
Lalu, apakah saya memilih pasrah? Tidak. Saya telah menyuarakan keresahan ini melalui berbagai upaya, salah satunya dengan menghadirkan perwakilan pemerintah dalam acara penutup program kerja nasional yang saya pimpin. Itu adalah bentuk komitmen saya untuk membawa isu ini ke meja para pengambil kebijakan.
Lalu, apa langkah selanjutnya?
Mungkin tulisan ini adalah salah satunya. Karena ini bukan sekadar tentang saya—ini tentang 1,85 juta sarjana baru yang hadir setiap tahunnya, yang mungkin memikul keresahan serupa. Narasi ini telah saya bangun selama dua tahun terakhir sebagai mahasiswa, dan seperti yang saya tulis dalam unggahan sebelumnya: narasi-narasi seperti ini adalah nafas-nafas terakhir dari masa ‘ke-maha-siswa-an’ saya—nafas yang perlahan akan hilang seiring dengan kelulusan saya. Tapi semoga ia tidak berhenti, melainkan menjelma menjadi suara yang lebih besar.
Tulisan ini bukan tentang mengeluh, bukan pula tentang mengkritik tanpa arah atau membanggakan pencapaian pribadi. Ini adalah tentang
Menyalurkan sisa-sisa nafas itu kepada kalian, para mahasiswa
yang masih melangkah di jalurnya. Agar narasi ini tidak berhenti pada saya, tetapi terus berkembang, menguat, dan bertumbuh bersama. Supaya suatu hari nanti, ungkapan “lulusan psikologi bisa bekerja di mana saja” bukan sekadar harapan indah yang diwariskan dari dosen ke mahasiswa, melainkan kenyataan konkret yang benar-benar bisa diwujudkan.
