Konten dari Pengguna

Tumpukan Sampah? Uang Belanja Tambahan?

Kharirotus Syarifah

Kharirotus Syarifah

Kharirotus Syarifah, lahir di Pekalongan, 26 November 1999. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan Magister Ilmu Lingkungan di Unsoed. Travelling dan hiking merupakan beberapa hal yang saya sukai. Saya tertarik di bidang lingkungan.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kharirotus Syarifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemisahan Sampah Organik dan Sampah Anorganik. Sumber: Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Pemisahan Sampah Organik dan Sampah Anorganik. Sumber: Pribadi

Sampah merupakan masalah yang terjadi hampir di setiap daerah. Permasalahan sampah menjadi isu penting yang harus segera ditangani. Setiap hari produksi sampah terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, tingkat konsumsi, dan budaya penggunaan barang sekali pakai.

Produksi sampah yang terus meningkat tidak diimbangi dengan peningkatan jumlah tempat pengolahan sampah oleh instansi terkait. Oleh karena itu, sampah-sampah tersebut tidak semua dapat diolah. Sampah yang tersisa terus menumpuk dan menjadi gunung sampah. Akhirnya, sampah tersebut menimbulkan pencemaran air, bau yang busuk dan merusak pemandangan serta masalah lingkungan lainnya.

Fenomena tersebut, seharusnya dapat mendorong masyarakat untuk mengolah sampah di tingkat rumah tangga secara mandiri. Masyarakat dapat memulai pengolahan sampah di tingkat rumah tangga dengan memisahkan sampah organik dan sampah anorganik. Pemisahan tersebut, bertujuan untuk memudahkan pengolahan sampah ditahap selanjutnya. Sampah organik dapat dijadikan pupuk kompos dan sampah anorganik dapat dijadikan kerajinan. Selain itu, sampah-sampah tersebut juga dapat disetorkan kepada bank sampah.

Bank sampah menampug sampah-sampah kering. Sampah-sampah tersebut dijadikan tabungan dan dapat diambil kembali dalam bentuk uang. Sedangkan sampah basah yang tidak dapat disetorkan ke bank sampah, bisa dijual kepada pembudidaya maggot ataupun produsen pupuk kompos. Dengan begitu sampah-sampah tersebut dapat ditukarkan menjadi uang.

Sampah anorganik adalah sampah yang terbuat dari bahan anorganik dan sulit terurai. Maka dari itu, sampah anorganik biasanya diolah kembali menjadi barang baru. Plastik merupakan salah satu contoh sampah anorganik. Plastik adalah sampah yang sulit terurai secara alami sehingga perlu teknologi untuk mengolah sampah plastik menjadi biji plastik yang kemudian digunakan sebagai bahan untuk membuat kursi, meja, dan barang lainnya. Sampah yang telah diolah tersebut dapat dijual kembali. Oleh karena itu, bank sampah memerlukan sampah plastik dan mampu menukar sampah plastik tersebut dengan uang.

Sampah organik adalah sampah yang berasal dari bahan organik dan mudah terurai. Sampah sisa dapur, seperti sisa nasi dan kulit pisang merupakan contoh sampah organik. Sampah tersebut dapat dijadikan pupuk kompos, pakan kambing, pakan maggot, dan hewan ternak lainnya. Pupuk kompos, pakan hewan ternak, dan maggot dapat diproduksi massal dan dapat diperjualbelikan secara ilegal. Maka dari itu, banyak produsen pupuk kompos, pakan hewan ternak, dan maggot membutuhkan sampah organik dan mampu menukar sampah tersebut dengan uang.

Selain menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sampah secara mandiri dapat bermanfaat sebagai sumber penghasilan tambahan. Nah, sekarang apalagi yang kalian tunggu? Mulailah mengelola sampah rumah tangga mulai dari sekarang.