Iran Melakukan Serangan Kepada Israel, Apa Reaksi Masyarakat Palestina?

Ni Made Ayu Tan Amara Puspita
Mahasiswa Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Udayana.
Konten dari Pengguna
21 April 2024 17:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Ni Made Ayu Tan Amara Puspita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT

Sejarah Konflik antara Israel dengan Palestina

Ilustrasi dari Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dari Freepik
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Hubungan antara Israel dengan Palestina tiada hentinya berkonflik. Konflik ini salah satunya berawal dari sengketa Kota Yerusalem yang menimbulkan banyak kerusakan dan korban tewas. Berdasarkan pakar UMM, Septifa Leiliano Ceria, konflik zaman ini berbeda dengan zaman dulu. Yerusalem masih tenteram, sebelum Turki Usmani runtuh walaupun masyarakatnya menganut agama yang berbeda-beda. Namun semenjak Turki Usmani runtuh, konflik-konflik mulai bermunculan. Terutama saat negara Timur yang dikuasai oleh Inggris mulai merasa adanya ketimpangan. Kemudian dengan adanya Perang Dunia Pertama, konflik makin memanas karena banyaknya etnis Yahudi di luar wilayah Yerusalem ditind
ADVERTISEMENT
as oleh NAZI. Inggris memberikan janji yang disebut Deklarasi Balfour kepada etnis Yahudi tersebut, yang berisi pernyataan bahwa wilayah kedaulatan Yerusalem diberikan kepada mereka. Hal ini menyebabkan etnis Yahudi mengungsi ke Yerusalem, dimana titik wilayahnya adalah Palestina. Mereka terus melakukan perluasan wilayah disana. Ketegangan semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Pada tahun 1936-1939, muncul pemberontakan Arab. Namun hal ini dibalas oleh Inggris dengan kampanye penangkapan massal dan menghancurkan rumah-rumah warga. Pemberontakan kedua tahun 1937 dilakukan oleh petani Palestina untuk melemahkan kolonialisme serta kekuatan Inggris. Dari sini mulai adanya penghancuran massal oleh inggris di Palestina dan membentuk kelompok bersenjata dengan etnis Yahudi. Pasca Perang Dunia II pada tahun 1947, jumlah etnis Yahudi di Palestina meningkat 33%, tetapi kepemilikan tanah hanya mencapai 6%. PBB pada akhirnya ikut turun tangan dengan mengusulkan Resolusi 181, yang memberikan amanat pembagian Palestina menjadi negara-negara Arab dan Yahudi. Namun Palestina menolak resolusi tersebut karena akan memberikan sekitar 56% wilayah Palestina kepada Yahudi, termasuk sebagian besar wilayah pesisir yang subur. Pada saat itu, warga Palestina memiliki 94 persen wilayah bersejarah Palestina dan mencakup 67% dari total populasi. Pada tahun 1946 muncul gerakan pembersihan etnis Palestina, yang disebut sebagai Nakba 1948. Gerakan Zionis ini berhasil menguasai 78% wilayah Palestina, dan pada 15 Mei 1948 negara Israel resmi berdiri. PBB mengusulkan Resolusi 194 pada Desember 1948 untuk menyuruh pengungsi Palestina kembali ke tanah mereka yang diduduki oleh Israel.
ADVERTISEMENT

Serangan Iran Ke Israel

Serangan Iran ke Israel yang berlangsung beberapa jam itu membawa konflik Timur Tengah menjadi lebih luas dan memberikan efek gelombang yang serius di seluruh wilayah. Ketegangan antara Iran dan Israel telah lama memanas, Semenjak Revolusi 1979, Iran mengambil sikap anti-Israel dan memberikan bantuan dana dukungan untuk jaringan ‘sumbu perlawanan’ di Lebanon, Palestina, Suriah, Yaman, Irak, serta sekitar perbatasan Israel. Berdasarkan Chatham House (15 April, 2024), israel mengubah pendekatannya sebagai respons terhadap serangan 7 Oktober, dengan menargetkan tokoh-tokoh kunci dan aset yang terkait dengan poros perlawanan dan Iran. Meskipun Iran konsisten dengan menghindari konflik regional yang lebih luas, pendekatan Israel bertujuan untuk mengembalikan efek pencegahan terhadap Iran. Serangan langsung dan Iran sebagai target bertujuan untuk menetapkan garis merah baru, menandakan kemampuan dan kesiapan Iran untuk bertindak secara independen. Meskipun serangan tersebut memperlihatkan kemampuan Iran, sebenarnya keberhasilannya terletak pada paksaan terhadap Israel dan Amerika Serikat untuk mengeluarkan sumber daya yang signifikan dalam menanggulangi serangan tersebut, yang berpotensi mempengaruhi bantuan militer Amerika Serikat kepada Israel. Namun, serangan tersebut juga menyebabkan persatuan internasional di balik Israel, terutama setelah tindakannya di Gaza, menandai berakhirnya isolasi virtualnya. Berdasarkan PBS NewsHour (14 April, 2024) adapun timeline yang mengarah ke serangan Iran:
ADVERTISEMENT
Pada 7 Oktober tahun 2023, Hamas menyerang Israel dengan harapan musuh regional Israel lainnya akan bergabung. Namun Joe Biden memperingatkan musuh regional Israel untuk tidak terlibat serta mengirimkan dukungan militer ke Timur Tengah.
Pada 8 Oktober tahun 2023, Hizbullah Syiah Lebanon yang didukung Iran mulai menembak Israel sehingga memicu pertempuran lintas batas intensitas rendah selama berbulan-bulan.
Pada November tahun 2023, Pemberontakan Yaman yang didukung Iran meluncurkan kampanye serangan drone dan rudal di Laut Merah. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menekan Israel mengakhiri perang melawan Hamas.
Pada 1 April tahun 2024, dua jenderal Iran dengan Garda Revolusi paramiliter negara itu tewas di Ibukota Suriah dalam serangan terhadap gedung konsulat Iran. Israel disalahkan atas serangan tersebut. Iran menjanjikan balas dendam akan kejadian itu.
ADVERTISEMENT
Pada 14 April tahun 2024, Iran meluncurkan lebih dari 300 drone, rudal dan balistik yang hampir seluruhnya digagalkan oleh susunan pertahanan udara Israel dan koalisi negara-negara yang menolak serangan ini. Israel mengatakan bahwa tidak ada kerusakan yang berarti.

Reaksi Masyarakat Palestina

Dengan adanya serangan Iran ke Israel, menyorot perhatian masyarakat Palestina. Berdasarkan unggahan @dina_sulaeman (https://twitter.com/dina_sulaeman/status/1779304864985804850?t=PgmkPj3OykZ1GSfS-XYlpw&s=19) di twitter, sebagai pengamat Timur Tengah, analis geopolitik serta dosen HI, masyarakat Gaza sangat senang ketika tidak terdengar lagi dengung drone dan jet tempur Zionis di langit Gaza. Media Zionis (Tele @FotrosResistance) mengatakan bahwa ini pertama kalinya sejak konflik ini berlangsung, tidak ada pesawat IOF/IDF di jalur Gaza. Dengan adanya serangan Iran terhadap Israel menyebabkan seluruh pesawat temput IOF/IDF meninggalkan wilayah udara Gaza. Dina Sulaeman juga menerjemahkan tanggapan masyarakat Palestina di Tepi Barat, melalui video wawancara (https://twitter.com/dina_sulaeman/status/1780388443937533953?t=bN5850JwFc1wPNT88qi6Lg&s=19). Masyarakat Palestina mengatakan bahwa serangan tersebut sudah dinantikan dengan lama. Serangan tersebut juga menaikkan semangat mereka dan berterima kasih kepada Iran dan Yaman atas bantuannya kepada Gaza. Mereka megatakan bahwa ini balasan keras Iran kepada Zionis, dan membuat seluruh masyarakat senang sehingga naik ke atas atap dan berdoa.
ADVERTISEMENT