Bahan Pokok Langka, Ibu-Ibu sedang Kalang Kabut

Profesi sebagai mahasiswa berkuliah di Politeknik Keuangan Negara STAN
Konten dari Pengguna
6 Agustus 2022 14:24
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Anisa Fatmawati Kohari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
credit : Anisa Fatmawati Kohari
zoom-in-whitePerbesar
credit : Anisa Fatmawati Kohari
ADVERTISEMENT
Kita tahu kebutuhan utama atau kebutuhan primer masyarakat yaitu bahan pokok. Bahan pokok adalah bahan-barang yang menjadi pemenuhan kebutuhan dasar dalam hal ini kebutuhan pangan bagi masyarakat. Skala pemenuhan kebutuhan bahan pokok itu sangat tinggi dan seringkali menghadapi ancaman kelangkaan. Untuk menjaga bahan pokok tetap ada, maka kita harus menjaga ketahanan bahan pokok tersebut. Ketahanan bahan pokok merupakan isu krusial dalam multi bidang yaitu bidang politik, bidang ekonomi, bidang sosial, dan bidang lingkungan. Dalam mencapai ketahanan pangan yang kokoh, dibutuhkan ketersediaan bahan pokok dalam segi jumlah dan kualitasnya baik serta terdistribusi dengan baik. Ketahanan bahan pangan nasional tidak hanya berfokus pada ketersediaan bahan-bahan pokok melainkan juga berfokus pada bagaimana bahan-bahan pokok tersebut didapatkan.
ADVERTISEMENT
Kita tahu bahwa bahan pangan seringkali menurun jumlahnya pada saat pandemi dan juga sewaktu perayaan hari-hari besar karena di masa pandemi mobilitas masyarakat dibatasi dalam jumlah besar sehingga laju logistik juga terhambat, dan dalam perayaan hari-hari besar konsumsi masyarakat akan bahan pokok menjadi meningkat. Dulu sempat terjadi kelangkaan beras medium di bulan Oktober-November tahun 2017. Pada waktu itu biasanya di pasar mendapat 3000 ton beras (2000 ton medium beras, 1000 ton beras premium), namun tiba-tiba beras menjadi langka. Ini tidak sejalan tentang bahwasanya peran sektor pertanian penyediaan makanan berbasis bahan baku pertanian contohnya beras berkontribusi pada perekonomian skala nasional. Data yang menunjukkan bahwa di tahun 2014 sektor pertanian berkontribusi sekitar 13,14% terhadap ekonomi nasional dan 2017 meningkat menjadi 13,53% (pertanian.go.id).
ADVERTISEMENT
Harga beras pada saat itu juga langka karena ada distorsi harga antara harga eceran beras dengan Harga Eceran Tertinggi beras. Harga Eceran Tertinggi beras pada saat tahun 2017 sebesar Rp13.125,00 dan harga beras impor Rp5.609,00. Dengan demikian, kebijakan terkait Harga Eceran Tertinggi telah mendistorsi permintaan dan penawaran di pasar. Ketika harga impor lebih murah, masyarakat lebih memilih produk impor. Hal ini akan merugikan di sisi petani lokal yang berasnya tidak laku sehingga kondisi ekonomi dan sosial petani rentan akan menurun, Selain itu, penurunan konsumsi beras lokal akibat kalah bersaing dengan beras impor juga akan berdampak pada PDB sektor pertanian
Faktor-faktor penyebab kelangkaan bahan pokok yaitu sebagai berikut.
1. Permintaan masyarakat meningkat.
ADVERTISEMENT
Ketika permintaan > penawaran maka akan terjadi ketidakseimbangan antara ketersediaan bahan pokok dan kebutuhan akan bahan pokok. Permintaan ini meningkat disebabkan oleh hal-hal berikut.
  • Pertumbuhan populasi.
  • Pertumbuhan PDB dan pendapatan riil memungkinkan orang mengonsumsi lebih banyak daripada sebelumnya.
  • Perubahan preferensi atau pilihan, Ketika ada inovasi bahan pokok baku yang sedang tren misal bubur ayam kekinian, maka kebutuhan akan beras dan ayam akan meningkat.
2. Pasokan bahan pokok yang menurun.
Pasokan bahan pokok menurun disebabkan oleh:
  • pasokan barang yg menurun karena gagal panen/cuaca buruk,
  • lahan yang tercemar/rusak,
  • keterbatasan lahan, dan
  • tidak adanya barang substitusi.
3. Masalah distribusi dari hulu ke hilir yang tidak berjalan lancar dan terhambat sehingga pasokan tidak dapat tersalurkan secara merata sehingga harga produk menjadi relatif mahal dan tidak stabil.
ADVERTISEMENT
4. Modal yang kurang
Modal dalam hal memproduksi bahan pokok yang kurang akan mengakibatkan produsen akan mengurangi biaya produksinya. Dengan pengurangan biaya produksi akan mengakibatkan pengurangan produksi bahan pokok atau bahan pokok diproduksi dengan kualitas yang menurun daripada sebelumnya. Ketika bahan pokok berkurang, namun permintaan meningkat ini lah yang membuat bahan pokok langka.
Kelangkaan bahan pokok merupakan masalah yang besar karena bahan pokok merupakan prioritas kebutuhan masyarakat sehingga diperlukan usaha-usaha yang luar biasa juga dari pemerintah untuk mengatasinya. Beberapa macam kebijakan yang dapat diimplementasikan pemerintah untuk mengatasi kelangkaan bahan pokok yaitu :
1. Pembentukan basis data yang kuat untuk mengetahui jumlah permintaan dan jumlah pasokan. Dengan mengetahui data permintaan dan penawaran akan memudahkan untuk menyeimbangakan ketersediaan bahan pokok. Dengan basis data yang kuat, diimbangi juga dengan sistem manajemen rantai persediaan yang baik. Dengan sistem manajemen rantai persediaan yang baik akan dapat menjamin tercapainya barang pokok ke tangan masyarakat dengan baik.
ADVERTISEMENT
2. Pemerintah bekerjasama dan bersinergi dengan semua elemen pemerintah. Dalam hal ini pemerintah bisa bekerjasama dengan Kementerian BUMN yaitu Bulog, Badan Pangan Nasional, juga Kementerian Pertanian untuk bersama-sama dalam mengawal pemetaan ulang dan pendistribusian bahan pokok yang baik di setiap daerah. Saling membantu dan sinergi mendukung satu sama lain menjadi poin penting menjaga ketahanan bahan pokok nasional.
3. Mengawasi proses produksi, distribusi dan konsumsi agar terjadi kontinuitas, stabilitas bahan pangan, dan tidak terjadi penyelewengan seperti penimbunan maupun mafia bahan pokok.
4. Penyediaan teknologi smart farming untuk menunjang inovasi terkait penyediaan barang-barang substitusi baru ketika barang-barang langka mulai terjadi dan memaksimalkan serta mengefisienkan produksi barang-barang pokok.
5. Mengaktifkan lumbung-lumbung pangan (food estate) secara nasional
ADVERTISEMENT
Program ini sebagai salah satu program sebagai perluasan lahan untuk penguatan cadangan pangan nasional. Program ini untuk mengintegrasikan pengembangan pangan di bidang pertanian, peternakan, dan perkebunan. Program ini harus dilaksanakan dengan pendampingan dan penyuluhan oleh Kementerian Pertanian agar membantu pengembangan lumbung pangan serta pengembangan kemampuan dan bisnis petani. Dalam pengembangan lumbung-lumbung pangan ini juga bisa dimulai dari kita sendiri dan tetangga sekitar dengan penerapan sistem hidroponik. Sistem hidroponik yang tergolong sederhana, lebih bersih, tidak perlu media tanah, tidak butuh banyak air, tidak butuh pestisida karena hama yang mengganggu hidroponik berjumlah sedikit.
6. Insentif dari pemerintah untuk penyediaan subsidi infrastruktur pertanian
Dengan penyediaan subsidi infrastruktur pertanian diharapkan dapat memudahkan petani dalam mengembangkan produksi bahan pokok. Subsidi infrastruktur pertanian juga bisa membantu dalam hal menambah modal petani, sehingga tidak akan menambah biaya produk petani yang bisa menekan harga bahan pokok agar tidak mahal.
ADVERTISEMENT
7. Subsidi bahan pokok
Dengan adanya subsidi bahan pokok akan menekan mahalnya harga bahan pokok dan juga menutupi kerugian apabila ada penetapan Harga Eceran Tertinggi dalam pasar.
Kebijakan-kebijakan dalam menjaga bahan pokok sangat banyak dan tentunya harus melalui proses pendampingan dari berbagai macam pihak. Masyarakat menginginkan bahan-bahan pokok dengan mudah dan harga yang terjangkau. Oleh karena itu, menjadi tugas bersama antara pemerintah dan masyarakat untuk mengawal agar bahan pokok tidak menjadi langka. Diharapkan kebijakan-kebijakan yang telah diterapkan maupun yang akan diterapkan dapat berlangsung dengan baik. Ini butuh pengawalan kita semua. Kebijakan juga diharapkan dapat tepat sasaran kepada semua elemen masyarakat Indonesia baik produsen, distributor, maupun konsumen. Pemerintah selaku pembuat kebijakan dapat terus menerus mengevaluasi kebijakannya dan memberikan solusi terbaik melalui kebijakan-kebijakan yang baru yang inovatif agar bahan pokok tidak menjadi barang yang langka. Masyarakat juga butuh untuk membantu mengevaluasi dan menemukan solusi terbaiknya
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020