Konten dari Pengguna

Sisi "Menyenangkan" dalam Menulis Skripsi

Alya Raihana L

Alya Raihana L

Politeknik Keuangan Negara STAN

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alya Raihana L tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi AI
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi AI

Skripsi. Satu kata yang bisa bikin mahasiswa tingkat akhir langsung refleks tarik napas panjang, pasang headset, dan cari tempat sepi buat mikir. Enggak heran, sih. Skripsi sering kali dianggap beban terakhir yang paling berat sebelum bisa pakai toga dan duduk manis di wisuda. Banyak yang merasa tertekan, cemas, dan kadang kehilangan arah karena dikejar-kejar deadline, revisian dosen pembimbing yang entah kenapa suka muncul di jam 10 malam, atau rasa nggak percaya diri sama tulisannya sendiri.

Tapi di balik semua drama dan deritanya, sebenarnya ada sisi lain yang sering luput kita sadari: menulis skripsi juga bisa menyenangkan, kok. Serius.

Ya, menyenangkan. Mungkin terdengar aneh, apalagi kalau kamu lagi ngetik sambil nangis karena laptop nge-hang belum sempat disave. Tapi kalau kita lihat dari sudut pandang yang lain, ada banyak hal kecil yang bikin proses ini jadi bermakna—dan bahkan bisa bikin kita senyum sendiri pas ngingetnya nanti.

1. Menulis Itu Kayak Lagi Ngobrol Sama Diri Sendiri

Pas nulis skripsi, sebenarnya kita lagi ngobrol. Tapi bukan sama temen atau dosen. Kita lagi ngobrol sama… diri sendiri. Topik yang kita pilih biasanya nggak muncul tiba-tiba. Di balik itu, ada hal yang kita suka, kita peduli, atau malah bikin kita penasaran setengah mati.

Menulis skripsi itu kayak bercermin. Kita jadi tahu gimana cara kita mikir, apa yang bikin kita tertarik, dan gimana kita menjelaskan hal-hal rumit dengan kata-kata sendiri. Dan lucunya, kadang kita baru benar-benar ngerti suatu konsep justru pas kita coba jelasin itu ke orang lain lewat tulisan.

2. Rasa Puas Saat Bab Demi Bab Tuntas

Ada kepuasan yang susah dijelasin waktu akhirnya satu bab selesai. Bab I yang tadinya bikin kita bingung mau mulai dari mana, akhirnya kelar juga. Bab III yang penuh metode dan istilah asing? Ternyata bisa ditulis juga!

Setiap bab yang selesai itu kayak “achievement unlocked”. Dikit-dikit lama-lama jadi skripsi. Rasanya kayak... ya kayak abis nyuci piring segunung terus liat wastafel kosong. Lega dan bangga dalam diam.

3. Referensi Itu Bukan Musuh, Tapi Harta Karun

Awalnya cari referensi emang kayak masuk hutan belantara. Banyak yang gak relevan, link jurnal mati, atau malah bayar. Tapi pas nemu satu artikel yang ngena banget sama topik kita? Wah, rasanya kayak nemu cheat code.

Setiap jurnal, setiap teori, itu semacam potongan puzzle yang bantu kita ngerti dunia. Kadang bikin kita bilang, “Lho kok seru ya ternyata?” Dan dari situlah rasa ingin tahu kita tumbuh. Ilmu itu menular, dan skripsi diam-diam menularin kita buat jadi lebih haus tahu.

4. Menulis Bisa Jadi Me Time yang Diam-Diam Menyembuhkan

Di tengah jadwal padat dan kepala sumpek, sesi nulis skripsi bisa jadi waktu paling tenang. Duduk sendirian, buka laptop, putar lagu instrumental atau lo-fi, sambil ngetik pelan-pelan.

Menulis skripsi, kalau udah masuk flow-nya, bisa jadi bentuk meditasi. Kita tenggelam dalam pikiran sendiri, menata ide, memproses emosi, dan menyulap keresahan jadi kalimat-kalimat yang punya makna. Kadang bikin kita lebih jernih, lebih tenang.

5. Momen Akrab Sama Dosen dan Teman Seperjuangan

Skripsi memang bikin kita sering datang ke ruang dosen sambil deg-degan. Tapi siapa sangka, dari situ bisa tumbuh hubungan mentor-mentee yang hangat. Dosen yang awalnya kelihatan galak, ternyata sabarnya luar biasa. Bahkan kadang, mereka lebih percaya sama kemampuan kita dibanding kita sendiri.

Belum lagi temen-temen seperjuangan. Grup chat yang isinya curhat revisi, sharing template, atau cuma kirim meme “skripsi life” yang relatable banget. Rasanya kayak lagi ikut survival camp, tapi rame-rame. Sama-sama panik, sama-sama ketawa.

6. Skripsi Adalah Karya. Dan Itu Layak Dikenang

Lulus itu penting, tapi skripsi bukan cuma syarat administratif. Itu karya. Itu bukti kamu pernah mikir, pernah nulis berlembar-lembar, pernah melewati malam-malam penuh keraguan dan tetap lanjut.

Pas akhirnya skripsi dijilid, ada nama kamu di sampul depan, dan kamu pegang hasil jerih payahmu sendiri—rasanya priceless. Itu bukan cuma dokumen kampus, itu bagian dari sejarah hidupmu.

7. Skripsi Mengajarkan Kita: Masalah Itu Bisa Diselesaikan… Asal Ditulis Dulu

Ini bagian paling plot twist dari skripsi: dia ngajarin kita cara menghadapi masalah.

Ingat pas kamu disuruh bikin rumusan masalah? Awalnya bingung, “Masalahnya yang mana sih?” Tapi setelah ditulis satu per satu, dirumuskan baik-baik, ternyata… bisa juga tuh dipecahkan.

Begitu juga hidup. Kadang kita pusing karena semua masalah numpuk di kepala. Tapi coba deh tulis. Satu-satu. Ternyata lebih gampang dipetakan. Bahkan masalah pelik—kayak “pengaruh variabel X terhadap Y dengan moderasi Z dalam konteks blablabla”—ujung-ujungnya bisa disimpulkan di bab akhir. Hidup juga bisa begitu kok, asal kamu sabar dan pelan-pelan.

Kadang kamu cuma butuh ngetik sambil minum es kopi susu, terus kalimatnya keluar satu-satu… dan lama-lama kamu sadar, “Loh, kok jadi ngerti jalan keluarnya ya?”

Kalau dosenmu bisa nemuin solusi pakai metode regresi berganda, kamu juga bisa kok nemuin solusi dari overthinking-mu. Ya, pelan-pelan aja. Kayak nulis skripsi: tiap bab punya waktunya sendiri.

Menikmati Proses, Bukan Cuma Nunggu Lulus

Menulis skripsi memang penuh tantangan. Tapi kalau kita lihat lebih dekat, banyak sisi-sisi kecil yang sebenarnya menyenangkan dan menyentuh. Kita bukan cuma sedang menulis untuk lulus, tapi juga sedang membangun kepercayaan diri, merapikan cara berpikir, dan menyelesaikan masalah satu per satu.

Jadi buat kamu yang lagi berjuang, jangan cuma fokus ke “kapan selesai”-nya, tapi nikmati juga perjalanannya. Karena suatu hari nanti, kamu akan lihat ke belakang dan bilang: “Ternyata aku kuat juga, ya. Bahkan pas nulis skripsi sekalipun.”

Dan itu… layak dirayakan.