Penyuluhan HIV/AIDS Tingkatkan Kesadaran Masyarakat Desa Nogosari, Mojokerto

Mahasiswa Teknik Informatika Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ainurrohman Rohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mojokerto, 19 Juli 2025 – Masyarakat Desa Nogosari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, baru-baru ini menerima edukasi menyeluruh mengenai pencegahan dan penanganan HIV/AIDS melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diadakan oleh Kelompok R-10 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Kegiatan yang bertajuk "KENALI, CEGAH, LINDUNGI" ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, menghilangkan stigma, dan menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya pola hidup sehat.
Mengatasi Kesenjangan Pemahaman dan Mitos
Hasil survei dan observasi awal dari tim KKN menunjukkan bahwa banyak warga Desa Nogosari memiliki pemahaman yang terbatas tentang HIV/AIDS, termasuk cara penularan, gejala, dan metode pencegahan. Hal ini menyebabkan munculnya stigma negatif terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan berkembangnya mitos yang salah, seperti anggapan bahwa HIV/AIDS dapat menular melalui sentuhan.
Untuk mengatasi masalah ini, program sosialisasi dirancang tidak hanya untuk memberikan informasi dasar tentang virus HIV, tetapi juga menekankan dua aspek penting yang sering diabaikan: aspek psikologis dan hukum dalam penanganan HIV/AIDS.
Pelaksanaan Sosialisasi dan Diskusi Interaktif
Sosialisasi dilaksanakan di Balai Desa Nogosari pada 14 Juli 2025, melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk Ibu PKK, ibu rumah tangga, perangkat desa, dan tokoh masyarakat. Materi yang disampaikan mencakup:
Pengertian HIV/AIDS: Penjelasan dasar tentang virus, cara penularan, dan metode pencegahan yang tepat.
Dampak Psikologis terhadap ODHA: Edukasi mengenai pentingnya dukungan sosial dan penghapusan diskriminasi terhadap penderita.
Aspek Hukum dan Regulasi: Pemahaman tentang hak-hak ODHA dan peraturan yang berlaku terkait HIV/AIDS.
Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi terbuka, memberikan kesempatan bagi warga untuk mengajukan pertanyaan dan berbagi pandangan serta pengalaman terkait isu HIV/AIDS. Meskipun partisipasi masih terbatas, antusiasme warga dalam diskusi menunjukkan keinginan untuk memahami lebih dalam.
Dampak Positif dan Rekomendasi Keberlanjutan
Ketua Kelompok KKN, Satrio Tri Atmojo, menyatakan bahwa kegiatan ini berhasil memperluas wawasan warga tentang pentingnya pola hidup sehat dan mengurangi stigma terhadap ODHA. "Melalui sosialisasi ini, masyarakat diajak untuk memahami pentingnya hidup sehat dan saling mendukung tanpa stigma terhadap penderita HIV/AIDS," ujarnya.
Dosen Pembimbing Lapangan, I Gde Sandy Satria, S.H., M.H., menambahkan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat menjadi penggerak perubahan sosial dengan menanamkan nilai-nilai kepedulian dan tanggung jawab bersama.
Sebagai tindak lanjut, tim KKN merekomendasikan:
Program Edukasi Keberlanjutan: Perlunya edukasi lanjutan secara berkala melalui kerja sama dengan puskesmas, lembaga pendidikan, atau tokoh masyarakat desa.
Akses Informasi dan Layanan Inklusif: Penyediaan akses informasi dan layanan kesehatan yang ramah ODHA dan berbasis hak asasi manusia untuk mengurangi stigma dan meningkatkan kesadaran masyarakat secara menyeluruh.
