Masih Menganggap Perilaku Latah Itu Lucu? Awas! Faktanya, Itu Gangguan Berbahasa

Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Siliwangi
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Dimas Hermawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Keberadaan orang latah barangkali sudah tidak asing lagi bagi semua orang. Bahkan, sebagian orang sudah menganggap latah sebagai perilaku yang normal karena tidak menimbulkan bahaya dan malah menimbulkan kelucuan (Pamungkas dkk, 2017). Mpok Atiek, Nunung Srimulat, dan Gary Iskak merupakan beberapa nama yang terkenal karena perilaku latahnya. Tapi, tahukah kalian? Pada faktanya, latah bukan sekadar perilaku normal yang lucu. Dalam ranah ilmu psikolinguistik, latah termasuk salah satu gangguan berbahasa, khususnya gangguan berbahasa psikogenik (Hermawan & Ginanjar, 2025). Jadi sebenarnya, apa sih perilaku latah itu? Yuk, kita pelajari lebih jauh!
Pengertian Perilaku Latah
Perilaku latah termasuk salah satu gangguan berbahasa psikogenik, selain berbicara manja, berbicara kemayu, dan gagap (Indah, 2017). Menurut Sudarwati dkk (2017), gangguan berbahasa psikogenik merupakan sebuah gangguan berbahasa yang terjadi pada aspek mental seseorang, sehingga menimbulkan berbagai variasi berbahasa dalam segi nada, intonasi, atau diksi. Di sisi lain, perilaku latah merupakan sebuah sindrom yang ditandai oleh reaksi spontan seseorang terhadap rangsangan mendadak, baik berupa ucapan atau gerakan (Andriani & Rosidin, 2023). Namun, perlu diperhatikan bahwa perilaku latah ini dapat diderita oleh siapa saja dan biasanya sulit disembuhkan.
Jenis Perilaku Latah
Perilaku latah sering kali terlihat dengan menirukan ucapan orang lain ketika terkejut, padahal itu hanya salah satu jenisnya saja. Perilaku latah memiliki beberapa jenis tergantung pada rangsangan dan reaksi yang mendasarinya. Adapun jenis perilaku latah sebagaimana dijelaskan oleh Phasa (2022), antara lain:
1. Latah Echolalia
Latah echolalia merupakan perilaku latah dengan menirukan ucapan orang lain. Ketika seorang penderita latah mendapatkan rangsangan mendadak berupa ucapan dari orang lain, maka secara spontan ia akan menirukan ucapan tersebut.
2. Latah Echopraxia
Latah echopraxia merupakan perilaku latah dengan menirukan gerakan orang lain. Ketika seorang penderita latah mendapatkan rangsangan mendadak berupa gerakan dari orang lain, maka secara spontan ia akan menirukan gerakan tersebut.
3. Latah Coprolalia
Latah coprolalia merupakan perilaku latah dengan mengucapkan ucapan kasar atau unik. Ketika seorang penderita latah mendapatkan rangsangan mendadak berupa ucapan atau gerakan, maka secara spontan ia akan mengucapkan ucapan kasar atau unik.
4. Latah Auto Echolalia
Latah auto echolalia merupakan perilaku latah dengan menirukan ucapan diri sendiri. Ketika seorang penderita latah mendapatkan rangsangan mendadak berupa ucapan dari dirinya sendiri, maka secara spontan ia akan menirukan ucapan tersebut.
5. Latah Automatic Obedience
Latah automatic obedience merupakan perilaku latah dengan menuruti suruhan orang lain. Ketika seorang penderita latah mendapatkan rangsangan mendadak berupa suruhan dari orang lain, maka secara spontan ia akan menuruti suruhan tersebut.
Faktor Penyebab Perilaku Latah
Perilaku latah sering kali tidak diketahui penyebabnya, padahal seseorang tidak menjadi latah secara tiba-tiba. Perilaku latah memiliki beberapa faktor penyebab tergantung pada kondisi fisik dan mental serta pengalaman hidup. Adapun faktor penyebab perilaku latah sebagaimana dijelaskan oleh Tanjung dkk (2019) & Fitriani (2024), antara lain:
1. Faktor Internal
Faktor internal merupakan penyebab perilaku latah yang berasal dari dalam diri seorang penderita latah. Adapun faktor internal penyebab perilaku latah, antara lain:
a. Keterlambatan Perkembangan Organ Produksi Bahasa
Perilaku latah dapat disebabkan oleh keterlambatan perkembangan organ produksi bahasa. Keterlambatan perkembangan organ produksi bahasa menyebabkan seseorang terlambat dalam menguasai keterampilan berbahasa.
b. Cedera Otak
Perilaku latah dapat disebabkan oleh cedera otak, khusunya pada bagian otak afasia motorik subkortikal. Cedera otak menyebabkan seseorang kesulitan dalam menyampaikan isi pikirannya menggunakan perkataan secara sistematis.
c. Tekanan Mental
Perilaku latah dapat disebabkan oleh tekanan mental yang dipengaruhi oleh fungsi otak, lingkungan, dan pengalaman hidup. Tekanan mental menyebabkan seseorang kesulitan dalam mengendalikan pikiran, perasaan, dan pergerakan.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal merupakan penyebab perilaku latah yang berasal dari luar diri seorang penderita latah. Adapun faktor eksternal penyebab perilaku latah, antara lain:
a. Imitasi
Perilaku latah dapat disebabkan oleh imitasi, yaitu motivasi untuk menirukan perilaku orang lain. Imitasi menyebabkan seseorang menirukan perilaku latah dari orang lain, baik secara sengaja atau tidak sengaja.
b. Sugesti
Perilaku latah dapat disebabkan oleh sugesti, yaitu sikap untuk menunjukkan pandangan agar diterima orang lain. Sugesti menyebabkan seorang penderita latah menunjukkan kelatahannya sebagai perilaku yang normal agar diterima orang lain.
c. Identifikasi
Perilaku latah dapat disebabkan oleh identifikasi, yaitu motivasi untuk terlihat berbeda dari orang lain. Identifikasi menyebabkan seseorang secara sengaja berperilaku latah untuk terlihat berbeda dari orang lain.
d. Simpati
Perilaku latah dapat disebabkan oleh simpati, yaitu kondisi perasaan yang lebih dominan daripada logika dalam berperilaku. Simpati menyebabkan seseorang dapat berkata jorok atau kasar tanpa dicela orang lain dengan dalih berperilaku latah.
e. Mimpi
Perilaku latah dapat disebabkan oleh mimpi, yaitu mimpi yang berkaitan dengan seksualitas akibat hasrat seksual yang tidak tersalurkan. Mimpi menyebabkan seseorang menyalurkan hasrat seksualnya dengan berperilaku latah.
Dampak Perilaku Latah
Perilaku latah sering kali dianggap tidak berbahaya karena lebih banyak mengundang gelak tawa daripada kekhawatiran, padahal faktanya tidak selalu demikian. Perilaku latah memiliki beberapa dampak tergantung pada jenis dan tingkat kelatahannya. Adapun dampak perilaku latah sebagaimana dijelaskan oleh Maliha dkk (2020), antara lain:
1. Dampak terhadap Kesehatan Mental
Perilaku latah memiliki dampak terhadap kesehatan mental karena seorang penderita latah sering kali kehilangan kendali diri ketika bereaksi terhadap rangsangan mendadak, baik rangsangan verbal atau nonverbal.
2. Dampak terhadap Hubungan Sosial
Perilaku latah memiliki dampak terhadap hubungan sosial karena seorang penderita latah sering kali dijadikan bahan candaan karena perilakunya yang dianggap lucu oleh orang lain di lingkungan sekitarnya.
3. Dampak terhadap Kelancaran Komunikasi
Perilaku latah memiliki dampak terhadap kelancaran komunikasi karena seorang penderita latah sering kali memproduksi ucapan atau melakukan gerakan yang tidak sesuai dengan konteks komunikasi.
Cara Menyembuhkan Perilaku Latah
Perilaku latah sering kali dianggap hal lucu, padahal bagi penderitanya kondisi ini dapat mengganggu kenyamanan dan interaksi sosial. Perilaku latah memiliki beberapa cara untuk menyembuhkannya tergantung pada kondisi fisik dan mental penderitanya. Adapun cara menyembuhkan perilaku latah sebagaimana dijelaskan oleh Firdaus (2025), antara lain:
1. Terapi Wicara
Terapi wicara dilakukan oleh dokter dengan mengajukan pertanyaan dan pasien diminta untuk menjawabnya dalam jeda beberapa detik. Terapi wicara bertujuan untuk melatih seorang penderita latah agar mampu menyampaikan isi pikirannya dengan sistematis.
2. Terapi Hipnosis
Terapi hipnosis dilakukan oleh dokter dengan membentuk cara berpikir dan memberikan sugesti yang positif secara berkala. Terapi hipnosis bertujuan untuk mengubah kebiasaan disfungsional pada seorang penderita latah.
3. Penggunaan Obat-obatan
Penggunaan obat-obatan dilakukan oleh dokter dengan memberikan obat dalam dosis tertentu, seperti antidepresan atau antiepilepsi. Penggunaan obat-obatan bertujuan untuk meredakan gangguan kecemasan atau stres pada seorang penderita latah.
Jadi, masih menganggap perilaku latah itu lucu? Faktanya, latah bukan sekadar perilaku lucu yang bisa ditertawakan, melainkan gangguan berbahasa yang perlu diperhatikan secara serius. Awas! Perilaku latah dapat diderita oleh siapa saja melalui berbagai faktor penyebab, baik faktor internal atau eksternal. Selain itu, perilaku latah juga memiliki dampak terhadap kesehatan mental, hubungan sosial, dan kelancaran komunikasi bagi penderitanya. Oleh karena itu, alih-alih menjadikan seorang penderita latah sebagai bahan candaan, kita sebaiknya mulai menumbuhkan kesadaran dan kepedulian agar mereka mendapatkan dukungan untuk sembuh. Yuk, mulai sekarang berhenti menganggap perilaku latah itu lucu.
Dimas Hermawan,
Referensi:
Andriani, L., & Rosidin, O. (2023). Gangguan Berbahasa Psikogenik Latah pada Penutur Bahasa Wanita Lansia (Kajian Psikolinguistik). Jurnal Dinamika, 4(2), 74-85.
Firdaus, A. (2025). Apa Itu Latah? Ini Penjelasannya dalam Dunia Medis. URL: https://www.medcom.id/gaya/fitness-health/8N0LdZzN-apa-itu-latah-ini-penjelasannya-dalam-dunia-medis.
Fitriani, R. (2024). Faktor Penyebab Latah (Studi Kasus Pada Yulena Penutur Bahasa Bungo). KRINOK: Jurnal Linguistik Budaya, 8(2), 81-90.
Hermawan, D., & Ginanjar, A. A. (2025). Gangguan Berbahasa Psikogenik Latah pada Grup Cap Tawa dalam Acara Brownis Trans TV: Tinjauan Psikolinguistik. JPPK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa, 14(10), 1643-1654.
Indah, R. N. (2017). Gangguan Berbahasa: Kajian Pengantar. Malang: UIN-MALIKI Press.
Maliha, S. J., Wibisono, B., & Asrumi, A. (2020). Perilaku Verbal Orang Madura Latah: Studi Kasus di Sumenep. KREDO: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra, 3(2), 50-69.
Pamungkas, S., Djatmika, D., Sumarlam, S., & Nurkamto, J. (2017). Menafsir Perilaku Latah Coprolalia pada Perempuan Latah dalam Lingkup Budaya Mataraman: Sebuah Kajian Sosiopsikolinguistik. Jurnal Mozaik Humaniora, 17(2), 273-290.
Phasa, H. N. (2022). Gangguan Psikogenik Latah Gary Iskak: Kajian Psikolinguistik. Jurnal Mimesis, 3(2), 74-85.
Sudarwati, E., Perdhani, W. C., & Budiana, N. (2017). Pengantar Psikolinguistik. Malang: Universitas Brawijaya Press.
Tanjung, A. S., Gustianingsih, G., & Lubis, S. (2019). Kajian Psikolinguistik terhadap Perilaku dan Pengaruh Berbahasa Latah: Studi Kasus pada Tiga Orang Warga Jalan Garu III Medan Amplas Kota Medan. BIP: Jurnal Bahasa Indonesia Prima, 1(2), 127-139.
