Bermimpi Menjadi Pemimpin

Mahasiswa UMM
Tulisan dari Maulidatul Hasanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Identitas Buku
Judul : Pemimpin
Penulis : Wildan Alamsyah, Verdiansyah, Larasati F.
Penerbit : Loveable
Tahun terbit : 2019
Kota terbit : Jakarta Selatan
Tebal halaman : 212
ISBN : 9786237211310
“Pemimpin” merupakan buku karya Wildan Alamsyah. Buku ini mengandung sebuah cerita menarik. Cerita yang ada didalam buku ini merupakan kisah nyata dari perjalanan Wildan Alamsyah dengan mimpi mimpi nya yang begitu besar. Buku ini diminati oleh banyak orang, karena terdapat banyak motivasi didalamnya seperti “Tuhan tidak pernah membatasi mimpimu tapi tuhan membatasi langkahmu untuk mundur.” Maksud dari kutipan tersebut adalah untuk menjadi pemimpin harus mempunyai mimpi, bekerja keras, dan maju terus pantang mundur.
Wildan Alamsyah adalah seorang yang suka bermimpi dalam menjalakan hidupnya. Didalam bukunya, dia lebih menceritakan tentang perjalanan hidup yang naik turun. Namun, dia tetap berusaha mencari jalan agar berhasil dalam mengejar mimpi mimpi nya untuk menjadi pemimpin. Sehingga cerita yang ada didalam buku ini benar-benar membuat pembaca merasa seperti berada pada suasana tersebut.
Cerita dalam buku ini diawali dari kehidupan masa kecil Wildan sejak berumur 5 tahun. Pada saat itu, Wildan dapat melihat makhluk gaib (indigo). Namun setelah khitan, ia kembali melewati hari-hari layaknya seperti anak seusianya. Ia dapat hidup tenang tanpa gangguan makhluk gaib. Awal mimpi Wildan untuk menjadi pemimpin muncul saat kelas 1 SD. Mimpinya ingin menjadi penguasa sekolah tetapi nasib berkata lain. Wildan salah memilih sekolah yang ingin ia taklukan.
Saat Wildan berumur 10 tahun, ia sempat mengira bahwa Tuhan tidak ada. Namun saat menginjak kelas 5 SD, tiba-tiba Wildan memiliki keinginan yang muncul dari dirinya sendiri untuk mengaji di masjid. Hal tersebut membuat ia semakin tertarik untuk memperdalam Agama Islam. Saat kelas 6 SD, Wildan pernah mengikuti lomba tilawatil quran antar RT dan mendapatkan juara dua. Berawal dari mempelajari setiap ayat dan hafalan surat pendek dengan ustaz Husein, akhirnya ia mendapat bekal untuk mengikuti perlombaan di bidang agama, sehingga ia sering memperoleh juara. Jadi mulai dari proses tersebut mimpi Wildan mulai menjadi nyata.
Saat ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, Wildan mendapatkan pilihan yang sulit antara memilih masuk MTS di pesantren atau SMP. Hampir semua guru SD nya menyarankan ia untuk masuk ke pesantren agar pendalaman ilmu agamanya makin kuat. Begitu pula dengan pendapat orang tua Wildan, bahwa mereka menginginkan ia untuk melanjutkan pendidikannya di MTS pesantren. Alasan orang tuanya ingin memasukkan Wildan di MTS pesantren karena ia memiliki potensi yang besar di bidang agama. Akhirnya, Wildan melanjutkan pendidikannya ke pesantren. Namun karena pesantren bukan keinginan sendiri melainkan perintah dari orang tuanya, akibatnya Wildan sering melanggar peraturan yang ada di pesantren.
Banyak drama yang sudah dilalui oleh Wildan selama duduk di bangku pesantren, tetapi ia bisa melewati masa-masa tersebut. Setelah lulus, Wildan menemukan jati dirinya sebagai anak seni. Wildan sangat ingin melanjutkan ke SMK Multimedia agar ia dapat menuangkan jiwa seninya ke dalam sebuah film, gambar, ataupun tulisan. Akhirnya Wildan mengikuti serangkaian tes, dan hasilnya ia diterima di sekolah tersebut. Namun, orang tua Wildan tidak mengizinkannya untuk masuk SMK Multimedia. Oleh karena itu, Wildan memutuskan untuk masuk di SMA Islam atas perintah kedua orang tuanya.
Saat Wildan belajar di SMA Islam, ia berteman akrab dengan Zaidan, Kipli, dan Abdi. Wildan termasuk golongan anak yang nakal di sekolahnya, ia dan sahabatnya sering bermalas-malasan seperti malas belajar, malas mengerjakan PR, tetapi mereka rajin mencontek. Hal ini membuat mereka sering dipanggil oleh guru BK. Namun walaupun begitu, mereka tidak berhenti dari kenakalannya melainkan mereka sangat suka masuk keruangan BK. Guru BK nya bernama Syahliza, ia masih berumur 20 tahun. Jika orang lain takut masuk ke ruang BK, berbeda dengan Wildan dan teman-temannya yang selalu senang ketika dipanggil oleh guru BK. Alasannya, mereka dapat memandangi wajah bu Syahliza yang sangat cantik dan masih muda.
Kepala sekolah sampai bosan melihat daftar nama Wildan dan teman-teman nya yang tercantum di buku BK sebagai siswa bermasalah. Akhirnya kepala sekolah memutuskan mengganti bu Syahliza dengan guru BK yang baru. Sejak saat itulah Wildan dan teman-temannya mulai merubah sikapnya untuk menjadi lebih baik. Langkah awal dalam mewujudkan perubahan, Wildan mendaftarkan dirinya untuk menjadi ketua OSIS. Walaupun Wildan sudah tidak terkenal baik, tetapi ia mempunyai mimpi yang besar untuk menjadi ketua OSIS. Ketika pemilihan ketua OSIS berlangsung ternyata Wildan gagal, ia tidak terpilih menjadi ketua melainkan hanya menjadi anggota di organisasi tersebut.
Setelah lulus dari SMA, Wildan tidak melanjutkan pendidikannya, melainkan ia bekerja di youtube rewind Depok. Ia mengembangkan karirnya di dunia digital karena sejak dari dulu Wildan sangat suka dengan seni. Akhirnya keinginannya pun tercapai untuk menuangkan jiwa seninya ke dalam sebuah video maupun film. Dengan keahliannya tersebut, Wildan mendapatkan job sebagai editor youtube dari seseorang artis terkenal yaitu Ria Ricis. Wildan pun bergabung bersama Ricis Official. Sejak saat itu, mimpi mimpi nya mulai tercapai.
Dalam akhir ceritanya, Wildan memberikan motivasi yaitu "Dari kopi kita belajar pahitnya kehidupan, dari air zamzam kita belajar berkahnya kehidupan. Tinggal pilih mana yang baik untukmu". Maksudnya adalah dalam kehidupan selalu ada dua hal yang akan terjadi, yaitu hal yang baik maupun sedikit pahit. Namun, hal pahit sekalipun akan bisa dinikmati jika kita mau mensyukuri dan hal baik akan terasa lebih baik jika kita mau lebih bersyukur. Semua bergantung cara kita dalam menjalani dan sejauh mana bisa dinikmati.
Buku ini sangat cocok untuk memotivasi bagi pembacanya. Banyak sekali pembelajaran yang dapat diambil dari setiap ceritanya. Pembelajaran yang dapat diambil dari buku ini adalah selalu bersemangat dalam menggapai mimpi mimpi. Jangan pernah patah semangat. Hadapi semua cobaan dan jangan pernah takut gagal dalam menggapai semua mimpi. Jika mengalami suatu kegagalan maka bangkitlah, karena menggapai sebuah mimpi tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Banyak kelebihan yang didapatkan dalam buku ini. Mulai dari penggunaan bahasa yang ringan dan jelas sehingga mudah dipahami oleh pembacanya. Terdapat motivasi serta pembelajaran yang dapat diambil. Selain itu, penulis juga menjelaskan dengan detail latar yang ada dalam cerita. Pada dasarnya buku ini hampir tidak memiliki kelemahan. Hal ini disebabkan karena penulis dengan cerdas menggambarkan keruntutan alur dari sebuah cerita tersebut.
Periview:
Maulidatul Hasanah mahasiswa prodi farmasi fakultas ilmu kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang
